Tawaf dan Sa’i, Rukun Utama Haji dan Umrah yang Wajib Dipahami

Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran secara berlawanan arah jarum jam. Ibadah ini dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Setiap putaran dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban.

oleh nugroho purboDiterbitkan 14 Desember 2025, 17:30 WIB
Jemaah haji mengelilingi Kabah di Masjidil Haram, Makkah, Arab Saudi, Sabtu (1/7/2023). Jemaah haji melaksanakan tawaf ifadah usai melaksanakan puncak ibadah haji di Padang Arafah, Muzdalifah, dan Mina. (AP Photo/Amr Nabil)

Liputan6.com, Jakarta - Tawaf dan sa’i merupakan rukun utama dalam ibadah haji dan umrah yang tidak boleh ditinggalkan. Kedua ibadah ini menjadi inti perjalanan spiritual jamaah selama berada di Tanah Suci. Tanpa tawaf dan sa’i, pelaksanaan haji dan umrah dinilai tidak sempurna.

Tawaf dilakukan dengan mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh putaran secara berlawanan arah jarum jam. Ibadah ini dimulai dari Hajar Aswad dan berakhir di titik yang sama. Setiap putaran dilakukan dengan penuh kekhusyukan dan ketertiban.

Sa’i dilaksanakan setelah tawaf dengan berjalan antara Bukit Shafa dan Marwah. Jumlah sa’i adalah tujuh kali perjalanan yang dihitung dari Shafa ke Marwah. Rangkaian sa’i dimulai dari Shafa dan diakhiri di Marwah.

 

Pengertian dan Tata Cara Tawaf

Suasana ibadah tawaf jemaah haji dari berbagai negara, termasuk Indonesia di Masjidil Haram, Makkah. (FOTO: MCH PPIH ARAB SAUDI 2023)

Tawaf melambangkan kepatuhan dan ketundukan total kepada Allah SWT. Seluruh jamaah bergerak serempak tanpa membedakan latar belakang, status, maupun kebangsaan. Hal ini menunjukkan persamaan manusia di hadapan Allah.

Setiap memulai putaran tawaf, jamaah disunnahkan bertakbir. Jika memungkinkan, jamaah menghadap Hajar Aswad sebagai tanda awal tawaf. Bacaan “Bismillāh, Allāhu akbar” dianjurkan sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Selama melaksanakan tawaf, jamaah bebas membaca doa apa saja. Tidak ada bacaan khusus yang diwajibkan pada setiap putaran. Jamaah dianjurkan menyesuaikan doa dengan kebutuhan dan hajat masing-masing.

 

Doa yang Dianjurkan Saat Tawaf

Masjidil Haram kembali dipadati jemaah setelah rangkaian puncak ibadah haji berakhir. Jemaah berjubel melaksanakan sai dari bukit Safa ke Marwa. (Liputan6.com/Nafiysul Qodar)

Doa yang sering dibaca antara Rukun Yamani dan Hajar Aswad adalah doa sapu jagat. Doa ini mencakup permohonan kebaikan dunia dan akhirat. Banyak jamaah mengamalkannya karena maknanya yang menyeluruh.

Ulama sepakat bahwa inti tawaf adalah kekhusyukan hati. Bacaan doa tidak harus seragam dan tidak memberatkan jamaah. Yang terpenting adalah kehadiran hati dan ketundukan kepada Allah SWT.

Makna dan Pelaksanaan Sa’i

Sa’i meneladani perjuangan Siti Hajar saat mencari air untuk Nabi Ismail. Ibadah ini menjadi simbol ikhtiar manusia dalam menghadapi kesulitan hidup. Di dalamnya juga terkandung nilai tawakal kepada Allah SWT.

Saat berada di Bukit Shafa, jamaah dianjurkan menghadap Ka’bah. Jamaah membaca kalimat tauhid sebagai penguatan iman. Bacaan ini diulang sebanyak tiga kali.

Di antara Bukit Shafa dan Marwah, jamaah dianjurkan memperbanyak doa dan dzikir. Tidak ada bacaan wajib yang harus dibaca selama perjalanan sa’i. Jamaah diberikan keleluasaan untuk berdoa sesuai keinginan.

 

Doa yang Dianjurkan Saat Sa’i

Jemaah haji seluruh dunia melakukan sai di Kompleks Masjidil Haram sebagai salah satu rukun ibadah haji dan umrah. (dok. Liputan6.com/MCH 2025/Dinny Mutiah)

Salah satu doa yang sering dibaca saat sa’i adalah doa permohonan ampun dan petunjuk. Doa ini mencerminkan harapan agar hidup berada di jalan yang lurus. Jamaah membacanya dengan penuh harap dan kerendahan hati.

Sa’i dinyatakan sah jika dilakukan tujuh kali secara berurutan. Urutan dari Shafa ke Marwah harus diperhatikan dengan benar. Jika sa’i tidak dikerjakan, maka haji dan umrah dianggap tidak sempurna.

Tawaf dan sa’i bukan sekadar rangkaian ritual ibadah semata. Keduanya mengandung makna spiritual yang mendalam bagi jamaah. Dengan memahami tata cara dan doa tawaf serta sa’i, jamaah diharapkan dapat beribadah dengan lebih khusyuk dan tertib.

 

 

People Also Ask

  1. 1. Apakah doa tawaf harus dibaca sesuai putaran?Tidak. Jamaah boleh membaca doa apa saja selama thawaf.

2. Apakah sa’i sah tanpa membaca doa tertentu?Sah. Doa sa’i bersifat sunnah, bukan syarat sah.

3. Apakah wanita boleh berlari kecil saat sa’i?Tidak. Lari kecil hanya disunnahkan bagi laki-laki.

4. Apakah boleh membaca Al-Qur’an saat tawaf dan sa’i?Boleh. Membaca Al-Qur’an termasuk amal yang dianjurkan.

5. Apakah tawaf dan sa’i wajib dalam umrah?Wajib. Keduanya merupakan rukun umrah yang tidak boleh ditinggalkan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya