Menko Zulkifli Hasan Akui Dukung Prabowo 3 Kali, Ini Alasannya

Menko Zulkifli Hasan menilai keberhasilan Prabowo kali ini tak lepas dari keteguhan menjaga garis perjuangan, terutama dalam mewujudkan kedaulatan nasional.

oleh Tira SantiaDiterbitkan 08 Desember 2025, 15:00 WIB
Satu Tahun Pemerintahan Prabowo, Menko Pangan Zulkifli Hasan Umumkan Impor Beras Nol Persen. (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan secara terbuka mengakui dirinya telah mendukung Prabowo Subianto dalam tiga kali pemilihan presiden.

Namun, dari seluruh kontestasi tersebut, kemenangan baru dirasakan pada Pilpres 2024. Menurut Zulhas, kemenangan ini bukan sekadar soal momentum politik, melainkan buah dari konsistensi dalam memperjuangkan cita-cita dan platform perjuangan yang diyakini sejak awal.

"Saya ini pendukung Prabowo tiga kali baru kali ini menang baru kali ini terpilih kenapa karena kita setia pada cita-cita, setia pada platform, setia ada perjuangan," kata Zulkifli Hasan dalam acara Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi, di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Zulhas mengatakan, selama 28 tahun era reformasi, Indonesia telah mencatat banyak kemajuan, namun juga menyisakan pekerjaan rumah besar yang perlu dievaluasi secara serius.

Ia menilai keberhasilan Prabowo kali ini tak lepas dari keteguhan menjaga garis perjuangan, terutama dalam mewujudkan kedaulatan nasional.

Pria yang akrab disapa Zulhas ini menegaskan, platform perjuangan Prabowo sejak lama konsisten ingin mengembalikan cita-cita Indonesia merdeka yang utuh, yakni berdaulat secara politik dan ekonomi.

Salah satu pilar utama dari kedaulatan tersebut adalah swasembada pangan. Menurutnya, swasembada bukan semata isu teknis pertanian, tetapi menyangkut kehormatan bangsa.

"Dalam paradoks Indonesia yang sudah ditulis sebenarnya kita sudah melihat di situ platform Perjuangan Pak Prabowo itu, ingin sekali mengembalikan Kita cita Indonesia merdeka itu, kedaulatan ekonomi, Kedaulatan sama Swasembada pangan, Swasembada itu kedaulatan kedaulatan itu kehormatan," ujarnya.

 

Arah Pemerintahan Prabowo

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan memaparkan capaian sektor pangan pada tahun pertama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di Gedung Graha Mandiri, Jakarta, Selasa (21/10/2025). (merdeka.com/Arie Basuki)

Lebih lanjut, Zulhas menyoroti masih tingginya ketergantungan Indonesia terhadap impor, khususnya di sektor pangan. Ia menilai hal ini menjadi tantangan besar yang harus dijawab pemerintahan Prabowo ke depan. Karena itu, kebijakan utama presiden terpilih diarahkan untuk mengembalikan kekuatan negara, seperti yang pernah dirasakan Indonesia di masa lalu.

Zulhas mengenang periode sebelum krisis moneter 1998–1999, ketika Indonesia dikenal sebagai “Macan Asia”. Saat itu, Indonesia mampu membangun industri strategis seperti Krakatau Steel, IPTN pesawat terbang, PT PAL untuk kapal laut, industri petrokimia dan pupuk, hingga memiliki satelit Palapa.

"Oleh karena itu kebijakan utama presiden bagaimana negara itu kuat seperti dulu jaman ayahnya beliau kita sudah bangga jaman itu disebut macan Asia kita punya Krakatau steel sudah mampu duluan daripada yang lain-lain," ujarnya.

 

Biaya Produksi Pangan yang Tinggi di RI

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam acara Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi, di Jakarta, Senin (8/12/2025). (Liputan6.com/Tira)

Adapun Zulhas mengungkapkan biaya produksi pangan di Indonesia masih jauh tertinggal dibanding negara-negara tetangga. Untuk menghasilkan 1 kilogram beras, petani Indonesia harus mengeluarkan biaya sekitar Rp 13.000, sementara di Vietnam ongkos produksi hanya berkisar Rp 4.000 per kilogram.

"Saya ambil satu contoh kalau kita rakyat kita ini makan nasi dia beli beras untuk mendapatkan 1 kg beras dia mesti membayar Rp 14.000 karena untuk memproduksi 1 kg beras itu kita ongkosnya itu Rp 13.000 Vietnam untuk memproduksi ongkos 1 kg beras itu Rp 4000 nah jauh," kata Zulkifli Hasan dalam acara Arah Bisnis 2026: Menuju Kedaulatan Ekonomi, di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Kondisi serupa juga terjadi pada komoditas gula. Thailand disebut hanya membutuhkan ongkos sekitar Rp 3.000 untuk memproduksi 1 kilogram gula, sedangkan Indonesia harus merogoh biaya Rp 13.000 hingga Rp 15.000 per kilogram. Selisih yang lebar ini membuat produk pangan domestik kalah bersaing.

"Thailand itu untuk memproduksi 1 kg gula butuh Rp 3000, Kita untuk menghasilkan 1 kg gula itu ongkosnya Rp 13.000 sampai Rp 15.000 jauh sekali enggak mungkin kita akan maju karena jauh sekali sulit," jelasnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya