Liputan6.com, Tel Aviv - Perusahaan-perusahaan pertahanan Israel menawarkan sistem senjata kepada lusinan negara Eropa dan Asia dengan menyoroti peran sistem tersebut dalam serangan Israel terhadap warga Palestina di Gaza.
Pekan Teknologi Pertahanan Israel berlangsung pada hari Senin (1/12/2025) dan Selasa (2/12). Acara ini sebagian disponsori oleh kementerian pertahanan negara tersebut bersama Universitas Tel Aviv.
Advertisement
Menurut The Wall Street Journal (WSJ), setidaknya satu video ditampilkan dalam acara tersebut yang memperlihatkan dua drone serang Israel terbang menuju sebuah bangunan di Gaza sebelum kepulan asap muncul.
Perang Israel di Gaza dimulai setelah serangan yang dipimpin Hamas terhadap Israel selatan pada 7 Oktober 2023, yang diklaim Israel menewaskan sekitar 1.200 orang. Pada hari yang sama, Israel memulai respons militer yang sangat keras, yang hingga kini telah menewaskan lebih dari 70.100 warga Palestina—sebuah operasi yang oleh puluhan pakar hak asasi manusia, para pemimpin dunia, sejarawan, dan Perserikatan Bangsa-Bangsa disebut sebagai genosida.
Adapun acara pertahanan Israel tersebut menarik lebih dari 2.000 peserta, termasuk dari luar negeri.
Perwakilan negara-negara Asia, termasuk Uzbekistan, Singapura, dan India, hadir menurut WSJ, begitu pula beberapa negara Eropa yang telah berupaya menunjukkan bahwa mereka menjaga jarak dari Israel.
Partisipasi mereka dalam acara itu menunjukkan betapa dangkalnya kecaman terhadap Israel.
Sebagai contoh, pejabat Israel dilarang oleh pemerintah Inggris untuk menghadiri pameran persenjataan utama negara itu di London. Pemerintah mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa pejabat Israel tidak akan diizinkan hadir karena serangan Israel yang terus berlanjut di Gaza. Namun, puluhan perusahaan persenjataan Israel yang memiliki keterkaitan dengan pemerintah tetap diizinkan untuk berpartisipasi.
Minggu lalu, pejabat kedutaan Inggris mengunjungi Pekan Teknologi Pertahanan Israel, melihat sistem senjata dan teknologi militer Israel yang dipasarkan, sebagian, berdasarkan peran teknologi tersebut dalam serangan Israel di Gaza dan Lebanon.
Kedutaan Inggris di Israel mengonfirmasi kepada WSJ bahwa para pejabatnya menghadiri acara itu.
Contoh lainnya adalah Norwegia, yang pejabatnya juga menghadiri pameran senjata tersebut.
Pada bulan Agustus, pengelola dana kekayaan negara Norwegia — dana pemerintah terbesar di dunia — mengumumkan bahwa mereka telah menarik seluruh investasi dari perusahaan alat berat Amerika Caterpillar Inc serta dari lima bank Israel. Keputusan ini diambil karena perusahaan-perusahaan tersebut dinilai terlibat dalam pelanggaran hak asasi manusia di Gaza.
Pihak pengelola dana kekayaan negara Norwegia yang bernilai USD 1,9 triliun itu menjelaskan bahwa keputusan untuk menarik investasi diambil setelah menerima rekomendasi dari dewan etik. Dewan etik menilai bahwa semua perusahaan itu turut berkontribusi pada pelanggaran serius terhadap hak-hak individu dalam situasi perang dan konflik.
Namun, menurut WSJ, pejabat Norwegia turut menghadiri Pekan Teknologi Pertahanan Israel.
Popularitas Global Merosot, Ekspor Senjata Melonjak
Israel telah mengalami penurunan popularitas sejak perang di Gaza dimulai. Sebuah jajak pendapat yang dirilis Pew pada Juni menunjukkan bahwa, dari Italia hingga Jepang, sebagian besar masyarakat dunia kini memandang Israel secara negatif.
Perubahan sikap ini juga terlihat di Amerika Serikat, terutama di kalangan anak muda dari spektrum politik kiri maupun kanan. Dalam jajak pendapat Pew pada April, ditemukan bahwa kalangan Republikan muda—mereka yang berusia di bawah 50 tahun—kini lebih sering memiliki pandangan tidak menyukai Israel, dengan 50 persen responden menunjukkan ketidaksukaan. Sementara itu, tingkat dukungan di antara pemilih Demokrat sudah lebih rendah bahkan sebelum peristiwa 7 Oktober 2023.
Meski citra internasionalnya merosot, pemerintah di berbagai negara tetap menunjukkan minat kuat terhadap teknologi dan perlengkapan militer Israel.
Menurut Kementerian Pertahanan Israel, nilai ekspor senjata negara tersebut mencapai rekor tertinggi sebesar USD 14,7 miliar pada 2024. Lonjakan ini termasuk peningkatan besar dalam kesepakatan dengan negara-negara Arab. Sekitar 57 persen kontrak yang ditandatangani pada 2024 merupakan "mega-deal" bernilai setidaknya USD 100 juta dan kementerian menjelaskan dalam pernyataannya pada Juni bahwa "pencapaian operasional" Israel dalam perang di Gaza turut mendorong tingginya permintaan.
Penjualan ke negara-negara Arab yang menandatangani perjanjian normalisasi dengan Israel—Abraham Accords—meningkat dari tiga persen pada 2023 menjadi 12 persen pada tahun berikutnya. Namun, Eropa tetap menjadi pasar terbesar, menyerap 54 persen ekspor Israel.
Pada minggu ini, Israel secara simbolis menyerahkan sistem pertahanan rudal jarak jauh Arrow 3 kepada Angkatan Udara Jerman dalam upacara di sebuah pangkalan udara di selatan Berlin. Pembelian sistem pencegat rudal senilai USD 4,6 miliar itu merupakan kesepakatan ekspor pertahanan terbesar dalam sejarah Israel, setelah perjanjian awalnya ditandatangani pada September 2023.
Di Eropa Timur dan Tengah, banyak negara mulai memperkuat kembali persenjataan mereka setelah invasi Rusia ke Ukraina. Pada Juli, Rumania mengumumkan rencana pembelian sistem pertahanan udara senilai USD 2 miliar dari Rafael, perusahaan pertahanan Israel.
Di kawasan yang lebih dekat, Yunani juga telah membeli perlengkapan militer Israel bernilai jutaan dolar. Walaupun secara historis memiliki kedekatan dengan Palestina, hubungan Yunani dan Israel dalam beberapa tahun terakhir semakin erat, dipicu oleh kekhawatiran bersama terhadap Turki. Pada Kamis (4/12) malam, sebagaimana dilaporkan Reuters, parlemen Yunani menyetujui pembelian 36 sistem peluncur roket PULS senilai USD 757,84 juta dari Israel.