Cloudflare Down Secara Global, Layanan Canva hingga Zoom Error

Cloudflare mengalami gangguan global yang membuat berbagai layanan digital tidak bisa diakses. Pengguna ramai mengeluh di platform X dan meminta perusahaan memberi penjelasan. Layanan kini berangsur normal.

oleh YusliansonDiterbitkan 05 Desember 2025, 16:45 WIB
Cloudflare Down Secara Global, Layanan Canva hingga Zoom Error. (Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Cloudflare tumbang di seluruh dunia, di mana banyak pengguna melaporkan tidak bisa mengakses beragam layanan, seperti Canva hingga Downdetector. 

Akibatnya, banyak pengguna melampiaskan kemarahan dan keluh kesah mereka ke media sosial (medsos) X. "cloudflare down again," tulis @crystalsssup.

Akun medsos @Skipdesk menulis, "huge server disruption across the world now available on status page too @Cloudflare has fallen."

Terkait Cloudflare down, perusahaan mengatakan sedang melakukan penyelidikan masalah di Dashboard dan Application Programing Interface (API) terkait.

Ini merupakan gangguan kedua dalam hampir sebulan. Pada bulan November, Cloudflare error mengakibatkan sejumlah layanan di internet, mulai dari Spotify, Canva, hingga Zoom error.

Walau saat ini Cloudflare sudah berangsur normal, banyak warganet menyayangkan dan merasa kesal pekerjaan dan bisnis mereka terkena dampak.

Tak sedikit pula warganet menuntut jawaban dan mendesak perusahaan internet tersebut untuk segera memperbaiki masalah, sehingga tidak berulang lagi terjadi.

Sebelumnya, Cloudflare sempat tumbang dalam waktu lama sehingga mengakibatkan hampir seluruh layanan online di berbagai negara, termasuk Indonesia tumbang.

CEO sekaligus salah satu pendiri Cloudflare, Matthew Prince, menyebut insiden tersebut sebagai gangguan paling berat sejak 2019.

Matthew menjelaskan Cloudflare error berawal dari sistem Bot Management. "Fitur ini biasanya bertugas mengatur dan membatasi bot yang mengakses situs melalui layanan Content Delivery Network (CDN) mereka," sebagaimana dikutip dari newsroom perusahaan, Rabu (19/11/2025).

 

CEO Cloudflare Buka Suara soal X Twitter hingga ChatGPT Down

Perusahaan keamanan dan infrastruktur internet itu menyatakan, sekitar 20 persen lalu lintas web global bergantung pada jaringan Cloudflare. Namun alih-alih menjaga stabilitas, sistem tersebut justru tumbang secara bersamaan.

Layanan seperti X (Twitter), ChatGPT, hingga situs pemantau gangguan Downdetector sempat tidak bisa diakses selama beberapa jam, mengingatkan dengan gangguan serupa yang pernah dipicu masalah layanan Microsoft Azure dan Amazon Web Services.

Cloudflare menegaskan, kejadian ini tidak terkait AI generatif, DNS, atau serangan siber. Masalah inti muncul dari perubahan perilaku query database ClickHouse dipakai untuk menilai pola bot. 

Matthew mengatakan, “sistem machine learning Cloudflare menggunakan file konfigurasi yang diperbarui terus-menerus untuk memberikan skor bot pada setiap permintaan."

"File ini mengenali karakteristik yang menunjukkan aktivitas bot, dan akhirnya berakibat file tersebut berisi banyak dupikasi baris fitur," katanya.

Langkah Mitigasi demi Menghindari Gangguan Serupa

Penumpukan data tersebut membuat ukuran file konfigurasi dengan cepat hingga melampaui batas memori yang ditentukan. Dampaknya, sistem proxy inti Cloudflare—yang menangani permintaan trafik dan bergantung pada modul bot, ikut roboh.

Akibatnya, sejumlah pelanggan Cloudflare yang menerapkan aturan pemblokiran bot justru menganggap trafik pengguna asli sebagai bot sehingga akses terputus secara otomatis. Sementara, pelanggan yang tidak menggunakan skor bot dalam aturan mereka tidak terdampak secara langsung.

Untuk mencegah gangguan serupa, Cloudflare menyiapkan empat langkah perbaikan, yakni:

  1. Memperketat proses ingestion file konfigurasi internal seperti halnya input yang dihasilkan pengguna.Mengaktifkan lebih banyak global kill switches untuk mematikan fitur secara cepat saat terjadi kegagalan.
  2. Menghilangkan kemungkinan core dump atau laporan galat lain membebani sumber daya sistem.
  3. Meninjau kembali seluruh skenario kegagalan pada modul proxy inti.

Cloudflare mengakui bahwa semakin terpusatnya layanan internet di beberapa penyedia besar membuat risiko gangguan skala luas semakin tinggi. Meski begitu, perusahaan berharap rangkaian mitigasi baru ini dapat memperkecil kemungkinan terulangnya insiden serupa.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya