Kemenhut dan Polri Bentuk Tim Investigasi Usut Asal-Usul Gelondongan Kayu Saat Banjir Bandang Sumatera

Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Polri membentuk tim investigasi untuk mengusut asal-usul gelondongan kayu yang terbawa arus banjir di wilayah Sumatera. Langkah ini diambil menyusul temuan kayu-kayu besar yang mencurigakan di lokasi bencana, memicu dugaan adanya aktivitas pembalakan liar.

oleh Tim NewsDiterbitkan 04 Desember 2025, 15:46 WIB
Kayu gelondongan besar terbawa arus banjir di Sumatera. (Antara)

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Kehutanan (Kemenhut) bersama Polri membentuk tim investigasi untuk mengusut asal-usul gelondongan kayu yang terbawa arus banjir di wilayah Sumatera. Langkah ini diambil menyusul temuan kayu-kayu besar yang mencurigakan di lokasi bencana, memicu dugaan adanya aktivitas pembalakan liar.

Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni mengatakan, investigasi dilakukan sebagai tindak lanjut nota kesepahaman antara Kemenhut dan Polri. Nantinya, tim akan bekerja sama dengan Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) untuk menelusuri sumber kayu tersebut.

"Bila ditemukan ada unsur pidana maka kami tindaklanjuti dengan proses penegakan hukum setegas-tegasnya," kata Raja Juli dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Kamis (4/12/2025).

Dia juga menyebut arahan dari Menko PMK, Mensesneg, dan Seskab telah mendorong percepatan pengusutan kasus ini agar tidak menjadi preseden buruk dalam pengelolaan kawasan hutan.

Kemenhut Sudah Susur Sungai dengan Drone

Dia menyebut jajaran Kemenhut sudah melakukan penyusuran sungai dengan bantuan drone untuk memantau jalur daerah aliran sungai (DAS) terdampak yang dilewati material kayu tersebut.

Pihaknya juga sudah menggunakan aplikasi Alat Identifikasi Kayu Otomatis (AIKO) untuk melakukan analisis kayu terbawa banjir. Mulai dari jenis kayu, penampakan fisik kayu dan penampakan tanda bekas perlakuan manusia terhadap kayu.

"Data ini menjadi salah satu bagian investigasi yang akan kami tindaklanjuti bersama Polri dan Satgas PKH. Sekali lagi, untuk membuak kepada publik sejujur-jujurnya, seluas-luasnya, setransparansi mungkin dari mana kayu ini berasal," kata Raja Juli, dilansir Antara.

Sebelumnya, pihak Kemenhut juga mengatakan telah mengidentifikasi sejumlah subjek hukum yang berkontribusi terhadap banjir di sejumlah wilayah Sumatera.

Dugaan Sumber Kayu Gelondongan

Longsor yang terjadi di Tapanuli Selatan dan Tapanuli Tengah, Sumatera Utara (Sumut) memunculkan sorotan serius terkait kondisi lingkungan dan praktik pengelolaan hutan di wilayah tersebut.

Setelah bencana, banyak kayu gelondongan besar dan kecil berserakan di lokasi, yang memunculkan pertanyaan apakah kayu tersebut merupakan hasil tebangan manusia atau tumbang alami akibat kejadian alam.

Ahli Kebijakan Hutan dari IPB University Prof Dodik Ridho Nurochmat menjelaskan, kayu-kayu yang terlihat kemungkinan merupakan campuran dari kedua faktor tersebut.

"Dari gambar terlihat potongan kayu berukuran kecil dan besar. Tapi tidak bisa dilihat secara detail apakah potongannya rapi atau akibat tumbang alami," ujar Dodik, melansir laman resmi IPB www.ipb.ac.id, Kamis (4/12/2025).

Penjelasan ini menunjukkan bahwa bencana longsor tidak hanya dipicu oleh faktor alam seperti curah hujan tinggi dan kondisi geologi yang rawan, tetapi juga diperparah oleh aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dia menyebut, kayu gelondongan yang berserakan bukan hanya menjadi tanda kerusakan hutan, tetapi juga mencerminkan bagaimana sisa aktivitas manusia, seperti penebangan pohon yang tidak selesai atau pembersihan lahan yang tidak tuntas, dapat meningkatkan risiko bencana alam ketika kondisi ekstrem terjadi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya