Liputan6.com, Aceh Tengah - Sejumlah warga Takengon korban banjir dan longsor di Kabupaten Aceh Tengah menggeruduk kantor bupati setempat menuntut bantuan sembako dan stok BBM.
Advertisement
Rudi, seorang warga yang datang ke lokasi merasa marah dengan pemda yang sampai saat ini belum melakukan penanganan apapun terhadap korban banjir.
"Apa saja kerja pemerintah ini, sampai hari ini belum ada penanganan apapun. Itu Bupati kalau tidak sanggup mundur saja," kata Rudi.
Aksi tersebut dilakukan warga karena kecewa terhadap pemerintah daerah yang dinilai lambat dalam penanganan bencana di daerah tersebut.
Aksi berlangsung tertib tanpa adanya tindakan anarkis. Warga berharap pemerintah daerah dapat bergerak cepat dalam penanganan bencana banjir dan tanah longsor.
"Sudah seminggu pak, kami masyarakat belum dapat bantuan apapun. Sebutir beras pun kami belum terima," teriak warga dalam kerumunan massa.
Usai banjir dan tanah longsor, saat ini masyarakat masih mengalami krisis pangan dan air bersih. Beras, sembako, gas LPG, dan BBM hilang di pasaran. Listrik juga masih padam total dan jaringan komunikasi juga belum pulih.
Kata BPBD Aceh Tengah
Sebelumnya, Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana (BPBD) Aceh Tengah, Andalila mengatakan bantuan pangan berupa beras baru masuk pada Senin, 1 Desember 2025.
Menurut dia, bantuan beras tersebut hanya sebanyak 6,5 ton untuk wilayah Aceh Tengah. Sedangkan untuk bahan sembako lainnya masih sangat minim.
"Sampai saat ini kita memang masih sangat kekurangan untuk sembako. Beras kemarin ada masuk 13 ton, tapi kita bagi dua dengan Kabupaten Bener Meriah, jadi kita dapat 6,5 ton," kata Andalila.
Dia menuturkan, Aceh Tengah saat ini masih terisolasi dengan akses jalan masuk ke wilayah ini banyak terputus dihantam banjir dan tanah longsor.
"Data sementara, hingga saat ini dilaporkan sebanyak 22 orang meninggal dunia dan 23 orang masih hilang," ungkap Andalila.