Harga Bitcoin 1 Desember 2025 Kembali Tertekan, Ini Pemicunya

Koreksi harga kripto kembali terjadi pada Senin, (1/12/2025). Kunci level support bitcoin (BTC) kini berada di USD 80.000.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 Desember 2025, 19:00 WIB
Aset digital kripto Bitcoin. (Foto by AI)

Liputan6.com, Jakarta - Harga kripto jajaran teratas terutama bitcoin (BTC) anjlok tajam pada Senin, (1/12/2025). Koreksi harga bitcoin membawa momentum aksi jual besar-besaran yang tampaknya telah mereda.

Mengutip data Coinmarketcap Senin, 1 Desember 2025 pukul 18.11 WIB, harga bitcoin turun 5,36% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga bitcoin bertambah 0,61%. Saat ini, harga bitcoin berada di posisi USD 86.485 atau Rp 1,43 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 16.638).

Harga Ethereum (ETH) terpangkas 5,81% dalam 24 jam terakhir. Selama sepekan terakhir, harga ETH naik 1,35%. Saat ini, harga ETH berada di posisi USD 2.836 atau Rp 47,17 juta.

Harga solana (SOL) susut 7,18% dalam 24 jam terakhir. Dalam sepekan terakhir, harga solana turun 1,52%. Kini, harga solana berada di posisi USD 126,94.

Mengutip Yahoo Finance, pasar kripto berada di posisi yang goyah setelah aksi jual selama berminggu-minggu yang dimulai ketika sekitar USD 19 miliar atau Rp 316,06 triliun taruhan leverage dihapuskan pada awal Oktober 2025. Hal itu hanya beberapa setelah bitcoin mencapai level tertinggi sepanjang masa di USD 126.251 atau Rp 2,09 miliar.

Pasar kripto merosot 16,7% dari nilainya pada November, tetapi meredanya tekanan jual membuatnya kembali menguat pekan lalu. Harga bitcoin sempat di atas USD 90.000.

Setelah aksi jual terbaru pada Senin, pelaku pasar bersiap menghadapi pergerakan lebih rendah yang lebih besar.

“Ini adalah awal Desember yang menghindari risiko,” ujar APAC Derivatives Trading Lead FalconX, Sean McNulty.

Ia mengatakan, kekhawatiran terbesar adalah minimnya arus masuk ke exchange traded fund (ETF) bitcoin dan tidak adanya pembeli yang melakukan pembelian dalam kondisi turun.

“Kami memperkirakan hambatan struktural akan berlanjut bulan ini. Kami mengamati USD 80.000 pada bitcoon sebagai level support kunci berikutnya,” ujar dia.

 

Makro Ekonomi Pengaruhi Kripto

Ilustrasi bitcoin (Foto: Unsplash/Aleksi Raisa)

Aset digital juga merasakan pergeseran makro lebih luas di pasar global. Saham Asia berfluktuasi pada awal perdagangan setelah mencapai kenaikan mingguan terbaiknya dalam dua bulan. Sementara itu, indeks berjangka S&P 500 sedikit melemah.

Saham Jepang melemah dan Yen menguat karena Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda mengirimkan petunjung paling jelas tentang kenaikan suku bunga bulan ini.

"Di tingkat makro, kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang menambah tekanan penurunan lebih lanjut, karena investor menilai potensi percepatan pelemahan carry-trade yen, sebuah dinamika yang secara historis membebani aset berisiko global termasuk kripto,” ujar Chief Analyst CoinEx, Jeff Ko.

Pekan depan akan memberikan gambaran penting tentang momentum ekonomi AS karena para pembuat kebijakan mempertimbangkan arah suku bunga menuju 2026.

Data kemungkinan akan membentuk ekspektasi apakah Federal Reserve akan melanjutkan siklus pemangkasan suku bunganya. Presiden AS Donald Trump pada Minggu mengatakan telah memutuskan pilihannya untuk ketua Fed berikutnya, setelah menegaskan mengharapkan calonnya untuk melakukan pemangkasan suku bunga.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

Korea Selatan Curigai Korut di Balik Peretasan Bursa Kripto Upbit

Ilustrasi aset kripto Bitcoin. (Foto By AI)

Sebelumnya, Korea Selatan mencurigai tim Korea Utara (Korut) berada di balik peretasan bursa kripto Upbit yang baru-baru ini menyebabkan penarikan ilegal sebesar 44,5 miliar won atau USD 30,4 juta dalam kripto. Jumlah itu setara Rp 506,87 miliar (asumsi kurs dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di kisaran 16.674).

Demikian mengutip Yahoo Finance dari laporan Kantor Berita Yonhap, Jumat (28/11/2025). Otoritas Korea Selatan sedang memeriksa sistem Upbit dan mencurigai kelompok peretas yang berafiliasi dengan badan intelijen Korea Utara yang dikenal sebagai Lazarus Group. Peretas itu dinilai bursa kripto Upbit menyebabkan penarikan abnormal.

Grup Lazarus telah disalahkan atas sejumlah pencurian kripto dalam beberapa tahun terakhir. Biro Investigasi Federal Amerika Serikat menyebut operasi siber Korea Utara sebagai salah satu ancaman persisten paling canggih.

Peretasan di Upbit pada Kamis menunjukkan indikasi pencurian kripto senilai 58 miliar won atau Rp 657,66 miliar (asumsi won Korea Selatan 11.327 terhadap rupiah) pada 2019 yang terkait dengan Lazarus.

 

Regulator Menyelidiki

Ilustrasi Harga Bitcoin (Source: freepik.com)

Seorang pejabat di tim investigasi kejahatan Siber Badan Kepolisian Nasional Korea Selatan mengatakan, penyelidikan telah dilakukan atas kasus ini tetapi menolak berkomentar lebih lanjut.

The National Intelligence Service atau Badan Intelijen Nasional belum dapat dihubungi.

"Kami sedang menyelidiki penyebab dan skala aliran keluar aset,” ujar pejabat di Dunamu, operator Upbit.

Serangan itu terjadi beberapa jam sebelum raksasa internet Korea Selatan Naver mengumumkan akuisisi Dunamu, operator bursa kripto kripto Upbit. Adapun Upbit merupakan bursa kripto terbesar di Korea Selatan.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya