Liputan6.com, Jakarta - Perwakilan Organization for Econonic Co-operation and Development (OECD) ikut berduka atas musibah bencana yang sedang terjadi Sumatera. Seperti diketahui, banjir bandang dan longsor terjadi Aceh, Sumatera Utara, hingga Sumatera Barat.
Rasa belasungkawa itu disampaikan Director for Financial and Enterprise Affairs OECD, Carmine di Noia sebelum menyampaikan sambutannya dalam OECD Asia Roundtable on Digital Finance 2025, di Bali Beach Convention Center, Sanur, Bali.
Advertisement
"Sebelum saya melanjutkan, saya juga ingin menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada para korban banjir parah yang terjadi dalam beberapa hari terakhir di Indonesia," kata Carmine, Senin (1/12/2025).
Dia menuturkan, bencana Sumatera itu menjadi tanda untuk setiap pihak untuk menanggulangi risiko. Serta turut juga melindungi masyarakat yang terdampak.
"Hal ini juga, menurut saya, merupakan tanda bahwa kita benar-benar harus bekerja untuk mencari cara guna mengurangi risiko ini dan berupaya melindungi masyarakat. Kami sangat menyesal atas kejadian ini, dan saya juga menyampaikannya atas nama OECD," tutur Carmine.
Seperti diketahui, sejumlah wilayah di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat mengalami bencana berupa longsor dan banjir bandang. Ratusan orang dikabarkan turut menjadi korban meninggal dunia.
Korban Meninggal Dunia Bencana Sumatera
Sebelumnya, Jumlah korban meninggal akibat banjir dan tanah longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat terus bertambah menjadi 442 jiwa. Data tersebut dihimpun Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) (1/12/2025)
"Sementara itu untuk total korban hilang di tiga provinsi mencapai 402 jiwa," kata Kepala BNPB Suharyanto dalam keterangan yang dikonfirmasi dilansir Antara.
Dari Pos Pendukung Nasional di Tapanuli Utara tersebut, dia memaparkan di Sumatera Utara, jumlah korban meninggal dunia bertambah menjadi 217 orang setelah tim SAR gabungan menemukan sejumlah korban yang sebelumnya dinyatakan hilang.
Sebaran Korban
Para korban tersebar di Tapanuli Tengah, Tapanuli Selatan, Kota Sibolga, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Pakpak Barat, Kota Padang Sidempuan, Deli Serdang, serta Nias.
Selain itu, ada 209 warga dilaporkan masih hilang setelah banyak keluarga menyampaikan laporan kehilangan kepada petugas posko darurat bencana yang ada di masing-masing provinsi.
Suharyanto menyebutkan bahwa tim petugas gabungan saat ini juga menangani pengungsian yang tersebar di sejumlah titik, antara lain 3.600 jiwa di Tapanuli Utara, 1.659 jiwa di Tapanuli Tengah, 4.661 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 1.378 jiwa di Mandailing Natal.