Sentimen Ini Bayangi Wall Street Sepekan

Berikut sejumlah sentimen yang akan bayangi wall street pada pekan ini. Salah satunya harapan penurunan suku bunga the Federal Reserve (the Fed).

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 01 Desember 2025, 08:30 WIB
Ilustrasi wall street (Photo by Robb Miller on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Fokus investor pada pekan ini akan tetap tertuju kepada kemungkinan penurunan suku bunga pada pertemuan Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve (the Fed). Pelaku pasar memprediksi peluang penurunan suku bunga 25 basis poin sebesar 86,9%. Di sisi lain, analis juga optimistis terhadap pasar saham pada 2026.

Adapun the Fed memasuki minggu tenang sebelum pertemuan the Federal Open Market Committee (FOMC) atau Komite Pasar Terbuka Federal pada 9-10 Desember 2025.

Mengutip Yahoo Finance, Senin (1/12/2025), laporan pekan lalu juga menunjukkan pemerintahan Presiden AS Donald Trump semakin dekat untuk mendapatkan kandidat pengganti Jerome Powell sebagai ketua the Fed yakni Kevin Hassett, Direktur Dewan Ekonomi Nasional. Ia tampaknya muncul sebagai kandidat terdepan sebagai kepala the Fed.

Sementara itu, kalender ekonomi akan lambat setelah penutupan pemerintah AS selama 43 hari yang mengacaukan pengumpulan data yakni laporan swasta tentang aktivitas manufaktur AS, aktivitas sektor jasa dan laporan penggajian swasta bulanan ADP.

Dari sentimen korporasi, sejumlah perusahaan melaporkan kinerja keuangan yakni Dollar Tree, Dollar General dan Five Below. Sementara itu, Salesforce dan CrowdStrike akan menjadi sorotan dari industri teknologi.

Optimisme Wall Street 2026

Investor telah menerima banyak sinyal bearish selama sebulan terakhir. Pelaku  short ternama, Michael Burry dan Jim Chanos, mengkritik perdagangan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan.

Pimpinan Nvidia menerbitkan surat yang tidak diterima dengan baik yang mencoba menegaskan raksasa pembuat chip tersebut sebenarnya tidak memiliki masalah struktural yang sama dengan Enron. Di tempat lain, peritel terbesar AS mencatat hasil yang beragam dalam pendapatan kuartal ketiga karena konsumen tertekan oleh harga yang melambung.

Namun, analis di Wall Street melihat gambaran yang lebih cerah untuk pasar saham ke depannya.

Prediksi S&P di Wall Street

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange saat Ketua Federal Reserve Jerome Powell berbicara setelah mengumumkan kenaikan suku bunga di New York, Amerika Serikat, 2 November 2022. (AP Photo/Seth Wenig)

Analis di JPMorgan memperkirakan S&P 500, yang saat ini berada di level 6.849, akan mencapai level 7.500 pada akhir 2026, sebuah reli hampir 10%. Jika Federal Reserve terus memangkas suku bunga, bank tersebut melihat peluang bagi indeks untuk melampaui level 8.000.

"AS diperkirakan akan tetap menjadi mesin pertumbuhan dunia, didorong oleh ekonomi yang tangguh dan siklus super yang digerakkan oleh AI yang mendorong rekor belanja modal dan ekspansi pendapatan yang pesat," tulis para ahli strategi JPMorgan dalam catatan klien.

Di sisi lain, para ahli strategi HSBC menetapkan target harga 2026 di angka 7.500, sementara Deutsche Bank memperkirakan indeks akan mencapai 8.000. Ketiga perusahaan tersebut mematok prediksi bullish pada perdagangan AI.

"Saat itu [dalam ledakan ekuitas tahun 1990-an], seperti saat ini, teknologi sedang memimpin, konsentrasi imbal hasil tinggi, dan teknologi baru menjanjikan transformasional. Kami memperkirakan ekuitas akan tetap didukung oleh ledakan belanja modal yang dipimpin oleh AI," tulis analis HSBC.

Optimisme di Wall Street pada 2026

Pedagang bekerja di New York Stock Exchange, New York, 10 Agustus 2022. (AP Photo/Seth Wenig, file)

Di Deutsche Bank, analis memperkirakan volatilitas antara saat ini dan apa yang mereka lihat sebagai lingkungan perusahaan yang jelas lebih efisien, dan, pada gilirannya, menghasilkan pendapatan yang lebih tinggi, sebagai hasil dari inovasi AI.

"Mengingat laju kemajuan teknologi, hampir mustahil untuk percaya bahwa hal ini tidak akan menghasilkan peningkatan produktivitas yang signifikan di tahun-tahun mendatang," tulis tim Deutsche Bank.

"Sementara itu, pasar dapat berfluktuasi tajam antara narasi naik-turun, terlepas dari tujuan akhirnya. Jadi, meskipun para ekonom dan ahli strategi global kami sebagian besar tetap positif untuk tahun 2026, perkirakan tidak akan ada jeda dalam volatilitas atau perubahan sentimen."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya