Liputan6.com, Gaza - UNICEF melaporkan pada Sabtu (29/11/2025) bahwa hampir 9.300 anak di bawah usia lima tahun di Gaza didiagnosis mengalami malnutrisi akut parah.
Temuan ini kembali menegaskan krisis kemanusiaan yang memburuk di wilayah tersebut, dikutip dari laman Antara News, Senin (1/12/2025).
Advertisement
"Tingkat malnutrisi yang tinggi terus mengancam nyawa dan kesejahteraan anak-anak di Jalur Gaza, diperburuk oleh cuaca musim dingin yang mempercepat penyebaran penyakit dan meningkatkan risiko kematian bagi anak-anak paling rentan," tulis badan PBB itu dalam pernyataannya.
UNICEF menyoroti terhambatnya pasokan bantuan musim dingin di perbatasan Gaza dan mendesak agar pengiriman bantuan kemanusiaan dilakukan secara aman, cepat, dan tanpa hambatan.
"Dengan musim dingin yang sudah tiba, ribuan keluarga pengungsi masih tinggal di tempat penampungan sementara tanpa pakaian hangat, selimut, atau perlindungan memadai. Hujan deras bahkan membawa sampah dan limbah masuk ke area pemukiman," tambah lembaga tersebut.
Direktur Eksekutif UNICEF, Catherine Russell, mengatakan bahwa meski ada sedikit kemajuan, ribuan anak balita masih mengalami malnutrisi akut, sementara banyak keluarga tidak memiliki akses terhadap tempat berlindung, sanitasi, maupun perlindungan cuaca.
Ia kembali menyerukan pembukaan seluruh penyeberangan menuju Gaza, dengan prosedur izin yang disederhanakan serta prioritas untuk masuknya pasokan kemanusiaan melalui berbagai jalur, termasuk Mesir, Israel, Yordania, dan Tepi Barat.
Peringatan ini muncul di tengah situasi kemanusiaan yang terus memburuk meskipun gencatan senjata telah diberlakukan sejak Oktober.
Gaza Hadapi Musim Dingin
Menurut kantor media pemerintah Gaza, badai musim dingin yang melanda baru-baru ini merusak sekitar 22.000 tenda yang menjadi tempat tinggal keluarga-keluarga pengungsi. Lebih dari 288.000 rumah tangga kini tanpa perlindungan dari dingin dan hujan.
Otoritas Gaza memperkirakan wilayah tersebut membutuhkan sekitar 300.000 tenda dan unit rumah prefabrikasi untuk memenuhi kebutuhan hunian dasar warga Palestina, setelah infrastruktur sipil hancur akibat perang yang berlangsung dua tahun.
Sejak Oktober 2023, hampir 70.000 warga Gaza, mayoritas perempuan dan anak-anak, dilaporkan tewas dalam serangan militer Israel. Lebih dari 170.900 orang lainnya terluka, sementara sebagian besar wilayah kantong tersebut hancur.