AirAsia Indonesia Beberkan Tantangan Berat Industri Penerbangan pada 2025

Bos AirAsia Indonesia mengungkapkan keterbatasan armada yang belum kembali ke kapasitas optimal membuat ruang ekspansi terbatas.

oleh Gagas Yoga PratomoDiterbitkan 28 November 2025, 06:00 WIB
(Dok AirAsia)

Liputan6.com, Jakarta - PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) memaparkan sejumlah tantangan signifikan yang masih membayangi kinerja industri penerbangan tahun 2025.

Direktur Utama AirAsia Indonesia, Raden Achmad Sadikin Abdurachman, menyebut tekanan biaya, pelemahan kurs, hingga dinamika geopolitik menjadi faktor yang perlu diantisipasi secara serius oleh perseroan.

Ia menjelaskan, beban operasional pada tahun berjalan meningkat akibat inflasi dan penyesuaian tarif layanan bandara yang menekan struktur biaya maskapai.

“Selama tahun berjalan, Perseroan menghadapi peningkatan beban biaya operasional yang dipicu oleh inflasi serta kenaikan tarif layanan Bandara,” ujarnya dalam acara Public Expose, dikuti pJumat (28/11/2025).

Selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah juga memberi dampak langsung terhadap biaya yang berbasis dolar AS, terutama sewa pesawat, perawatan, dan pembelian suku cadang.

Kondisi ini turut memengaruhi profitabilitas perusahaan di tengah fluktuasi harga avtur yang masih menjadi komponen biaya terbesar dalam operasional penerbangan.

AirAsia Indonesia juga menghadapi keterbatasan jumlah armada aktif yang belum kembali ke kapasitas optimal, sehingga ruang ekspansi rute maupun peningkatan frekuensi penerbangan masih terbatas.

Regulasi tarif domestik ikut menjadi tantangan, karena meski memberikan kepastian industri, aturan batas tarif membatasi fleksibilitas maskapai dalam menyesuaikan harga.

Raden menegaskan kondisi kompetisi yang semakin ketat, baik dari sesama maskapai berbiaya rendah maupun layanan penuh, menuntut AirAsia Indonesia terus berupaya menjaga kualitas layanan serta efisiensi operasional.

“Perseruan beroperasi dalam landscape kompetisi yang intense,” katanya.

Di luar faktor tersebut, perseroan juga mencermati dinamika geopolitik di kawasan Asia yang berpotensi memengaruhi stabilitas rute internasional dan minat perjalanan penumpang. AirAsia Indonesia memastikan pemantauan terhadap perkembangan regional terus dilakukan untuk menjaga kelancaran operasional dan pelayanan.

 

AirAsia Indonesia Bidik Pertumbuhan Penumpang 32% pada 2026

Maskapai penerbangan Airasia. dok: Indonesia Airasia

Sebelumnya diwartakan bahwa PT AirAsia Indonesia Tbk (CMPP) menyiapkan serangkaian target agresif untuk tahun 2026, seiring optimisme perseroan terhadap peningkatan kinerja setelah capaian positif selama 2025.

Direktur Utama AirAsia Indonesia Raden Achmad Sadikin Abdurachman menyampaikan, perusahaan akan memperkuat fundamental bisnis, meningkatkan daya saing, dan memperluas jangkauan rute sebagai bagian dari strategi pertumbuhan tahun depan.

Menurutnya, sejumlah indikator operasional utama telah ditetapkan, termasuk peningkatan tingkat keterisian kursi (load factor) dan ketepatan waktu penerbangan.

“Pertama, terkait target operasional perseroan menetapkan load factor atau tingkat keterisian kursi lebih dari 85% Pada tahun 2026 sebagai salah satu indikator utama performa perseroan,” ujar Achmad dalam acara Public Expose, Kamis (27/11/2025).

AirAsia Indonesia juga memasang target on-time performance (OTP) di atas 85% pada 2026. Dari sisi kapasitas, perusahaan berencana meningkatkan jumlah kursi hingga 30% dibandingkan proyeksi 2025.

Porsi rute internasional akan diperbesar hingga 64%, sedangkan rute domestik diperkirakan berada di kisaran 36%. Adapun jumlah penumpang diproyeksikan tumbuh sekitar 32% pada 2026.

“Sedangkan itu, jumlah penumpang pada tahun 2026 diharapkan tumbuh sekitar 32% dibandingkan proyeksi tahun sebelum,” katanya.

Ekspansi Rute di Sulawesi

Pesawat AirAsia rute Kuala Lumpur - Labuan Bajo mendarat di Bandara Internasional Labuan Bajo, Selasa, 3 September 2024. (dok. AirAsia)

Untuk memperkuat pangsa pasar, AirAsia Indonesia akan mengembangkan koneksi domestik dan memperkuat fungsi feeder internasional melalui virtual hub di Makassar. Perusahaan juga menyiapkan ekspansi rute di Sulawesi, menghubungkan kota-kota seperti Palu, Kendari, dan Luwu dengan Makassar serta Surabaya.

Dari sisi komersial, perseroan akan memperluas kerja sama distribusi dengan agen perjalanan online maupun offline, serta meningkatkan kontribusi pendapatan non-tiket melalui layanan tambahan, termasuk seat bundle, in-class service, dan dynamic bundle via platform AirAsia Move.

Pada aspek operasional, efisiensi menjadi fokus utama. Perusahaan akan memaksimalkan utilisasi armada melalui penjadwalan yang lebih optimal untuk menekan CASK, sekaligus meningkatkan profitabilitas.

Penambahan Armada

Penambahan armada di Medan juga disiapkan guna memperkuat penerbangan internasional dan mendorong pertumbuhan volume penumpang pada pasar dengan permintaan tinggi.

AirAsia Indonesia optimistis strategi tersebut mampu mendorong pertumbuhan berkelanjutan serta memperkuat posisi perseroan di industri penerbangan regional.

   

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya