7 Fakta Terkait Bencana Banjir dan Longsor di Sumut, Tiga Daerah Berstatus Tanggap Darurat Bencana

Sebanyak empat wilayah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diterjang bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem yang terjadi berturut-turut pada Senin 24 November 2025 hingga Selasa 25 November 2025.

oleh Devira PrastiwiDiterbitkan 27 November 2025, 16:45 WIB
Bencana banjir dan longsor landa 4 Kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut). (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Sebanyak empat wilayah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diterjang bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem yang terjadi berturut-turut pada Senin 24 November 2025 hingga Selasa 25 November 2025.

Ada pun wilayah terdampak meliputi Kabupaten Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

"Selain korban jiwa, peristiwa ini juga mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat," kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari, Rabu 26 November 2025.

Hasil laporan sementara yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Rabu 26 November 2025, pukul 07.00 WIB, dari Kabupaten Sibolga, cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras dalam durasi lebih dari dua hari telah memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Kemudian, sebanyak 13 korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi pada tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Data tersebut diperbarui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut pukul 08.00 WIB, Rabu 26 November 2025.

"Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota," ucap Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Provinsi Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan dilansir Antara, Rabu 26 November 2025.

Sri Wahyuni melanjutkan, belasan korban meninggal dunia berada dua kabupaten di Sumatera Utara. Terdiri atas sembilan korban meninggal dunia di Kabupaten Tapanuli Selatan, di antaranya enam orang di Kecamatan Batangtoru, satu orang di Kecamatan Sipirok, dan satu orang di Kecamatan Angkola Barat.

Tiga daerah di provinsi Sumatera Utara pun kini menetapkan status tanggap darurat bencana. Berdasarkan laporan yang diterima di Medan, Kamis (27/11/2025), tiga daerah yang telah membuat SK tanggap darurat yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal.

Status tanggap bencana Kabupaten Tapanuli Utara berlaku sejak 25 November-9 Desember dengan Nomor 552 Tahun 2025.

Sedangkan, Kabupaten Tapanuli Selatan berlaku sejak 24 November-7 Desember 2025 dengan No. 100.3.7.2/575/ dan Kabupaten Mandailing Natal berlaku 26 November hingga 9 Desember 2025 dengan No.360/1065/k/.

Berikut sederet fakta terkait bencana banjir dan longsor yang melanda Provinsi Sumatera Utara (Sumut) dihimpun Tim News Liputan6.com:

 

1. Banjir dan Longsor Terjang Sumut: 4 Wilayah Terdampak, 8 Orang Meninggal di Tapanuli Selatan

Total tercatat ada 86 kejadian bencana hidrometeorologi di 11 kabupaten/kota di Sumut selama tiga hari belakangan, yang menyebabkan 24 orang meninggal dunia. (Liputan6.com/ Reza Efendi)

Empat wilayah kabupaten di Provinsi Sumatera Utara (Sumut) diterjang bencana banjir dan longsor akibat cuaca ekstrem yang terjadi berturut-turut pada Senin 24 November 2025 hingga Selasa 25 November 2025.

Adapun wilayah terdampak meliputi Kabupaten Sibolga, Tapanuli Utara, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan.

"Selain korban jiwa, peristiwa ini juga mengganggu kehidupan dan penghidupan masyarakat,”"kata Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, Rabu 26 Maret 2025.

Hasil laporan sementara yang dihimpun oleh Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BNPB per Rabu (26/11/2025), pukul 07.00 WIB, dari Kabupaten Sibolga, cuaca ekstrem yang ditandai dengan hujan deras dalam durasi lebih dari dua hari telah memicu terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

Wilayah yang terdampak banjir ini meliputi Kelurahan Angin Nauli di Kecamatan Sibolga Utara, Kelurahan Aek Muara Pinang dan Aek Habil di Kecamatan Sibolga Selatan, Kelurahan Pasar Belakang dan Pasar Baru di Kecamatan Sibolga Kota.

Abdul Muhari, menyebut dari laporan visual, banjir mengalir cukup deras dan menghantam rumah, menyeret kendaraan hingga infrastruktur lain yang dilewatinya. Arus air itu juga membawa material seperti lumpur, batang pohon, puing bangunan dan sampah rumah tangga.

Sementara untuk tanah longsor, wilayah terdampak meliputi Kelurahan Angin Nauli, Simare-mare, Sibolga Hilir, Hutabarangan, Huta Tonga dan Sibual-buali di Kecamatan Sibolga Utara.

Berikutnya Kelurahan Parombunan dan Aek Mani di Kecamatan Sibolga Selatan, Kelurahan Pancuran Bambu, Pancuran Dewa dan Pancuran Kerambil di Kecamatan Sibolga Sambas. Selanjutnya Kelurahan Pasar Belakang, Pasar Baru dan Pancuran Gerobak di Kecamatan Sibolga Kota.

"Dari bencana ini, satu warga mengalami luka-luka dan telah mendapatkan perawatan oleh tim kesehatan. Kerugian material untuk sementara mencakup 3 unit rumah terdampak termasuk 1 ruko. Beberapa akses jalan juga terdampak sehingga mengganggu mobilisiasi warga," terangnya.

Abdul Muhari menuturkan, dari wilayah Kabupaten Tapanuli Selatan, bencana banjir dan tanah longsor telah menyebabkan delapan warga meninggal dunia, 58 luka-luka dan 2.851 warga terpaksa harus mengungsi.

Hasil kaji cepat sementara, dua bencana ini telah berdampak di 11 kecamatan yang meliputi Sipirok, Marancar, Batangtoru, Angkola Barat, Muara Batangtoru, Angkola Sangkunur, Angkola Selatan, Sayur Matinggi, Batang Angkola, Tanah Timbangan dan Angkola Muaratais.

"BPBD Tapanuli Selatan bersama tim gabungan mengerahkan alat berat untuk membersihkan material longsor yang menutup sejumlah akses jalan warga," sebutnya lagi.

Sementara itu, sebanyak 50 unit rumah terdampak dan dua jembatan terputus akibat banjir serta tanah longsor di Kabupaten Tapanuli Utara. BPBD dan tim gabungan melakukan pendataan dan merekomendasikan jalur alternatif Pangaribuan-Silantom sebagai akses jalan sementara.

Beralih ke wilayah Tapanuli Tengah, sebanyak 1.902 unit rumah terdampak banjir di 9 kecamatan, antara lain Kecamatan Pandan, Sarudik, Badiri, Kolang, Tukka, Lumut, Barus, Sorkam dan Pinangsori.

BPBD Tapanuli Tengah dan tim gabungan mendirikan tenda pengungsi serta mendistribusikan bantuan sembako kepada warga terdampak.

"Seluruh pendataan seperti jumlah warga dan wilayah terdampak bersifat sementara. Data masih berpotensi mengalami perkembangan sesuai dari hasil kaji cepat lanjutan di lapangan," Abdul Muhari melaporkan.

 

2. Banjir dan Longsor Landa 7 Kabupaten Sumut, 13 Orang Meninggal dan 3 Hilang

Bencana banjir dan longsor di Sumut. Antara

Sebanyak 13 korban meninggal dunia akibat bencana hidrometeorologi pada tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara. Data tersebut diperbarui oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumut pukul 08.00 WIB pagi ini.

"Hingga pukul 08.00 WIB pagi ini terdapat 13 orang dinyatakan meninggal dunia di tujuh kabupaten/kota," ucap Kabid Penanganan Darurat, Peralatan dan Logistik BPBD Provinsi Sumut Sri Wahyuni Pancasilawati di Medan dilansir Antara, Rabu 26 November 2025.

Sri Wahyuni melanjutkan, belasan korban meninggal dunia berada dua kabupaten di Sumatera Utara. Terdiri atas sembilan korban meninggal dunia di Kabupaten Tapanuli Selatan, di antaranya enam orang di Kecamatan Batangtoru, satu orang di Kecamatan Sipirok, dan satu orang di Kecamatan Angkola Barat.

Kemudian, empat korban meninggal dunia yang merupakan warga Desa Mardame, Kecamatan Sitahuis, Kabupaten Tapanuli Tengah, akibat tertimbun material longsor di dalam rumahnya.

BPDB Provinsi Sumut menyatakan, akibat curah hujan pada Sabtu 22 November 2025, hingga Selasa 25 November 2025, mengakibatkan bencana hidrometeorologi berupa meluapnya sejumlah sungai menyebabkan banjir, dan tanah longsor melanda tujuh kabupaten/kota di Sumatera Utara, yakni Tapanuli Tengah, Sibolga, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan, Tapanuli Utara, Nias Selatan, dan Padangsidimpuan.

"Korban yang mengalami luka-luka ada 37 orang, dan tiga orang masih dinyatakan hilang di Tapanuli Selatan. Di Tapanuli Tengah masih dalam pendataan," kata dia.

Pihaknya juga mengungkapkan, total 330 unit rumah rusak di Tapanuli Selatan terdiri atas 12 rusak berat, enam rusak sedang, dan 312 rusak ringan, serta satu unit sekolah rusak.

Sedangkan di Mandailing Natal terdapat pengungsi 561 kepala keluarga atau 2.244 jiwa, 13 unit rumah rusak berat, satu unit sekolah rusak, dan banjir merendam 85 hektare lahan pertanian warga.

Sementara di Tapanuli Utara ada 19 kepala keluarga yang tidur di pengungsian, lima unit rumah rusak berat, 64 unit rumah rusak ringan, dam empat titik ruas jalan rusak, serta satu jembatan terputus.

"Kalau di Nias Selatan satu rumah rusak berat, dan satu ruas jalan terganggu. Di Padangsidimpuan satu korban dinyatakan hilang, dan 220 jiwa tinggal di pengungsian," tutur Sri Wahyuni.

 

3. Banjir Bandang dan Longsor Menyapu Sumut, 24 Orang Tewas, Tapanuli Selatan Paling Terdampak

Banjir bandang di Tapanuli Selatan, Sumut

Wilayah Sumatera Utara (Sumut) dilanda serangkaian bencana hidrometeorologi dengan intensitas tinggi selama 3 hari, terhitung sejak 24 hingga 26 November 2025.

Data rekapitulasi yang dikeluarkan Polda Sumut mencatat total 86 kejadian bencana hidrometeorologi di 11 kabupaten/kota, yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan pengerahan ratusan personel kepolisian untuk penanganan darurat.

Bencana yang paling mendominasi adalah tanah longsor dengan 59 kejadian, diikuti banjir 21 kejadian, pohon tumbang 4 kejadian, dan puting beliung 2 kejadian.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan membenarkan data tersebut, dan menyampaikan duka cita mendalam atas korban yang berjatuhan.

"Bencana alam ini diakibatkan oleh curah hujan yang sangat tinggi di beberapa hari terakhir. Secara keseluruhan, kami mencatat ada 72 korban dalam rentang waktu tersebut, di mana 24 orang meninggal dunia, 37 luka ringan, 6 luka berat, dan masih ada 5 orang dalam pencarian," kata Ferry.

Diketahui, 11 kabupaten/kota yang terdampak meliputi Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Nias Selatan (Nisel), Pakpak Bharat, Serdang Bedagai (Sergai), Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), Nias, Tapanuli Selatan (Tapsel), Humbahas, Kota Padang Sidempuan, dan Kota Sibolga.

Kabid Humas merinci, wilayah yang mencatat jumlah korban meninggal dunia paling banyak berada di Polres Tapanuli Selatan (Tapsel) 20 kejadian bencana dan 49 korban, termasuk 12 meninggal dunia dan 34 luka ringan.

Kemudian, Polres Sibolga 6 kejadian bencana (longsor) dan 12 korban, termasuk 5 meninggal dunia dan 4 orang masih dalam pencarian. Polres Tapanuli Tengah (Tapteng) 14 kejadian bencana dan 5 korban, termasuk 4 meninggal dunia.

"Meskipun cuaca secara keseluruhan masih hujan dengan intensitas tinggi, personel di lapangan terus bekerja keras. Saat ini, debit air di lokasi banjir masih mencapai ketinggian sekitar 1 meter di beberapa titik," katanya.

Untuk penanggulangan bencana, Polda Sumut telah mengerahkan total 492 personel yang terdiri dari Satbrimob (352 Personel), Dit Samapta (121), Bid Dokkes (11), dan Bid TIK (8).

Tindakan kepolisian yang telah dilakukan mencakup melaksanakan TPTKP (Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara) di lokasi bencana. Melakukan evakuasi terhadap korban bencana alam. Melaksanakan pengamanan dan pengaturan di lokasi jalan yang terdampak material longsor. Serta melanjutkan pencarian bersama BPBD dan stakeholder terhadap 5 korban yang belum ditemukan.

Polda Sumut juga telah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan sebagai respons cepat terhadap situasi ini.

"Kami mengimbau kepada masyarakat di seputaran lokasi bencana agar selalu waspada dan antisipatif mengingat situasi cuaca yang belum membaik. Selain melanjutkan pencarian, kami akan berkoordinasi dengan Pemda setempat untuk menyediakan tempat pengungsian dan membangun Posko Darurat Bantuan/Posko Tanggap Bencana sebagai Quick Respond Polri," kata Ferry menutup.

 

4. Duka Bencana Beruntun di Sumut, 11 Kabupaten Porak-poranda Diterjang Banjir dan Longsor

Para napi Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kelas II B Pangkalan Brandan yang berlokasi di Jalan Stasiun, Langkat, saat dievakuasi karena banjir. (Liputan6.com/ Reza Efendi)

Bencana hidrometeorologi berupa banjir, tanah longsor, dan pohon tumbang, menerjang sebagian besar wilayah Sumut dalam tiga hari terakhir. Data rekapitulasi yang dikeluarkan Polda Sumut mencatat, total 86 kejadian bencana hidrometeorologi di 11 kabupaten/kota, yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia.

Bencana yang paling mendominasi adalah tanah longsor dengan 59 kejadian, diikuti banjir 21 kejadian, pohon tumbang 4 kejadian, dan puting beliung 2 kejadian.

Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Pol Ferry Walintukan membenarkan data tersebut, dan menyampaikan duka cita mendalam atas korban yang berjatuhan.

"Bencana alam ini diakibatkan oleh curah hujan yang sangat tinggi di beberapa hari terakhir. Secara keseluruhan, kami mencatat ada 72 korban dalam rentang waktu tersebut, di mana 24 orang meninggal dunia, 37 luka ringan, 6 luka berat, dan masih ada 5 orang dalam pencarian," kata Ferry.

Diketahui sebanyak 11 kabupaten/kota yang terdampak, antara lain Kabupaten Mandailing Natal (Madina), Nias Selatan (Nisel), Pakpak Bharat, Serdang Bedagai (Sergai), Tapanuli Tengah (Tapteng), Tapanuli Utara (Taput), Nias, Tapanuli Selatan (Tapsel), Humbahas, Kota Padang Sidempuan, dan Kota Sibolga.

Ferry merinci, wilayah yang mencatat jumlah korban meninggal dunia paling banyak berada di Polres Tapanuli Selatan (Tapsel) 20 kejadian bencana dan 49 korban, termasuk 12 meninggal dunia dan 34 luka ringan.

Kemudian, Polres Sibolga 6 kejadian bencana (longsor) dan 12 korban, termasuk 5 meninggal dunia dan 4 orang masih dalam pencarian. Polres Tapanuli Tengah (Tapteng) 14 kejadian bencana dan 5 korban, termasuk 4 meninggal dunia.

"Meskipun cuaca secara keseluruhan masih hujan dengan intensitas tinggi, personel di lapangan terus bekerja keras. Saat ini, debit air di lokasi banjir masih mencapai ketinggian sekitar 1 meter di beberapa titik," katanya.

Untuk penanggulangan bencana, Polda Sumut telah mengerahkan total 492 personel yang terdiri dari Satbrimob (352 Personel), Dit Samapta (121), Bid Dokkes (11), dan Bid TIK (8).

Tindakan kepolisian yang telah dilakukan mencakup melaksanakan TPTKP (Tindakan Pertama di Tempat Kejadian Perkara) di lokasi bencana. Melakukan evakuasi terhadap korban bencana alam. Melaksanakan pengamanan dan pengaturan di lokasi jalan yang terdampak material longsor. Serta melanjutkan pencarian bersama BPBD dan stakeholder terhadap 5 korban yang belum ditemukan.

Polda Sumut juga telah menyiapkan sejumlah langkah lanjutan sebagai respons cepat terhadap situasi ini.

"Kami mengimbau kepada masyarakat di seputaran lokasi bencana agar selalu waspada dan antisipatif mengingat situasi cuaca yang belum membaik. Selain melanjutkan pencarian, kami akan berkoordinasi dengan Pemda setempat untuk menyediakan tempat pengungsian dan membangun Posko Darurat Bantuan/Posko Tanggap Bencana sebagai Quick Respond Polri," kata Ferry menutup.

Sementara itu, Basarnas mengintensifkan operasi pencarian dan pertolongan (SAR) korban yang terdampak banjir dan tanah longsor di Sumatera Utara meliputi Kota Sibolga dan Tapanuli Raya, seiring meluasnya titik bencana dan bertambahnya laporan warga hilang.

Kepala Kantor SAR Nias Putu Arga Sudjarwadi dalam keterangan yang dikonfirmasi di Jakarta, Rabu malam (26/11/2025) mengatakan, tim SAR gabungan telah dikerahkan secara penuh dalam 24 jam terakhir ke seluruh titik prioritas untuk mengevakuasi warga yang terjebak banjir maupun tertimbun material longsor.

"Sudah disebar di beberapa titik pada hari kedua operasi SAR digelar," ujarnya.

Operasi SAR melibatkan tim sar gabungan dari Pos SAR Sibolga, TNI/Polri, BPBD, Polairud, serta unsur relawan di Sumatera Utara. Masing-masing dilengkapi peralatan lengkap dan profesional meliputi armada kendaraan SAR darat dan air, peralatan medis, alat komunikasi, dan drone thermal.

Putu mengungkapkan bahwa mulai dari putusnya akses jalan penghubung utama, tingginya gelombang air laut hingga padamnya jaringan listrik dan gangguan jaringan telekomunikasi menjadi tantangan serius yang dihadapi tim petugas gabungan.

"Upaya pencarian tetap dilakukan dengan menyesuaikan kondisi keselamatan petugas," katanya.

Basarnas mengkonfirmasi berdasarkan data pusat pengendalian operasi, banjir bandang - tanah longsor menimbulkan dampak signifikan pada sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah; mulai dari Kecamatan Badiri, Pinangsori, Lumut, Sarudik, Tukka, Pandan, Sibabangun, Tapian Nauli, dan Kolang.

Data terkini sementara mencatat ada lebih dari 1.902 keluarga menjadi korban bencana di Tapanuli Tengah dengan jumlah korban terbanyak di Kecamatan Kolang 1.261 keluarga.

"Satu keluarga berjumlah empat orang dinyatakan meninggal dunia akibat tertimbun longsor," kata Putu.

Sedangkan di Tapanuli Selatan, banjir bandang dan longsor melanda wilayah Aek Ngadol, Hutagodang, Garoga, Batuhoring, dan Hapesong Baru dalam wilayah administrasi Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan. Basarnas mencatat ada sebanyak enam warga meninggal akibat banjir bandang dan tujuh warga terdampak longsor di Parsariran, Hapesong Baru.

Lalu di Kota Sibolga mayoritas korban berada di Kecamatan Sibolga Selatan dengan korban meninggal sementara sebanyak delapan orang, dan 21 orang dilaporkan hilang.

Putu Arga mengungkapkan sedikitnya ada tiga lokasi pengungsian yang disiapkan antara lain GOR Pandan di Tapanuli Tengah, gedung SMPN 5 Parombunan di Kota Sibolga, serta RS Bhayangkara Batang Toru dan lokasi pengungsian desa setempat untuk wilayah Tapanuli Selatan.

 

5. Penjelasan Badan Geologi soal Faktor-Faktor Pemicu Longsor di Sibolga Sumut

Cerita ayah di Sumut bertarung lawan buaya

Badan Geologi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) menyebutkan ada 7 faktor pemicu gerakan tanah atau tanah longsor di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Senin, 24 November 2025.

Menurut Plt Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Lana Saria, faktor pengontrol dan pemicu longsor di Sibolga. Salah satunya curah hujan tinggi dan berlangsung lama sehingga meningkatkan tekanan pori dan menurunkan kohesi tanah.

"Tanah lapukan tebal dan koluvium yang gembur dan mudah jenuh air. Bidang-bidang foliasi atau kekar pada batuan intrusi sebagai bidang gelincir. Granit Sibolga termasuk batuan yang mudah membentuk blok-blok besar setelah lapuk, sehingga rawan mengalami pergerakan blok (block slide) atau runtuhan lokal," terang Lana ditulis Bandung, Kamis (27/11/2025).

Lana menyebutkan pemotongan lereng untuk permukiman dan jalan tanpa penguatan memadai serta drainase lereng yang tidak tertata menyebabkan air mengalir langsung ke tubuh lereng.

Selain itu, beban bangunan pada kaki lereng yang mempercepat ketidakstabilan massa tanah. Ditambah banyak permukiman berada di toe slope dekat pertemuan aliran permukaan, meningkatkan risiko longsor translasi dan debris flow.

"Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Terjadinya Gerakan Tanah Sumatera Utara Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi (PVMBG) Bencana Geologi bulan November 2025, secara umum Kota Sibolga berada pada zona potensi terjadinya gerakan tanah menengah-tinggi yang diartikan bahwa wilayah ini dapat dan atau sering mengalami kejadian gerakan tanah," ungkap Lana.

Gerakan tanah lama dan gerakan tanah baru masih aktif bergerak akibat curah hujan tinggi dan atau getaran. Pada umumnya kisaran kemiringan lereng lebih dari 17 derajat, tergantung pada kondisi geologi setempat dan lereng yang dibentuk oleh bahan timbunan.

Badan Geologi menerbitkan rekomendasi untuk evakuasi sementara bagi warga yang rumahnya berada di radius rawan 20–50 m dari kaki lereng hingga kondisi dinyatakan aman.

"Masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat dan setelah hujan dengan intensitas tinggi," tambah Lana.

Masyarakat juga diminta melakukan pemeriksaan retakan pada lereng dan bangunan di sekitar lokasi terdampak. Sekaligus pemasangan rambu rawan longsor dan penutupan sementara area yang rawan terhadap longsor susulan.

Sejumlah penanganan darurat harus dilakukan usai kejadian tanah longsor, diantaranya mencakup perbaikan drainase lereng, pembersihan jalur aliran air, dan pembuatan saluran kedap air pada punggung lereng.

"Untuk jangka menengah, diperlukan stabilisasi lereng seperti retaining wall, soil nailing, vegetasi dalam, bronjong. Pemetaan detil zona rawan serta penguatan bangunan pada zona peralihan kaki lereng," ungkap Lana.

Sementara rekomendasi untuk jangka panjang harus dilakukan relokasi bertahap bagi permukiman yang berada pada zona sangat rawan, pengendalian tata ruang di kawasan perbukitan, serta monitoring lereng berkala oleh pemerintah daerah.

 

6. Sebanyak 17 Perjalanan KA Srilelawangsa Dibatalkan Akibat Banjir di Sumut

17 Perjalanan KA Srilelawangsa Dibatalkan Akibat Banjir di Sumut

PT Railink menyampaikan banjir pada jalur rel KM 15+5/6 petak jalan Stasiun Medan (MDN)-Stasiun Binjai (BIJ) menyebabkan pembatalan perjalanan KA Srilelawangsa pada Kamis (27/11/2025). Kondisi tersebut menyebabkan jalur tidak dapat dilewati sehingga demi keselamatan operasional.

Tim prasarana KAI saat ini tengah melakukan pemeriksaan, penanganan, dan penguatan jalur di lokasi terdampak guna memastikan kondisi rel benar-benar aman sebelum operasi kembali dibuka.

Manager Komunikasi PT Railink Ayep Hanapi menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh pelanggan atas pembatalan sejumlah perjalanan KA Srilelawangsa akibat kondisi jalur yang terdampak banjir.

“Keselamatan menjadi prioritas utama kami, sehingga perjalanan hanya dapat dilakukan jika kondisi lintas sudah dinyatakan aman oleh petugas. Kami berkomitmen memberikan informasi terbaru secara berkala, dan pelanggan dapat memantau perkembangan melalui channel resmi KAI," kata Ayep dalam keterangannya, Kamis (27/11/2025).

PT Railink mengimbau calon penumpang untuk memantau informasi perjalanan melalui Contact Center 121, aplikasi Access by KAI, serta media sosial resmi.

Daftar 17 perjalanan KA Srilelawangsa yang dibatalkan, sebagai berikut:

a. KA U75 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

b. KA U76 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

c. KA U77 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

d. KA U78 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

e. KA U79 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

f. KA U80 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

g. KA U81 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

h. KA U82 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

i. KA U83 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

j. KA U84 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

k. KA U85 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

l. KA U86 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

m. KA U87 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

n. KA U88 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

o. KA U89 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

p. KA U90 Srilelawangsa (MDN–BIJ)

q. KA U91 Srilelawangsa (BIJ–MDN)

 

7. Dilanda Banjir Bandang dan Longsor, Tiga Daerah di Sumut Berstatus Tanggap Darurat Bencana

banjir bandang di Malalak (Liputan6.com/istimewa)

Tiga daerah di provinsi Sumatera Utara menetapkan status tanggap darurat bencana. Berdasarkan laporan yang diterima di Medan, Kamis (27/11/2025), tiga daerah yang telah membuat SK tanggap darurat yakni Kabupaten Tapanuli Utara, Kabupaten Tapanuli Selatan dan Kabupaten Mandailing Natal.

Status tanggap bencana Kabupaten Tapanuli Utara berlaku sejak 25 November-9 Desember dengan No.552 Tahun 2025.

Sedangkan, Kabupaten Tapanuli Selatan berlaku sejak 24 November-7 Desember 2025 dengan No. 100.3.7.2/575/ dan Kabupaten Mandailing Natal berlaku 26 November hingga 9 Desember 2025 dengan No.360/1065/k/

Pusdalops Sumut mencatat Kabupaten Tapanuli dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor yang tersebar di sejumlah kecamatan yang mengakibatkan 19 kepala keluarga mengungsi.

Kabupaten Tapanuli Selatan juga dilanda bencana banjir bandang dan tanah longsor yang mengakibatkan 3.000 jiwa mengungsi.

Sedangkan Kabupaten Mandailing Natal dilanda bencana bencana banjir bandang, tanah longsor dan cuaca ekstrem yang mengakibatkan 776 mengungsi.

Infografis Waspada Banjir Rob di Pesisir Jakarta. (Liputan6.com/Abdillah)

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya