Liputan6.com, Beijing - Demonstrasi meletus di Provinsi Guizhou, China, menambah panjang daftar aksi protes di pedesaan di seantero negeri.
Melansir The Guardian, protes di Shidong dimulai pada akhir pekan setelah pemerintah setempat mengeluarkan perintah bahwa masyarakat harus dikremasi, bukan dimakamkan, setelah mereka meninggal.
Advertisement
Guizhou adalah provinsi miskin dengan sebagian besar wilayah berupa daerah pedesaan, jauh dari pusat-pusat urban seperti Shenzhen dan Shanghai.
Dalam rekaman yang belum terverifikasi dari protes tersebut, yang dibagikan di X oleh akun pemantau protes Yesterday Big Cat, seorang warga desa terdengar berteriak, "Jika Partai Komunis menggali makam para leluhur, pergi gali dulu makam leluhur Xi Jinping."
Video lain yang dikumpulkan oleh China Dissent Monitor (CDM), sebuah proyek yang dijalankan oleh Freedom House untuk memantau kerusuhan di Tiongkok, menunjukkan puluhan warga desa mengepung sebuah mobil polisi.
Wilayah itu memiliki jumlah penduduk etnis Miao yang cukup besar, sebuah kelompok etnis minoritas yang tradisinya menekankan bahwa orang yang meninggal harus dimakamkan, bukan dikremasi.
Pada hari Selasa (25/11), ketika protes terus berlanjut, pemerintah daerah menerbitkan sebuah pemberitahuan yang menyatakan bahwa aturan untuk mendorong pemakaman alih-alih kremasi didasarkan pada undang-undang tahun 2003. Pemberitahuan itu menyebutkan bahwa kremasi diperlukan untuk menghemat lahan dan mendorong gaya pemakaman baru yang sederhana.
Dalam beberapa tahun terakhir, Tiongkok menghadapi masalah kepadatan pemakaman, dan pemerintah telah mendorong masyarakat untuk mempertimbangkan praktik penguburan alternatif, seperti pelarungan jenazah di laut.
Namun bagi banyak warga pedesaan, pemakaman tradisional adalah bagian penting dari budaya mereka.
Seorang warga dari County Xifeng, wilayah administratif yang membawahi kota Shidong, menulis di media sosial bahwa kakeknya dikremasi awal tahun ini karena tekanan dari pejabat setempat. Ia mengatakan bahwa keluarganya diperingatkan bahwa jika mereka tidak mematuhi aturan tersebut maka akan ada konsekuensi buruk yang menimpa hingga tiga generasi.
Banyak komentar di Douyin, aplikasi berbagi video, menunjukkan dukungan bagi para pemrotes.
"Ya semuanya, mari berdiri dan dukung praktik pemakaman tradisional!" tulis seorang pengguna.
Demo di Pedesaan Meningkat
Tahun ini CDM telah mencatat 661 demonstrasi di pedesaan di Tiongkok, meningkat 70 persen dari keseluruhan tahun 2024. Pada kuartal ketiga 2025, CDM mencatat hampir 1.400 insiden kerusuhan, meningkat 45 persen dibandingkan periode yang sama pada 2024.
Banyak protes diyakini dipicu oleh kesulitan ekonomi dan keluhan yang terkait dengannya.
Namun dalam beberapa kasus, seperti protes mengenai kremasi di Guizhou, pemicunya adalah campur tangan negara dalam hal-hal yang dianggap banyak orang sebagai urusan pribadi. Kevin Slaten, peneliti utama CDM, mengatakan bahwa demonstrasi di Guizhou tidak biasa karena berlangsung selama beberapa hari.
"Aksi protes lebih mungkin menjadi besar dan berlangsung lama jika menyangkut sesuatu yang benar-benar personal. Entah itu pukulan besar terhadap mata pencaharian seseorang… atau sesuatu yang berkaitan dengan warisan budaya atau leluhur. Orang lebih terdorong mengambil risiko untuk melakukan protes," tutur Slaten.