Liputan6.com, Jakarta PT Bank Central Asia Tbk (BCA) memandang depresiasi nilai mata uang rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bakal terjadi. Kuncinya, depresiasi ini bisa tetap terkendali.
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas, memandang dari sudut pandang perbankan, depresiasi mata uang lazim terjadi meskipun tidak ada faktor tambahan yang membuat penurunannya lebih besar.
Advertisement
"Sebenarnya yang terpenting itu memang bukan sekadar arahnya naik atau turun, bukan sekadar menguat atau melemah, oke dia agak depresiasi, tapi yang penting dia itu managable, jadi manage depreciation," ungkap Victor dalam Indonesia Economic Outlook 2026, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025).
Pelemahan mata uang rupiah, kata dia, bisa berdampak positif di satu sisi. Misalnya, keuntungan dari ekspor. Meskipun, dia meyakini Bank Indonesia (BI) tetap akan menjaga level rupiah pada kondisi fundamental yang kuat.
"Kita yakin Bank Indonesia itu pasti akan menjaga nilai rupiah kita itu di level yang sehat di level fundamental yang kuat," tegasnya.
Dia menjelaskan, nilai mata uang rupiah terhadap dolar AS akan dipengaruhi oleh besaran suku bunga acuan atau Fed Fund Rate. Jika masih sejalan dengan prediksi membaik, maka akan berdampak ke menguatkan nilai mata uang rupiah.
Meskipun, dia melihat pula dampak dari pengenaan tarif resiprokal AS yang bisa mengganggu neraca perdagangan RI. Kondisi itu akan berdampak ke pelemahan rupiah. "Kalau seandainya makin surplus, itu kan rupiah itu menguat tapi seandainya neraca dagangnya ini melemah tentu saja rupiahnya cenderungnya juga akan ikut melemah," beber dia.
Pertumbuhan Ekonomi Ditopang Belanja Pemerintah
Sebelumnya, Pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi bisa meningkat jika belanja pemerintah lebih optimal pada 2026 mendatang. Termasuk pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).
Kepala Biro Banking Research & Analytics BCA, Victor George Petrus Matindas menilai belanja pemerintah menjadi salah satu faktor paling kuat untuk menopang pertumbuhan ekonomi.
"Jadi kita harapkan sebrnarnya untuk tahun depan pertama dari sisi belanja pemerintah ya itu kita harapkan jauh lebih baik," ungkap Victor dalam Indonesia Economic Outlook 2026, di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Senin (24/11/2025).
Tahun Transisi
Dia menilai, 2025 menjadi tahun transisi dimana beberapa program baru dimulai. Misalnya, MBG yang baru menyentuh 30 jutaan penerima dari target 82,9 juta orang. Serta, Kopdes Merah Putih yang belum berjalan seluruhnya.
Harapannya, dua program andalan pemerintah ini bisa semakin baik pelaksanaannya di 2026, tahun depan. Sehingga bisa berdampak pada pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
"Harusnya nanti tahun 2026 program-program ini bisa lebih cepat dan lebih efektif lagi. Akselerasinya itu semakin bagus. Jadi belanja pemerintah ini kita harapkan sebagai driver (pendorong pertumbuhan ekonomi)," ujar Victor.
Investasi Danantara dan Swasta
Selain itu, Victor juga berharap investasi di Indonesia bisa ikut menggeliat pada 2026. Termasuk yang dilakukan BUMN lewat Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) maupun sektor swasta.
"Kita harapkan juga konsumsi ini membaik, dan dari sisi investasi tadi sempat disebutkan juga Danantara dan investasi swasta itu diharapkan juga membaik," kata dia.
Meskipun, menurutnya, ada tantangan dari sisi ekspor RI. Hal ini bisa terganggu imbas kondisi perdagangan dunia dan tarif resiprokal yang diberlakukan Amerika Serikat. Harapannya, belanja pemerintah bisa kembali menopang menurunnya pengaruh ekspor tadi.