Liputan6.com, Islamabad - Kekacauan terjadi di Pakistan akibat informasi yang tidak akurat mengenai keterlibatan Amerika dan Israel dalam insiden di Masjidil Haram. Mereka menyerbu dan membakar Kedutaan Besar AS di Islamabad, yang telah menewaskan seorang Marinir dan menjebak 100 orang pada 21 November 1979.
Korban terluka bahkan bertambah sekitar 70 orang, kerusuhan juga meluas ke pusat-pusat kebudayaan Amerika di Rawalpindi dan Lahore serta sebuah pusat kebudayaan Inggris di Rawalpindi, dilansir dari The New York Times, Jumat (21/11/2025).
Advertisement
Sementara itu, marinir yang tewas diidentifikasi sebagai Kopral Steven J. Crowley yang berumur 20 tahun, dari Selden, Long Island.
Demonstran yang lainnya mencoba menyerang Konsulat Jenderal AS di Lahore. Departemen Luar Negeri pun sampai memerintahkan evakuasi seluruh personel pemerintah dari gedung itu dan sekitar 300 yang menjadi tanggungan pejabat kedutaan dan konsuler di Pakistan.
Meski serangan tersebut dari siaran radio yang menuduh warga Amerika Serikat, Departemen Luar Negeri dan Gedung Putih menyatakan mereka belum dapat mengidentifikasi siaran spesifik yang memicu demo.
Tetapi, laporan Associated Press dari Islamabad menjelaskan bahwa serangan itu membuatnya percaya bahwa warga Yahudi Amerika yang bertanggung jawab atas insiden di Mekkah.
Klarifikasi
Presiden Pakistan, Jenderal Mohammed Zia ul-Haq, menyampaikan penjelasannya melalui siaran radio dan televisi bahwa tidak ada keterlibatan Amerika, Israel, ataupun Barat dalam insiden Mekkah.
Presiden Carter kemudian dihubungi oleh Jenderal Zia, untuk menyampaikan penyesalan dan permintaan maaf atas serangan terhadap kedutaan dan belasungkawa atas kematian Kopral Crowley.
Dalam proses penyelamatan, pasukan Pakistan berhasil mengevakuasi 100 orang yang terkepung di brankas lantai tiga gedung kedutaan selama lima jam, sementara sebagain besar bangunan telah terbakar.
Proses Evakuasi
Menurut Carter, membakar materi rahasia (brankas) hanya akan meningkatkan risiko kematian akibat sesak napas di ruangan yang sudah penuh asap dan api.
Meski begitu, beberapa penyerang tidak tinggal diam, mereka naik ke atas dengan memotong jalur pelarian utama dari atap, tetapi tindakan mereka tidak menimbulkan korban jiwa di dalam brankas.
Evakuasi akhirnya terpaksa mendarat di atap dengan helikopter, yang membawa personel kedutaan harus berada di lokasi aman.
Kerusuhan ini dikarenakan informasi yang belum akurat dan menggiring beragam opini publik, sehingga dampaknya menimbulkan kekacauan hingga keselamatan setiap orang tidak terjamin.