Liputan6.com, Berlin - Presiden Prancis Emmanuel Macron mengatakan pada hari Selasa (18/11/2025) bahwa Eropa berisiko kehilangan kendali atas masa depan digitalnya jika tidak berhenti bergantung pada perusahaan teknologi Amerika Serikat (AS) dan China, serta membangun para juara industrinya sendiri.
Macron menyampaikan hal itu dalam KTT tentang Kedaulatan Digital Eropa di Berlin, Jerman.
Advertisement
"Eropa tidak ingin menjadi klien para pengusaha besar atau solusi besar yang disediakan, baik dari AS maupun dari Tiongkok," ujarnya seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.
Ia menegaskan bahwa ketergantungan penuh pada platform asing akan melemahkan daya saing dan ketahanan demokratis.
"Jika kita membiarkan orang AS dan Tiongkok memiliki semua juara industri, satu hal yang pasti: kita mungkin memiliki regulasi terbaik di dunia, tetapi kita tidak akan mengatur apa pun," kata dia.
"Tujuan kita adalah merancang solusi kita sendiri, menjaga kedaulatan kita, dan menolak menjadi vasal."
Macron mengatakan bahwa Uni Eropa telah memasuki fase baru persaingan teknologi global yang mencakup kecerdasan buatan, layanan cloud, semikonduktor, dan komputasi kuantum.
Ia menyerukan agar Prancis dan Jerman bekerja sama secara cepat dan kompak dalam kebijakan digital. Menurutnya, kondisi geopolitik saat ini menuntut Eropa untuk mengambil tindakan bersama—mulai dari menyederhanakan regulasi, memperkuat pasar modal, hingga memberi prioritas kepada perusahaan-perusahaan Eropa dalam pengadaan publik.
Macron juga mendukung pengamanan yang lebih kuat untuk data Eropa dan memperingatkan tentang penegakan ekstrateritorial hukum asing jika blok tersebut terus menyimpan informasi sensitif pada platform non-Eropa.
"Eropa memiliki semua modal untuk berhasil," ungkap Macron, menunjuk pada kumpulan talenta, kapasitas komputasi yang berkembang, dan pasar tunggal berpenduduk 450 juta orang.
Namun, ia menekankan bahwa pelaksanaan kini menjadi hal yang paling penting.
"Jika kita ingin berdaulat, kita harus berinovasi, melindungi teknologi-teknologi kunci, dan mempercepat kemunculan perusahaan-perusahaan teknologi besar dari Eropa yang bisa menjadi pemimpin global," tambahnya.