Vietnam Targetkan Bahasa Inggris Jadi Bahasa Kedua pada 2035 untuk Perkuat Daya Saing Global

Di tengah berbagai tantangan, para orang tua di Vietnam tetap berinvestasi dalam pendidikan bahasa Inggris.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 17 November 2025, 12:12 WIB
Ilustrasi Vietnam. (Dok. AFP)

Liputan6.com, Hanoi - Pemerintah Vietnam menargetkan bahasa Inggris menjadi bahasa kedua wajib di seluruh sekolah pada 2035 sebagai langkah memperkuat daya saing nasional dan menyiapkan generasi muda menghadapi integrasi global. Kebijakan ini merupakan bagian dari rencana besar yang juga mewajibkan pembelajaran bahasa Inggris sejak kelas 1 pada 2030 serta mengenalkan bahasa tersebut di seluruh taman kanak-kanak dalam lima tahun ke depan.

Upaya ini sudah terlihat di beberapa sekolah perintis seperti Nguyen Binh Khiem Elementary School di Cau Giay, Hanoi, tempat siswa belajar bahasa Inggris setiap hari dan kegiatan pembelajaran seperti permainan, nyanyian, serta video dilakukan dalam bahasa tersebut. Sejak 2023, pelajaran matematika dan sains di sekolah itu juga diajarkan dalam bahasa Vietnam dan Inggris.

"Bahasa Inggris membantu saya berbicara dengan orang-orang dari berbagai negara," kata Kim Long, siswa kelas 5 berusia 11 tahun, seperti dikutip dari The Straits Times. "Saya juga menyukainya karena saya bisa membaca banyak buku dan komik, serta menonton sepak bola di YouTube."

Wakil kepala sekolah, Pham Thi Bich Ngoc, mengatakan bahwa kurikulum bahasa Inggris terintegrasi untuk kelas 1 telah diterapkan selama lima tahun.

"Meskipun bahasa Inggris masih menjadi mata pelajaran pilihan di kelas 1 dan 2, program ini dirancang agar siswa mengenal bahasa tersebut secara alami sejak awal," ujarnya.

Kekurangan Guru Jadi Hambatan Serius

Meski pemerintah menargetkan perluasan penggunaan bahasa Inggris di seluruh sistem pendidikan, realisasinya menghadapi tantangan besar. Bui Manh Hung, mantan koordinator reformasi pendidikan Vietnam, menyebut rencana ini sangat ambisius mengingat kekurangan guru berkualifikasi serta metode pengajaran yang masih berfokus pada ujian.

Kementerian Pendidikan Vietnam memperkirakan membutuhkan tambahan 22.000 guru bahasa Inggris untuk jenjang pra-sekolah dan sekolah dasar pada 2030. Saat ini, hanya sekitar 30.000 dari 1,05 juta guru di seluruh negeri yang benar-benar spesialis bahasa Inggris. Adapun Universitas dan institut pelatihan menghasilkan sekitar 3.000 guru per tahun, jumlah yang jauh dari cukup.

Guru bahasa Inggris di Thai Nguyen, Tran Thi Thu Trang, mengatakan bahwa banyak guru senior memiliki kemampuan bahasa Inggris terbatas sehingga pengajaran lebih menekankan tata bahasa daripada komunikasi.

Pada 1970–1980-an, bahasa Rusia adalah bahasa asing paling populer. Banyak guru bahasa Rusia kemudian beralih menjadi guru bahasa Inggris untuk memenuhi permintaan, meski tidak mahir berbahasa Inggris.

"Para pejabat percaya bahwa semua bahasa asing memiliki kesamaan tertentu, sehingga lebih baik memanfaatkan keterampilan mengajar kami yang sudah ada," ungkap seorang guru trilingual yang menolak disebutkan namanya.

 

 

 

 

Ketergantungan pada Guru Asing

Tingginya permintaan membuat bisnis kursus bahasa Inggris berkembang pesat. Kursus tiga bulan bagi anak-anak dapat mencapai 20 juta dong, sementara pusat bahasa mempekerjakan lebih dari 700 guru asing berkualifikasi. Jumlah pengajar asing sebenarnya diperkirakan jauh lebih besar.

Guru asal Filipina, Dunuan Kim, mengatakan kondisi untuk guru ekspatriat di Vietnam lebih baik dibanding Thailand atau Kamboja, namun masih banyak pengajar asing tidak berkualifikasi yang tetap mengajar dengan bayaran rendah sehingga memengaruhi kualitas pendidikan.

Regulasi baru tahun 2021 mensyaratkan pengalaman mengajar minimal tiga tahun, membuat sekolah di daerah kesulitan merekrut guru penutur asli.

"Jika seseorang memiliki pengalaman seperti itu, mereka tidak akan memilih tinggal dan bekerja di kota kecil seperti tempat kami," tutur Thuy Quynh, pengelola pusat bahasa di Ninh Binh.

Pemerintah Dorong Reformasi Menyeluruh

Wakil Menteri Pendidikan Pham Ngoc Thuong mengatakan pemerintah memprioritaskan alokasi sumber daya yang efektif, pelatihan guru, kemitraan internasional, pengembangan infrastruktur, serta pemanfaatan teknologi dan kecerdasan buatan dalam pengajaran bahasa Inggris.

Namun, sebagian pakar meragukan target waktu pemerintah.

"Tujuan menjadikan bahasa Inggris sebagai bahasa kedua di semua sekolah dalam 10 tahun, menurut saya, masih jauh tanpa langkah konkret," kata Hung, yang menilai rencana ini harus dipandang sebagai strategi jangka panjang dan disesuaikan dengan kondisi Vietnam.

Meski begitu, beberapa pendidik tetap optimistis.

Kepala Sekolah ULIS Middle School, Nguyen Huyen Trang, mengatakan seluruh kegiatan sekolahnya diarahkan untuk menciptakan lingkungan bahasa Inggris yang alami bagi siswa.

Bagi siswa seperti Long, kemampuan bahasa Inggris adalah pintu menuju cita-cita.

"Saya menonton video YouTube dalam bahasa Inggris untuk belajar teknik sepak bola dan saya harus memahami semua yang mereka katakan," ujarnya. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya