Taiwan Blak-blakan soal Alasannya Ingin Mempererat Hubungan dengan Israel

Lantas, bagaimana Taiwan melihat hubungannya dengan Palestina? Berikut selengkapnya.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 16 November 2025, 11:07 WIB
Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-Lung saat berbicara dengan media pada Rabu (12/11/2025). (Dok. AP/Johnson Lai)

Liputan6.com, Taipei - Taiwan menegaskan tetap ingin memperdalam hubungan dengan Israel meskipun negara itu menghadapi kritik atas perang di Gaza. Menurut Menteri Luar Negeri Taiwan Lin Chia-Lung, Israel telah menunjukkan dukungan yang tidak diberikan oleh negara-negara Timur Tengah lainnya. Hal tersebut ia sampaikan kepada para wartawan pada Rabu (12/11/2025).

Lin seperti dikutip dari Associated Press mengatakan,"Taiwan akan bersahabat dengan negara-negara yang bersahabat dengan kami."

Ia mencontohkan dukungan Israel melalui deklarasi yang ditandatangani awal tahun ini oleh 72 anggota parlemen Israel, yang menyerukan agar Taiwan dapat bergabung dalam organisasi-organisasi internasional penting.

Lin juga mengatakan bahwa Palestina sangat tidak baik bagi Taiwan karena Palestina mengikuti prinsip "Satu China", yang menyatakan bahwa hanya ada satu China dan Taiwan merupakan bagian tidak terpisahkan dari negara tersebut.

Dalam pertemuan yang diselenggarakan oleh Taiwan Foreign Correspondents' Club, Lin menegaskan bahwa hak asasi manusia dan kepentingan nasional harus berjalan seiring.

Pemerintah Taiwan sebelumnya menerima kritik atas rencana memberikan donasi kepada sebuah pusat medis di permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Mahkamah Internasional tahun lalu memutuskan bahwa keberadaan Israel di wilayah Palestina yang diduduki, termasuk Tepi Barat, adalah ilegal.

Ketika ditanya apakah Taipei telah membatalkan rencana donasi tersebut, Lin tidak memberikan jawaban pasti. Ia hanya menegaskan bahwa Taiwan memprioritaskan dukungan kemanusiaan dalam perang Israel-Hamas dan bahwa para diplomat Taiwan telah diarahkan untuk tidak terlibat dalam konflik tersebut.

"Faktanya, kami memberikan banyak bantuan kemanusiaan kepada kedua belah pihak, termasuk Jalur Gaza dan Palestina," ujar Lin.

Ia menambahkan bahwa negara-negara lain dapat belajar dari Taiwan mengenai cara menghadapi Tiongkok, termasuk dalam hal taktik gray-zone, telekomunikasi, dan transfer data.

Pekan lalu, Lin mendampingi Wakil Presiden Taiwan Bi-Khim Hsiao dalam kunjungan langka ke Brussels. Dalam kunjungan tersebut, Hsiao mengajak Uni Eropa untuk meningkatkan kerja sama keamanan dan perdagangan dengan Taiwan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya