Liputan6.com, Jakarta - Reputasi Singapura sebagai surga aman bagi para taipan China mulai memudar. Negara yang selama bertahun-tahun menjadi magnet bagi keluarga superkaya daratan China itu kini menghadapi hengkangnya para jutawan yang semakin masif, didorong oleh pengetatan regulasi dan pengawasan keuangan yang semakin agresif.
Mengutip CNBC, Minggu, (16/11/2025), fenomena ini membalikkan tren besar yang terjadi sejak 2019, ketika gelombang protes prodemokrasi di Hong Kong dan penerapan Undang-Undang Keamanan Nasional membuat banyak konglomerat China memilih pindah ke Singapura demi stabilitas politik, bahasa yang familiar, serta sistem hukum yang dianggap lebih independen, namun dalam dua tahun terakhir, daya tarik tersebut perlahan luntur.
Advertisement
Efek Domino Skandal Pencucian Uang
Setelah skandal pencucian uang senilai 3 miliar dolar Singapura atau Rp 38,6 triliun (asumsi Rp 12.885 per dolar Singapura) pada 2023 dikenal sebagai “kasus Fujian” regulator Singapura langsung bergerak cepat. Pemeriksaan ulang nasabah, penyaringan rekening, dan penguatan aturan anti pencucian uang membuat bank lebih berhati-hati saat menerima klien kaya asal China.
“Ketika berita Fujian tersiar, banyak orang Tionghoa kaya ini pergi hampir semuanya pindah ke Hong Kong, Timur Tengah, atau Jepang,” ujar Direktur Bayfront Law di Singapura, Ryan Lin.
Lin mengaku kini menerima 50% lebih sedikit aplikasi pendirian kantor keluarga dari warga Tiongkok daratan dibanding tahun 2022.
Regulasi Kripto Jadi Pukulan Baru
Situasinya semakin sulit pada 2025 ketika Singapura memperkenalkan aturan baru bahwa semua platform yang menawarkan produk kripto atau tokenisasi, bahkan kepada klien di luar Singapura, wajib mengantongi lisensi lokal.
MAS (Otoritas Moneter Singapura) juga menegaskan bahwa persetujuan lisensi akan diberikan secara sangat selektif. Selain itu, dibebankan biaya kepatuhan tinggi, termasuk modal minimum 250.000 dolar Singapura atau Rp 3,2 miliar serta aturan AML yang lebih ketat.
Bagi banyak pengusaha kripto Tiongkok, aturan ini menjadi titik balik.
“Untuk tahun ini, khususnya mereka yang berkecimpung di dunia kripto, semuanya pergi, Kesabaran saya sudah habis,” kata Lin.
Pemeriksaan KYC Makin Ketat, Banyak Rekening Ditutup
Pendiri Jenga, Iris Xu mengungkapkan bank Singapura melakukan “pembersihan” besar-besaran sepanjang 2024. Proses Know Your Customer (KYC) diperketat, beberapa kantor keluarga diperiksa ulang bahkan ada rekening nasabah kaya yang ditutup tanpa peringatan.
“Setelah setahun penuh, itu menghancurkan kepercayaan sebagian klien. Jika Anda tidak membuka rekening untuk mereka, bagaimana mereka bisa berbisnis?” ujar Xu. Banyak dari mereka kemudian membawa dananya ke Hong Kong, Jepang, atau Dubai.
Tak hanya soal keuangan. Pemohon izin tinggal tetap dan pendirian kantor keluarga kini harus melalui pemeriksaan latar belakang lebih mendalam. Beberapa persyaratan bahkan dianggap terlalu invasif bagi standar privasi orang kaya Tiongkok.
“Dari sudut pandang mereka, apakah saya perlu menyatakan anak luar nikah hanya untuk mengelola kekayaan di Singapura?” kata Lin.
Hong Kong dan Dubai Menang Peluang
Data Henley & Partners memperkuat temuan tersebut. Singapura diproyeksikan hanya akan menarik sekitar 1.600 jutawan pada 2025, turun jauh dari 3.500 pada 2024. Sementara itu, Hong Kong bergerak cepat dengan menawarkan insentif pajak serta melonggarkan persyaratan kependudukan berbasis investasi.
Proses KYC di Hong Kong maupun Dubai juga disebut lebih cepat sekitar dua hingga enam bulan di Dubai dibanding Singapura yang kini bisa memakan waktu lebih dari satu tahun.
Gaya Hidup Turut Memengaruhi
Lebih dari sekadar regulasi, gaya hidup juga menjadi faktor pendorong perpindahan orang kaya. "Di Hong Kong mereka bisa berpesta sampai jam empat atau lima pagi. Di Singapura, gaya hidupnya lebih tenang dan terkendali,” ujar Christopher Aw dari Pandan Investments.
Sebagian generasi muda kaya Tiongkok merindukan dinamika kota yang lebih hidup seperti Hong Kong atau Dubai.
Era ‘Pendinginan’ Singapura
Menurut para analis, tren ini bukan berarti Singapura kehilangan posisinya sebagai pusat kekayaan Asia. Namun, negara ini memang sedang berada dalam fase pengetatan dan konsolidasi setelah pertumbuhan pesat beberapa tahun terakhir.
“Singapura sedang mendingin dan merapikan rumahnya,” kata Xu.
"Setelah masa booming,penyesuaian seperti ini adalah hal yang wajar.”