Ledakan SMAN 72 Jakarta, Ternyata Pelaku Terinsipirasi Enam Aksi Pelaku Teror Dunia Ini

Pelaku hingga kini masih menjalani perawatan. Selama ini, pelaku dikenal pribadi tertutup dan kesepian.

oleh Muhammad Radityo PriyasmoroDiterbitkan 11 November 2025, 20:10 WIB
Petugas tim penjinak bom berjaga di pintu masuk SMAN 72 Jakarta pada 7 November 2025. Sebuah ledakan terjadi di SMAN 72 Jakarta di kawasan Kecamatan Kelapa Gading, Jakarta Utara, pada Jumat 7 November 2025 siang. (CANDRA/AFP)

Liputan6.com, Jakarta Ledakan di SMAN 72 menyisakan sejumlah nama asing yang tertulis di sebuah senjata laras panjang mainan milik terduga pelaku. Pelaku adalah pelajar aktif di sekolah tersebut.

Menurut PPID Densus 88 Antiteror Polri, ⁠AKBP Mayndra Eka Wardhana, nama-nama asing yang tertulis di senjata adalah tokoh-tokoh teror global yang pernah beraksi di pelbagai negara.

Mayndra mengatakan, nama-nama tersebut diyakini membawa inspirasi dari aksi yang dilakukan oleh sang anak berhadapan dengan hukum atau ABH tersebut.

“Nah di sini ada suatu hal yang memprihatinkan, ada beberapa yang menjadi inspirasi terkait figur kita sebutkan ada kurang lebih 6 yang tercatat,” kata Mayndra saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Selasa (11/11/2025).

Rekam Jejak Pelaku dan Aksi Terornya di Berbagai Negara

Mayndra kemudian merinci, sejumlah nama tersebut adalah Eric Harris dan Dylan Klebold yang merupakan dua pelaku penembakan massal di Columbine High School, Littleton, Colorado, Amerika Serikat, pada 20 April 1999. Diketahui, keduanya adalah sosok yang beraliran neo-nazi. Sebagai informasi, neo-nazi sendiri adalah gerakan atau ideologi ekstrem kanan. Secara sederhana, neo-Nazi berarti "Nazi baru", yakni orang atau kelompok yang masih menganut ide-ide utama Nazi.

Sosok selanjutnya adalah Dylann Storm Roof, seorang pria asal Carolina Selatan, Amerika Serikat, pelaku aksi teror bermotif rasial di sebuah gereja bersejarah di kota Charleston, pada 17 Juni 2015. Diketahui, Dylan menganut paham white supremacy atau supremasi kulit putih, sebuah paham ideologi rasis yang meyakini bahwa ras kulit putih lebih unggul dibandingkan ras-ras lain.

Berikutnya, Alexandre Bissonnette, seorang pelaku penembakan masjid di Kota Quebec, Kanada, pada 29 Januari 2017. Kasus ini menjadi salah satu serangan Islamofobia paling mematikan dalam sejarah Kanada modern. Diketahui, Alexandre juga penganut paham white supremacy atau supremasi kulit putih.

Kemudian ada nama Vladislav Roslyakov, pelaku penembakan massal di Politeknik Kerch, Crimea (Krimea) pada 17 Oktober 2018 yang beraliran neo-Nazi.

Lalu ada nama Brenton Tarrant, pelaku serangan teror masjid di Christchurch, Selandia Baru, tahun 2019. Dalam foto yang beredar di publik, nama Brenton adalah yang paling jelas tertulis.

Nama terakhir, Natalie Lynn “Samantha” Rupnow, pelaku penembakan di Abundant Life Christian School, Madison, Wisconsin, Amerika Serikat, yang terjadi pada 16 Desember 2024 yang beralirn neo nazi.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya