Presiden Suriah Tegaskan Belum Akan Menormalisasi Hubungan dengan Israel

Apa alasan di balik pernyataan presiden Suriah? Simak informasinya berikut ini.

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 12 November 2025, 11:13 WIB
Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa melambaikan tangan saat menyapa para pendukungnya di luar Gedung Putih, Senin (10/11/2025), setelah bertemu dengan Presiden Donald Trump. (Dok. AP/Jacquelyn Martin)

Liputan6.com, Washington, DC - Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa pada Senin (11/11/2025) menegaskan bahwa negaranya tidak akan mengadakan perundingan langsung dengan Israel untuk menormalisasi hubungan dalam waktu dekat. Pernyataan itu disampaikan di tengah upaya Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menghidupkan kembali Abraham Accords.

Dalam wawancara dengan Fox News, Sharaa secara eksplisit menyinggung pendudukan Israel atas Dataran Tinggi Golan—yang wilayahnya diperluas secara signifikan pada 2024 setelah tumbangnya rezim Bashar al-Assad. Ia menekankan bahwa situasi yang dihadapi Damaskus berbeda dari negara-negara lain yang telah menandatangani perjanjian normalisasi tersebut.

"Saya meyakini bahwa situasi di Suriah berbeda dengan situasi negara-negara yang menandatangani Abraham Accords," kata Sharaa dalam pernyataannya yang diterjemahkan seperti dikutip dari kantor berita Anadolu.

"Suriah berbatasan langsung dengan Israel dan Israel telah menduduki Dataran Tinggi Golan sejak 1967. Kami tidak akan memasuki negosiasi langsung saat ini. Mungkin pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Trump dapat membantu kami mencapai jenis negosiasi seperti itu."

Abraham Accords merupakan perjanjian yang diprakarsai Amerika Serikat untuk menormalisasi hubungan antara Israel dan negara mayoritas muslim selama masa jabatan pertama Trump. Sebelum Kazakhstan resmi bergabung pekan lalu, empat negara telah menandatangani kesepakatan tersebut, yakni Bahrain, Maroko, Sudan, dan Uni Emirat Arab.

Trump sebelumnya menyatakan optimismenya bahwa Suriah dan Arab Saudi pada akhirnya akan bergabung dengan perjanjian normalisasi itu.

 

 

Suriah Bergabung dengan Koalisi untuk Perangi ISIS

Dalam perkembangan lainnya, Suriah resmi bergabung dengan koalisi internasional yang dipimpin Amerika Serikat untuk memerangi kelompok bersenjata ISIS.

Melansir Al Jazeera, pengumuman tersebut disampaikan oleh Menteri Informasi Suriah Hamza al-Mustafa dan pejabat Amerika Serikat, tidak lama setelah Presiden al-Sharaa tiba di Washington dan disambut oleh Trump di Gedung Putih pada Senin.

Al-Mustafa mengatakan bahwa "deklarasi kerja sama politik" yang ditandatangani Damaskus dengan koalisi internasional menegaskan peran Suriah dalam memerangi terorisme dan mendukung stabilitas kawasan.

"Perjanjian ini bersifat politik dan hingga saat ini belum mencakup komponen militer," tulisnya dalam unggahan di platform X.

Dengan penandatanganan tersebut, Suriah menjadi negara ke-90 yang bergabung dengan koalisi tersebut. Koalisi internasional ini bertujuan mencegah orang asing bergabung dengan barisan ISIS serta menumpas sisa-sisa kelompok itu di seluruh Timur Tengah.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya