Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa Tiba di AS untuk Pertemuan Bersejarah dengan Trump

Kedatangannya terjadi sehari setelah Washington D.C secara resmi menghapus namanya dari daftar hitam terorisme.

oleh Teddy Tri Setio BertyDiterbitkan 09 November 2025, 13:07 WIB
Presiden Amerika Serikat Donald Trump berjabat tangan dengan presiden sementara Suriah Ahmad al-Sharaa, di Riyadh, Arab Saudi, Rabu (14/5/2025). (Dok. Bandar Aljaloud/Istana Kerajaan Arab Saudi via AP)

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Suriah Ahmed al-Sharaa tiba di Amerika Serikat pada Sabtu (8/11/2025) untuk melakukan kunjungan resmi bersejarah.

Kedatangannya terjadi sehari setelah Washington D.C secara resmi menghapus namanya dari daftar hitam terorisme, dikutip dari laman Firstpost, Minggu (9/11).

Sharaa—yang pasukan pemberontaknya menggulingkan pemimpin lama Bashar al-Assad akhir tahun lalu—dijadwalkan bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Gedung Putih pada Senin. Para analis menyebut ini sebagai kunjungan pertama seorang presiden Suriah ke AS sejak negara tersebut merdeka pada 1946.

Pertemuan tatap muka antara Sharaa dan Trump bukan yang pertama. Keduanya sebelumnya bertemu di Riyadh pada Mei lalu saat kunjungan regional presiden AS.

Utusan AS untuk Suriah, Tom Barrack, mengatakan awal bulan ini bahwa Sharaa diharapkan menandatangani perjanjian untuk bergabung dengan koalisi internasional pimpinan Amerika yang memerangi kelompok Negara Islam (IS).

Seorang sumber diplomatik di Suriah mengatakan kepada AFP bahwa AS berencana membangun pangkalan militer di dekat Damaskus untuk koordinasi bantuan kemanusiaan serta memantau dinamika di perbatasan Suriah–Israel.

Langkah Departemen Luar Negeri AS pada Jumat untuk menghapus Sharaa dari daftar terorisme sebenarnya sudah diprediksi. Juru bicara Departemen Luar Negeri, Tommy Pigott, mengatakan pemerintahan Sharaa telah memenuhi sejumlah tuntutan Washington, termasuk upaya menemukan warga AS yang hilang dan memusnahkan sisa-sisa senjata kimia.

“Tindakan ini merupakan pengakuan atas kemajuan yang ditunjukkan kepemimpinan Suriah setelah berakhirnya lebih dari 50 tahun represi di bawah rezim Assad,” ujar Pigott. Ia menambahkan, keputusan tersebut diharapkan dapat mendorong stabilitas kawasan dan proses politik yang lebih inklusif yang dipimpin oleh rakyat Suriah sendiri.

 

Transformasi Politik Suriah

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden sementara Suriah Ahmed al-Sharaa di sela-sela Sidang Umum PBB di New York (Dok. X/Volodymyr Zelenskyy).

Kunjungan Sharaa ke Washington menyusul agenda penting lainnya: pada September, ia menghadiri pertemuan PBB di New York—kedatangan pertamanya di tanah Amerika—dan menjadi presiden Suriah pertama dalam beberapa dekade yang berbicara di hadapan Majelis Umum PBB.

Pada Kamis sebelumnya, AS memimpin pemungutan suara di Dewan Keamanan yang menghasilkan pencabutan sanksi PBB terhadap Sharaa.

Sharaa sendiri memiliki masa lalu yang kontroversial. Ia pernah berafiliasi dengan Al-Qaeda melalui kelompok Hayat Tahrir al-Sham (HTS), yang nama organisasinya dicabut dari daftar teroris oleh Washington pada Juli lalu. Namun sejak mengambil alih kekuasaan, para pemimpin baru di Damaskus berupaya menjauhkan diri dari sejarah kekerasan itu dan menampilkan citra yang lebih moderat, dapat diterima publik, dan dapat bekerja sama dengan komunitas internasional.

Direktur Program AS di International Crisis Group, Michael Hanna, menyebut kunjungan Sharaa ke Gedung Putih sebagai simbol penting dari transformasi politik pemimpin Suriah tersebut—dari sosok militan menjadi tokoh yang tampil sebagai negarawan global.

Sharaa diperkirakan akan meminta dukungan ekonomi bagi Suriah yang kini menghadapi tantangan besar dalam rekonstruksi setelah 13 tahun perang saudara. Pada Oktober lalu, Bank Dunia memperkirakan biaya pemulihan negara itu mencapai sekitar 216 miliar dolar AS.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya