Liputan6.com, Jakarta - Prasasti Center for Policy Studies (Prasasti) memperkirakan perekonomian Indonesia akan tumbuh stabil di kisaran 5 persen pada kuartal III 2025. Angka tersebut relatif tidak berubah dibandingkan periode sebelumnya, menandakan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional masih bertahan di jalur positif meski tanpa lonjakan besar.
Menurut Prasasti, konsumsi mulai menunjukkan tanda perbaikan, sementara investasi tetap solid.
Advertisement
“Konsumsi memang membaik, tetapi lajunya masih jauh dari kata kuat. Yang kita lihat saat ini adalah stabilisasi, bukan lonjakan. Kabar baiknya, fondasi dasarnya tetap kokoh,” ujar Research Director Prasasti Gundy Cahyadi, Senin (3/11/2025).
Data penjualan ritel tercatat tumbuh 5,8 persen (yoy) pada September 2025 — laju tertinggi sejak awal tahun. Namun inflasi inti yang hanya 2,2 persen menunjukkan dorongan belanja masyarakat masih terbatas. Kepercayaan konsumen pun belum sepenuhnya pulih, tertekan oleh ketimpangan pendapatan dan meningkatnya biaya hidup.
Dari sisi moneter, jumlah uang beredar (M2) tumbuh 8 persen pada September, seiring pelonggaran kebijakan Bank Indonesia yang memangkas suku bunga acuan 150 basis poin sejak September 2024. Dampaknya mulai terasa di sektor kredit dan konsumsi, meski pergerakannya masih bertahap.
Sisi Fiskal
Sementara itu, dari sisi fiskal, realisasi belanja pemerintah baru mencapai 59,7 persen dari target tahunan. Angka ini lebih rendah dibanding periode yang sama tahun lalu (64,7 persen), menunjukkan dorongan fiskal pada kuartal III masih terbatas. Namun, hal ini membuka peluang percepatan belanja di kuartal IV, saat kementerian dan lembaga biasanya meningkatkan penyerapan anggaran.
Investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan meski mulai melambat. Data BKPM mencatat realisasi investasi tumbuh 13,9 persen secara tahunan pada kuartal III 2025, terutama di sektor pusat data, logistik, dan infrastruktur digital.
Gundy menilai momentum investasi masih positif, meski tahap selanjutnya perlu difokuskan pada revitalisasi sektor industri agar daya saing jangka panjang tetap terjaga.
Kinerja Ekspor
Dari sisi eksternal, neraca perdagangan mencatat surplus USD5,49 miliar pada Agustus 2025, tertinggi sejak awal tahun. Kinerja ekspor tetap kuat didukung harga komoditas utama seperti CPO, serta stabilnya permintaan dari pasar global. Surplus ini turut menjaga nilai tukar rupiah dan memperkuat cadangan devisa.
“Kombinasi kebijakan moneter dan fiskal saat ini cukup seimbang. Likuiditas terjaga tanpa menimbulkan gejolak modal, sementara disiplin fiskal memberi ruang stimulus yang lebih terarah,” jelas Gundy.
Prasasti menilai laju pertumbuhan sekitar 5 persen mencerminkan ketahanan fundamental ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global. Potensi penguatan ekonomi bergantung pada percepatan belanja fiskal dan investasi di akhir tahun.