Liputan6.com, Jakarta - Gelombang baru tengah terjadi di dunia keuangan global. Para investor institusional kini semakin melirik Bitcoin (BTC) sebagai pelindung nilai di tengah kekhawatiran akan pelemahan mata uang fiat akibat kebijakan bank sentral.
Dikutip dari coinmarketcap, Kamis (30/10/2025), manajer hedge fund James Lavish menyebut fenomena ini sebagai tanda bahwa “debasement trade”—strategi melawan penurunan nilai mata uang—telah menjadi arus utama.
Advertisement
“Institusi kini memandang Bitcoin bukan lagi sebagai spekulasi, melainkan lindung nilai terhadap inflasi dan pencetakan uang berlebih,” ujarnya.
Secara sederhana, currency debasement terjadi ketika bank sentral mencetak lebih banyak uang, sehingga nilai tukarnya menurun dari waktu ke waktu. Dengan meningkatnya utang global dan kekhawatiran terhadap inflasi, banyak investor menilai uang konvensional kian kehilangan daya belinya, sementara Bitcoin yang memiliki pasokan tetap menjadi alternatif menarik.
Lavish menegaskan, pergeseran pandangan ini menandai era baru adopsi Bitcoin oleh institusi besar, yang kini mulai menjadikannya bagian dari strategi keuangan jangka panjang.
Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.
Dari Aset Spekulatif Jadi Strategi Cadangan
Perubahan persepsi terhadap Bitcoin ini bukan tren sesaat. Dalam satu tahun terakhir, sejumlah lembaga keuangan besar, hedge fund, hingga manajer aset global telah menambah Bitcoin ke portofolio mereka atau mengumumkan rencana untuk melakukannya.
Langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa Bitcoin kini dianggap sebagai cadangan strategis—bukan lagi aset berisiko tinggi seperti beberapa tahun lalu.
“Institusi mengelola dana triliunan dolar. Jika hanya sebagian kecil dari dana tersebut dialokasikan ke Bitcoin, dampaknya terhadap nilai pasar akan sangat besar,” ujar Lavish.
Dengan pasokan maksimal 21 juta koin, Bitcoin dipandang tahan terhadap inflasi dan tidak dapat dimanipulasi secara politik. Di tengah kebijakan moneter yang longgar dan pencetakan uang yang terus berlanjut, narasi Bitcoin sebagai penyimpan nilai (store of value) kini terdengar semakin kuat di kalangan investor global.
Lavish menegaskan bahwa “debasement trade” kini bukan lagi topik terbatas di komunitas kripto, tetapi telah menjadi pembahasan serius di ruang rapat para pengambil keputusan keuangan dunia.
Bitcoin Menuju Arus Utama Keuangan Global
Komentar James Lavish menggambarkan pergeseran besar dalam dunia keuangan tradisional. Bitcoin kini bukan lagi sekadar eksperimen teknologi, melainkan alat lindung nilai terhadap erosi nilai mata uang yang mulai diakui institusi besar.
Seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap kebijakan moneter longgar dan pencetakan uang besar-besaran, permintaan institusional terhadap Bitcoin diprediksi terus meningkat.
“Bitcoin telah keluar dari pinggiran diskusi dan kini masuk ke ruang rapat korporasi besar,” kata Lavish. Ia meyakini bahwa ke depan, Bitcoin bisa menjadi aset inti dalam portofolio investasi modern, bukan hanya bagi investor awal, tetapi juga bagi kalangan keuangan arus utama.
Dengan semakin banyak institusi yang mencari perlindungan dari pelemahan mata uang, Bitcoin kian dipandang sebagai emas digital abad ini—simbol ketahanan nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global.