Ekspor Sawit Naik 15,3%, Nilai Tembus Hingga Rp 406 Triliun

Volume ekspor sawit Indonesia tumbuh 15,3% menjadi 22,7 juta ton hingga Agustus 2025. Nilai ekspor tersebut tembus USD 24,78 miliar atau setara Rp 406 triliun.

oleh Sekar FebrianiDiterbitkan 29 Oktober 2025, 20:15 WIB
Petani sawit di Riau memanen dan menimbang buah untuk dijual ke pabrik. (Liputan6.com/M Syukur)

Liputan6.com, Jakarta 0 Kinerja ekspor sawit Indonesia tunjukkan pertumbuhan signifikan hingga Agustus 2025. Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), total volume ekspor produk sawit mencapai 22,7 juta ton, naik 15,3% dibanding periode yang sama pada tahun 2024 sebesar 19,68 juta ton.

Sekretaris Jenderal GAPKI M. Hadi Sugeng Wahyudiono menilai, angka ekspor sawit ini merupakan capaian luar biasa di tengah kondisi pasar global yang tengah bergejolak.

Kenaikan volume ekspor tersebut ditopang oleh peningkatan pengiriman produk olahan, mulai dari ekspor olahan minyak sawit (processed PO) yang naik dari 13,46 juta ton menjadi 16,11 juta ton, olahan minyak inti sawit (processed PKO) dari 801 ribu ton menjadi 1,1 juta ton, CPO yang alami peningkatan dari 2,14 juta ton menjadi 2,2juta ton, dan oleokimia yang naik dari 3,1 juta ton menjadi 3,25 juta ton.

"Dilihat dari segi nilai, ekspor sawit hingga Agustus 2025 tercatat berada di USD 24,78 miliar, tumbuh 43% dibandingkan periode yang sama di tahun lalu sebesar USD 17,34 miliar," jelas dia dikutip Rabu (29/10/2025).

Jika dikonversi, nilainya setara Rp 406 triliun, meningkat dari Rp 276 triliun pada tahun sebelumnya.

GAPKI menjelaskan bahwa peningkatan nilai ekspor terjadi karena harga rata-rata CPO CIF Rotterdam pada Januari–Agustus 2025 mencapai USD 1,2 ribu per ton, lebih tinggi dibanding periode yang sama tahun 2024 sebesar USD 1 ribu per ton.

 

Kontribusi ke Devisa

Meski harga sawit cenderung belum stabil, komoditi ini tetap menjadi primadona bagi petani di Provinsi Jambi. (Dok. Istimewa/B Santoso)

Menurut Hadi, pertumbuhan nilai ekspor sawit telah menggambarkan besarnya kontrobusi industri sawit terhadap devisa negara dan penyerapan tenaga kerja. Dalam keterangan resminya, disampaikan pula bahwa sumbangan sektor sawit terhadap neraca perdagangan Indonesia mencapai USD 24 miliar dari total USD 29,16 miliar.

“Setiap tahun, bahkan kalau kita lihat 5-10 tahun kebelakang, kita selalu memberikan kontribusi yang besar. Selalu positif dari kelapa sawit, sehingga neraca perdagangan Indonesia juga selalu positif,” ujar Hadi.

GAPKI menilai capaian ini menunjukkan posisi sawit sebagai salah satu penopang utama ekspor nonmigas nasional. 

Berdasarkan negara tujuan, kenaikan ekspor terbesar dikirim ke Malaysia (103 ribu ton), diikuti China (101 ribu ton), Afrika (40 ribu ton), Uni Eropa (32 ribu ton), Rusia (6 ribu ton), dan Amerika Serikat (4 ribu ton). Secara keseluruhan, produk sawit Indonesia telah menjadi pemasok bagi lebih dari 100 negara di dunia.

 

Konsisten

Hadi turut menegaskan, kontribusi positif sektor kelapa sawit terhadap perdagangan Indonesia telah berlangsung konsisten selama lima hingga sepuluh tahun terakhir, menjadikan komoditas ini sebagai salah satu pilar penting dalam menjaga surplus perdagangan nasional. 

“Rangkaian yang luar biasa, betapa besarnya sumbangan komoditi ini terhadap devisa negara dan juga penyerapan tenaga kerja. Jadi tidak diragukan lagi kontribusi sawit ini,” terang Hadi.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya