Amazon PHK 14 Ribu Karyawan Imbas Investasi di AI

Amazon menilai, langkah PHK yang dilakukan perseroan akan membuat pergerakan lebih cepat dan terorganisir.

oleh Haniah NabilahDiterbitkan 28 Oktober 2025, 19:15 WIB
Pejalan kaki melewati The Spheres, kantor bernuansa hutan hujan yang baru dibuka Amazon, di Seattle, AS, Senin (29/1). The Spheres terdiri dari tiga rumah kaca berukuran bulat yang menaungi 40.000 jenis tanaman dari 400 spesies. (AP/Ted S. Warren)

Liputan6.com, Jakarta - Amazon mengatakan akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) sekitar 14.000 karyawan korporat. Hal ini menandai pengurangan karyawan yang terbaru dalam upaya perusahaan selama beberapa tahun untuk mengendalikan biaya.

Mengutip CNBC, Selasa (28/10/2025), dalam sebuah unggahan blog, perseroan menyebutkan, PHK itu dilakukan untuk membantu perusahaan menjadi lebih ramping dan tidak terlalu birokratis. Perseroan juga berupaya berinvestasi dalam taruhan terbesar termasuk kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) generative.

BACA JUGA: Gelombang PHK Mengancam, Ini Strategi Pemerintah Menyelamatkan Pekerja

"Generasi AI ini adalah teknologi paling transformatif yang pernah kita lihat sejak internet, dan memungkinkan perusahaan untuk berinovasi jauh lebih cepat dari pada sebelumnya (di segmen pasar yang sudah ada maupun yang benar-benar baru),” tulis Senior Vice President of People Experience and Technology Amazon, Beth Galetti.

"Kami yakin bahwa kami perlu lebih terorganisir, dengan lebih sedikit lapisan dan lebih banyak kepemilikan, untuk bergerak secepat mungkin bagi pelanggan dan bisnis kami," ia menambahkan.

Sebelumnya CNBC melaporkan, PHK Amazon akan menjadi PHK korporat terbesar dalam sejarah Amazon. Reuters melaporkan PHK itu dapat memengaruhi hingga 30.000 karyawan, mengutip sumber yang mengetahui masalah itu.

PHK Terbesar di Industri Teknologi Sejak 2020

Langkah Amazon ini menambah panjang daftar perusahaan teknologi besar yang melakukan efisiensi pada 2025. Menurut data dari Layoffs.fyi, situs yang menggabungkan gelombang PHK di sektor teknologi, pemangkasan ini akan menjadi yang terbesar sejak 2020.

Hingga Oktober, lebih dari 200 perusahaan teknologi telah memberhentikan sekitar 98.000 karyawan di seluruh dunia. Di antaranya, Microsoft telah memangkas sekitar 15.000 pekerja, Meta menghapus 600 posisi di divisi kecerdasan buatan, sementara Google dan Salesforce juga melakukan langkah serupa dengan alasan efisiensi dan peningkatan penggunaan teknologi AI.

Efisiensi di Tengah Transformasi Digital

Alex Crook mengambil gambar kantor Amazon bernuansa hutan hujan yang baru, The Spheres, di Seattle, Senin (29/1). Di dalamnya dibuat seperti taman besar dengan ruang-ruang terbuka, sehingga tidak ada ruang konferensi yang tertutup. (AP/Ted S. Warren)

Amazon bukan kali pertama melakukan PHK besar-besaran. Sejak 2022, perusahaan yang didirikan oleh Jeff Bezos telah memangkas lebih dari 27.000 karyawan dalam beberapa tahap. Pemangkasan terbaru disebut sebagai bagian dari program efisiensi biaya yang digagas oleh CEO Amazon, Andy Jassy, ​​sejak masa pandemi Covid 19.

"Perusahaan kami sedang mengupayakan harmonisasi struktur perusahaan dengan mengurangi jumlah manajer dan mempercepat proses kerja," ujar Jassy dalam memo internal kepada karyawan beberapa waktu lalu.

Ia menambahkan, penerapan kecerdasan buatan (AI) generatif akan mempengaruhi struktur tenaga kerja Amazon di masa depan. Menurut dia, otomatisasi dan penerapan AI dapat membuat sejumlah posisi tidak lagi dibutuhkan, sekaligus membuka peluang baru di bidang teknologi dan pengembangan sistem berbasis AI

1,5 Juta karyawan di Seluruh Dunia

Amazon tercatat sebagai perusahaan swasta terbesar kedua di Amerika Serikat, setelah Walmart. Hingga akhir kuartal kedua tahun ini, Amazon memiliki lebih dari 1,54 juta karyawan di seluruh dunia, sebagaian besar yang bekerja di gudang dan pusat distribusi.

Sementara jumlah tenaga kerja korporatnya mencapai sekitar 350.000 orang. Divisi yang paling terdampak dalam PHK kali ini meliputi unit Amazon Web Services (AWS), divisi retail, komunikasi dan perangkat pintar. Langkah Amazon melakukan PHK kepada 14.000 karyawan merupakan 4% dari segmen tenaga kerja.

Tekanan Ekonomi dan Perubahan Industri

Pengunjung melakukan tur selama pembukaan kantor baru Amazon yang bernuansa hutan hujan, The Spheres, di Seattle, Senin (29/1). Fasilitas tersebut dilengkapi pula dengan Wi-Fi dan ruang pertemuan dengan nama-nama hutan hujan. (JASON REDMOND / AFP)

Gelombang PHK di sektor teknologi global dalam dua tahun terakhir tidak lepas dari tekanan ekonomi akibat inflasi tinggi dan kenaikan suku bunga. Tahun 2023 bahkan tercatat sebagai tahun dengan jumlah PHK tertinggi di sektor teknologi, dengan lebih dari 260.000 pekerjaan yang hilang di hampir 1.2000 perusahaan teknologi.

Selain faktor ekonomi, pesatnya kemajuan teknologi AI generatif juga mendorong perusahaan – perusahaan besar untuk menata ulang sumber daya manusia. Banyak posisi administratif dan pendukung kini mulai digantikan oleh sistem otomatis berbasis AI.

Andy Jassy sebelumnya mengakui bahwa perubahan ini tak terelakkan. “Dalam beberapa tahun ke depan, kami mungkin akan membutuhkan lebih sedikit orang untuk jenis pekerjaan tertentu, dan lebih banyak tenaga ahli di bidang baru yang berhubungan dengan AI,” ujarnya.

Meski menjadi langkah berat, Jassy menyebut keputusan ini sebagai bagian dari upaya Amazon untuk tetap kompetitif dan efisien di tengah perubahan besar industri teknologi global.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya