Wacana Tarif Transjakarta Naik Jadi Rp 5.000, Begini Curahan Hati Penumpang

Warga Jakarta menanggapi rencana kenaikan tarif Transjakarta dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000. Sebagian besar mendukung jika peningkatan layanan dan armada juga turut diwujudkan oleh Pemprov DKI.

oleh Muhammad IsmailDiterbitkan 27 Oktober 2025, 20:00 WIB
Bus TransJakarta. (Dok. Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta tengah memikirkan rencana menaikkan tarif layanan Transjakarta dari Rp 3.500 menjadi Rp 5.000. Langkah ini disebut sebagai upaya untuk menyesuaikan dengan biaya operasional yang meningkatkan serta mendorong pariwisata transportasi masyarakat ramah lingkungan di ibu kota.

Tarif Transjakarta sebesar Rp3.500 ini sudah berlaku kurang lebih selama 20 tahun atau sejak 2005. Data Transjakarta, tarif reguler Transjakarta saat ini Rp3.500 per perjalanan. Namun, pada jam ekonomi (pukul 05.00-07.00 WIB), tarif khususnya Rp2.000 per perjalanan.

Namun, terkadang ada tarif khusus (promo) seperti Rp1 untuk hari-hari tertentu. Tarif Rp3.500 yang saat ini berlaku hanya mampu menutup 14 persen biaya operasional Transjakarta.

Wacana kenaikan tarif Transjakarta tersebut menuai tanggapan beragam dari masyarakat, khususnya penumpang angkutan umum tersebut. Sebagian besar menyatakan tidak keberatan dengan kenaikan tarif, asalkan diimbangi dengan peningkatan kualitas layanan dan penambahan armada agar waktu tunggu bus tidak terlalu lama.

 

Masyarakat Dukung Asal Kualitas dan Armada Ditingkatkan

Bus Transjakarta berhenti di Halte Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Kamis (18/8/2022). PT Transportasi Jakarta (TransJakarta) kembali mengoperasikan Halte Gelora Bung Karno (GBK) setelah rampung direvitalisasi. Halte GBK efektif melayani pelanggan bertepatan di HUT Ke-77 RI pada Rabu, 17 Agustus 2022 kemarin. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

“Saya setuju jika tarif itu dimasukkan dari 3.500 menjadi 5.000, akan tetapi saya berharap adanya penambahan armada serta peningkatan kualitas dari transjakarta,” ujar Ardito selaku penggguna Transjakarta Senin (27/10/2025).

Menurutnya, selama ini masih sering terjadi keterlambatan atau antrean panjang di halte, terutama pada jam sibuk. Ia berharap dengan kenaikan tarif, kenyamanan dan waktu keberangkatan yang tepat bisa lebih terjamin.

Kenaikan Tarif Dikhawatirkan Memberatkan Pelajar

Untuk diketahui, sepanjang 2024, Transjakarta melayani 371,4 juta pelanggan dengan rata-rata lebih dari 1 juta pelanggan per hari. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Pendapat serupa juga disampaikan Sari, penumpang Transjakarta yang sering menggunakan layanan tersebut untuk bekerja. Ia menilai kenaikan Rp 5.000 tidak terlalu merepotkan, namun bisa berdampak bagi kalangan pelajar.

“Gak masalah kalau tarifnya naik Rp 5.000, tapi yang jadi permasalahan kalau pelajar yang naik, mereka pulang pergi ongkosnya jadi Rp 10.000. Itu lumayan berat juga kalau tiap hari,” ujar Sari, Pengguna Transjakarta.

Kekhawatiran ini juga menjadi sorotan beberapa warga yang menilai kebijakan subsidi atau tarif khusus pelajar sebaiknya tetap dipertahankan jika kenaikkan benar-benar terjadi.

Sebagian Warga Anggap Tarif Rp 3.500 Masih Ideal

Penumpang turun dari bus Transjakarta tujuan Kota-Blok M di Halte Pullman, Jakarta,Sabtu (10/10/2020). Moda transportasi umum Transjakarta tetap beroperasi normal, tapi untuk menurunkan penumpang tidak di lajur Bus Transjakarta karena Halte Utama Transjakarta di rusak. (merdeka.com/Imam Buhori)

Sementara itu, Rizqi, pengguna lain, menilai tarif Rp 3.500 masih merupakan nominal yang ideal bagi berbagai kalangan, baik pelajar maupun pekerja.

“Rp 3.500 itu nominal yang pas dari kantong pelajar hingga pekerja. Kalau digabungkan, mungkin saja bisa memberatkan beberapa pihak,” ujarnya.

Ia berpendapat bahwa peningkatan layanan publik sebaiknya dilakukan terlebih dahulu sebelum pemerintah mempertimbaangkan kenaikan harga tiket.

Perlu Kajian Keadilan dan Aksesibilitas Layanan

Pendapat lebih kritis datang dari Sani, penumpang yang menyoroti aspek keadilan sosial dalam kebijakan tarif. Menurutnya, Transjakarta sejak awal dirancang sebagai transportasi umum terjangkau untuk masyarakat menengah ke bawah.

“memberatkan, karena TJ itu dibuat untuk kalangan kelas menengah. Kalau ada penambahan tarif, seharusnya fasilitas dan armada juga ditambah. Kalau bisa dikaji ulang agar keadilan bisa merata,” tutur Sani.

Sani berharap Pemprov DKI melibatkan masyarakat dan mempertimbangkan kondisi ekonomi masyarakat sebelum mengambil keputusan akhir terkait tarif baru.

Langkah penyesuaian tarif ini disebut sebagai upaya menjaga operasionalisasi Transjakarta, terutama untuk mendukung keberlanjutan mobilitas dan pengurangan emisi karbon di Jakarta.

Pemerintah memastikan bahwa kebijakan ini akan diambil dengan mempertimbangkan keseimbangan antara kualitas layanan, subsidi, dan daya beli masyarakat.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya