Liputan6.com, Jakarta - Saham sejumlah perusahaan logam penting dan mineral langka Australia meroket pada awal perdagangan Selasa (21/10/2025) setelah Amerika Serikat (AS) dan Australia menandatangani kesepakatan besar senilai USD 8,5 miliar atau sekitar Rp 140 triliun (estimasi kurs Rp 16.567 per USD).
Dikutip dari CNBC, Selasa (21/10/2025), kesepakatan tersebut, yang ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, mencakup pendanaan untuk berbagai proyek strategis guna memperkuat pasokan bahan baku penting bagi industri pertahanan dan keamanan energi kedua negara.
Advertisement
Saham Lynas Rare Earths, produsen logam tanah jarang terbesar Australia berdasarkan kapitalisasi pasar, naik sekitar 4,7% pada awal perdagangan Asia. Iluka Resources, perusahaan tambang pasir mineral, melonjak lebih dari 9%, sementara Pilbara Minerals, produsen litium, meningkat hampir 5%.
Kenaikan juga terjadi pada sejumlah perusahaan tambang kecil seperti VHM yang terbang hingga 30%, dan Northern Minerals yang melonjak 16%. Adapun Latrobe Magnesium, produsen utama logam magnesium di Australia, melejit hampir 47%.
Sementara itu, Alcoa, perusahaan tambang yang terdaftar di Bursa Efek New York dan juga diperdagangkan di Australia, ikut terdorong hampir 10%. Alcoa tengah mengembangkan proyek pemulihan dan pemurnian logam penting gallium di Australia Barat — salah satu dari dua proyek prioritas di bawah kesepakatan baru tersebut.
AS dan Australia Siap Investasi Besar untuk Pasokan Logam Strategis
Logam tanah jarang dan mineral penting seperti litium, gallium, dan magnesium menjadi komponen utama bagi mobil listrik, semikonduktor, serta peralatan militer berteknologi tinggi.
Selama ini, China menjadi produsen terbesar di dunia untuk mineral tersebut. Namun, pembatasan ekspor yang diberlakukan Beijing di tengah ketegangan dagang dengan AS membuat banyak negara berlomba mencari sumber pasokan baru di luar China.
Menurut Perdana Menteri Anthony Albanese, kedua negara akan menggelontorkan masing-masing USD 1 miliar dalam enam bulan ke depan untuk proyek yang “siap dijalankan segera.”
Namun, pernyataan resmi Gedung Putih kemudian menyebutkan bahwa total investasi gabungan akan melebihi USD 3 miliar dalam periode yang sama, dan kesepakatan ini bersifat sebagai kerangka kerja strategis.
Tujuh Surat Minat Pembiayaan
Selain itu, Export-Import Bank of the United States (EXIM) akan mengeluarkan tujuh surat minat pembiayaan senilai lebih dari USD 2,2 miliar, yang berpotensi membuka investasi total hingga USD 5 miliar.
Langkah ini menandai babak baru kerja sama ekonomi antara AS dan Australia untuk memperkuat rantai pasok global mineral strategis sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap China.