Liputan6.com, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menempati posisi kedua sebagai menteri berkinerja terbaik di Kabinet Indonesia Maju berdasarkan hasil survei Strategic and Political Insight Network (SPIN). Tingkat apresiasi publik terhadap kinerja Amran mencapai 67,3 persen.
Survei dilakukan terhadap 1.600 responden di 38 provinsi pada periode 1–9 Oktober 2025 menggunakan metode multistage random sampling, dengan margin of error ±2,45 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.
Advertisement
Hasil survei menempatkan Amran di klaster menteri berkinerja tertinggi, hanya terpaut tipis dari Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’thi, yang berada di posisi pertama dengan 67,5 persen.
Direktur Eksekutif SPIN, Mawardin Sidik, menjelaskan bahwa klaster tersebut berisi para menteri yang dinilai berhasil menjalankan program prioritas secara nyata dan komunikatif, dengan dampak langsung yang dirasakan masyarakat, terutama di sektor pelayanan publik.
“Klaster menteri berkinerja tinggi terdiri dari mereka yang berhasil menjalankan program prioritas secara nyata dan komunikatif, dengan capaian yang dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Mawardin dalam keterangannya, Jumat (17/10/2025).
Posisi Amran dalam klaster tersebut, kata Mawardin, menegaskan konsistensi kebijakan Kementerian Pertanian (Kementan) yang berhasil menjaga stabilitas pangan nasional dan meningkatkan kesejahteraan petani.
Apresiasi publik terhadap sektor pertanian juga sejalan dengan hasil survei Litbang Kompas (Oktober 2025), yang mencatat 71,5 persen masyarakat puas terhadap kinerja Kementan.
Peneliti Litbang Kompas Agustina Purwanti menyebut tingginya tingkat kepuasan publik tersebut disebabkan oleh efektivitas kebijakan pangan yang dijalankan pemerintah dan hasilnya yang langsung dirasakan masyarakat.
“Kepuasan responden terhadap kinerja Kementerian Pertanian di angka 71,5 persen. Ini karena banyak hal yang sudah dilakukan Kementerian Pertanian berkaitan dengan pangan yang memang diturunkan oleh program pemerintah,” ujar Agustina.
Target Realistis
Menanggapi hasil survei tersebut, Mentan Amran Sulaiman menegaskan bahwa swasembada pangan bukan lagi cita-cita, tetapi target realistis yang akan tercapai pada akhir 2025.
“Insyaallah, tahun ini kita capai swasembada pangan. Tidak ada lagi impor beras. Negara hadir untuk petani — menaikkan HPP gabah menjadi Rp6.500 per kilogram, memastikan pupuk subsidi 100 persen tersalurkan, dan menjaga stok beras tertinggi dalam dua dekade terakhir,” tegas Amran.
Dengan dukungan kebijakan yang terukur, peningkatan produksi berkelanjutan, dan kepercayaan publik yang tinggi, sektor pertanian disebut menjadi salah satu penopang utama ketahanan ekonomi nasional.
Pemerintah optimistis Indonesia berada di ambang sejarah baru, mencapai swasembada pangan 2025 dan menegaskan kedaulatan pangan sebagai pilar kesejahteraan nasional.