Venezuela Tutup Kedubes di Norwegia Setelah Tokoh Oposisi Pro-Israel Raih Nobel Perdamaian

Bagaimana reaksi Norwegia atas keputusan Venezuela?

oleh Khairisa FeridaDiterbitkan 15 Oktober 2025, 08:02 WIB
Maria Corina Machado juga dikenal sebagai seorang perempuan yang terus menjaga api demokrasi tetap menyala. Tampak dalam foto ketika pemimpin oposisi Maria Corina Machado memberi isyarat kepada para pendukungnya dalam protes menentang Presiden Nicolas Maduro sehari sebelum pelantikannya untuk masa jabatan ketiga, di Caracas, Venezuela, Kamis, 9 Januari 2025. (AP Photo/Ariana Cubillos)

Liputan6.com, Oslo - Pemerintah Venezuela mengumumkan penutupan kedutaannya di Norwegia, hanya beberapa hari setelah Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Nobel Perdamaian kepada pemimpin oposisi Venezuela, Maria Corina Machado — sosok yang menuai kritik karena sikapnya yang mendukung Israel di tengah genosida di Gaza.

Dalam pernyataannya, Kementerian Luar Negeri Venezuela menjelaskan bahwa keputusan tersebut merupakan bagian dari tahap pertama restrukturisasi menyeluruh, tanpa secara langsung menyinggung pemberian Nobel.

Pemerintah juga mengonfirmasi akan menutup kedutaannya di Australia, sebagai bagian dari penataan ulang sumber daya secara strategis.

"Tujuan utama re-organisasi ini adalah untuk mengoptimalkan sumber daya negara dan menata kembali kehadiran diplomatik kami guna memperkuat aliansi dengan Negara-Negara Selatan (Global South)," tulis pernyataan resmi kementerian seperti dikutip dari TRT.

"Kami ingin memajukan solidaritas antarbangsa dan kerja sama di bidang strategis demi pembangunan bersama."

Pemerintah Venezuela menegaskan bahwa langkah tersebut mencerminkan tekad yang tidak tergoyahkan untuk membela kedaulatan nasional serta berkontribusi dalam membangun tatanan dunia baru yang berlandaskan keadilan, solidaritas, dan inklusi.

Menanggapi keputusan tersebut, Kementerian Luar Negeri Norwegia menyatakan penyesalan atas penutupan kedutaan Venezuela di Oslo.

Nobel Perdamaian untuk Maria Corina Machado

Pengumuman penutupan kedutaan itu datang tidak lama setelah Komite Nobel Norwegia menganugerahkan Hadiah Perdamaian kepada Maria Corina Machado, yang dinilai berjasa atas upaya tanpa lelah dalam memperjuangkan hak-hak demokratis rakyat Venezuela dan mencapai transisi yang adil dan damai dari kediktatoran menuju demokrasi.

Machado mendedikasikan penghargaan tersebut kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump.

Dalam wawancara eksklusif dengan kantor berita AFP dari tempat persembunyiannya, Machado mengatakan bahwa masa kekuasaan Presiden Maduro telah berakhir, namun masih ada kesempatan bagi Maduro untuk mundur secara damai. Maduro saat ini memiliki peluang untuk bergerak menuju transisi yang damai. Jika dia terus menolak, konsekuensinya sepenuhnya menjadi tanggung jawabnya sendiri. 

Pro Israel

Di sisi lain, Machado menuai kritik karena unggahan-unggahannya di platform X yang menunjukkan dukungan terhadap Israel di tengah genosida di Gaza.

Dalam unggahan di X pada tahun 2021, dia menyebut Israel sebagai sekutu sejati kebebasan dan menegaskan bahwa siapa pun yang membela nilai-nilai Barat harus berdiri bersama Negara Israel.   

Tidak terguncang oleh penderitaan warga Gaza di wilayah yang diblokade, Machado bahkan menyatakan bahwa dia akan memindahkan Kedutaan Besar Venezuela ke Yerusalem bila terpilih sebagai presiden.

"Saya percaya dan saya bisa umumkan bahwa pemerintahan kami akan memindahkan kedutaan besar kami di Israel ke Yerusalem," kata Machado dalam wawancara dengan sebuah saluran televisi Israel. "Saya berjanji, suatu hari nanti, kami akan membangun hubungan yang erat antara Venezuela dan Israel. Itu akan menjadi bagian dari dukungan kami terhadap Negara Israel."

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya