Rupiah Turun Tipis terhadap Dolar AS Hari Ini 10 Oktober 2025

Berikut pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada Jumat, (10/10/2025). Berikut sentimennya.

oleh Agustina MelaniDiterbitkan 10 Oktober 2025, 19:03 WIB
Teller tengah menghitung mata uang dolar AS di penukaran uang di Jakarta, Rabu (10/7/2019). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) ditutup stagnan di perdagangan pasar spot hari ini di angka Rp 14.125. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turun tipis pada perdagangan Jumat, (10/10/2025). Rupiah merosot dua poin atau 0,01% menjadi 16.570 per dolar AS dari sebelumnya 16.568 per dolar AS.

Sementara itu, Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia juga turun ke level 16.585 per dolar AS dari sebelumnya 16.534 per dolar AS.

Analis mata uang Ibrahim Assuabi menuturkan, nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS didorong kekhawatiran pasar mengenai penutupan pemerintah AS atau government shutdown pemerintah AS berkepanjangan.

"Penutupan pemerintah AS masih berlangsung hingga hari kesembilan dan Risalah Rapat Federal Reserve (Fed) terbaru menunjukkan bahwa para pembuat kebijakan sepakat untuk mendukung pasar tenaga kerja yang (sedang) melemah,” kata dia dalam keterangan tertulis, seperti dikutip dari Antara.

Berdasarkan risalah Federal Open Market Committee (FOMC), sebagian besar pejabat mendukung pemangkasan suku bunga pada akhir 2025 kendati beberapa anggota dari mereka memperingatkan agar tak bertindak terlalu cepat, mengingat tekanan inflasi terus berlanjut.

 

Imbas Shutdown Pemerintah AS

Petugas menunjukkan mata uang dolar dan mata uang rupiah di penukaran uang di Jakarta, Rabu (9/11). Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada saat jeda siang ini kian terpuruk di zona merah. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Penutupan pemerintah AS yang berkepanjangan dinilai mengganggu rilis data ekonomi utama, seperti Nonfarm Payrolls (NFP) yang seharusnya dipublikasikan pada Jumat, 3 Oktober 2025.

"Kurangnya visibilitas terhadap kondisi ekonomi AS mempersulit prospek kebijakan Federal Reserve dan memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga yang akan segera terjadi,” ujar Ibrahim.

Menurut CME FedWatch, pasar prediksi peluang penurunan suku bunga hampir 100 persen pada Oktober, diikuti pemangkasan suku bunga selanjutnya pada pertemuan bulan Desember. Prospek ini dinilai akan memberikan tekanan pada imbal hasil obligasi pemerintah AS dan dolar Amerika Serikat.

Rupiah Melemah Lagi Hari Ini Usai Ditutup Perkasa Kemarin, Simak Prediksinya

Petugas menata mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Mengutip data Bloomberg pukul 15.00 WIB, rupiah ditutup turun 0,22 persen atau 34 poin ke Rp15.616,5 per dolar AS. Hal tersebut terjadi di tengah penguatan indeks dolar AS 0,16 persen ke 104,41. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali melemah pada pembukaan perdagangan hari ini Jumat 10 Oktober 2025. Kurs rupiah melemah sebesar 13 poin atau 0,08 persen menjadi 16.581 per dolar Amerika Serikat (AS) dari sebelumnya 16.568 per dolar AS.

Ekonom Mirae Asset Rully Arya Wisnubroto memperkirakan pada Jumat ini nilai tukar atau kurs rupiah akan bergerak stabil.

“Rupiah hari ini menurut saya masih akan bergerak tidak terlalu fluktuatif, pada rentang 16.525-16.615 (per dolar Amerika Serikat),” katanya dikutip dari Antara, Jumat (10/10/2025).

Mengutip Xinhua, pasar secara umum memperkirakan Federal Reserve (The Fed) akan melakukan pemotongan suku bunga tambahan dalam pertemuan-pertemuan terakhir tahun ini.

 

Sentimen Rupiah

Pegawai menunjukkan mata uang rupiah di salah satu gerai penukaran mata uang di Jakarta, Kamis (5/1/2023). Nilai tukar rupiah ditutup di level Rp15.616 per dolar AS pada Kamis (5/1) sore ini. Mata uang Garuda melemah 34 poin atau minus 0,22 persen dari perdagangan sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sedangkan Deputi Gubernur Fed Michael Barr mengungkapkan kekhawatiran inflasi dapat berlanjut. Dirinya memperingatkan para pembuat kebijakan agar tak boleh berpuas diri dalam mengembalikan inflasi ke target bank sentral sebesar 2 persen.

"Faktor domestik belum terlalu banyak, lebih karena membaiknya persepsi investor. Sebenarnya membaiknya persepsi investor juga terkait dengan rupiah yang bergerak cukup stabil dalam beberapa pekan terakhir,” ujar Rully.

Analis Bank Woori Saudara Rully Nova juga mengaku optimistis suku bunga The Fed akan menurun dua kali hingga akhir tahun 2025, yakni di bulan Oktober dan Desember.

“Perkiraan penurunan rate masing-masing 25 bps (basis points) sebanyak 2 kali oleh The Fed, sehingga BI (Bank Indonesia) memiliki ruang buat penurunan rate juga 25 bps pada sisa tiga pertemuan dewan gubernur sampai dengan akhir tahun ini yang juga bergantung dari volatile rupiah,” katanya.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya