Temuan Baru dari Misi Chang'e China: Sisi Gelap Bulan Ternyata Lebih Dingin

Bagaimana sampel dari Bulan menyingkap rahasia baru di balik "sisi gelap" satelit Bumi?

oleh Fanny MarizkaDiterbitkan 11 Oktober 2025, 15:10 WIB
Bulan, satelit alami Bumi (NASA)

Liputan6.com, Beijing - Kondisi planet di ruang angkasa terkadang memberikan temuan yang tak dapat disangka-sangka. Seperti penelitian terbaru membawa sampel dari misi Chang'e-6 milik Tiongkok pada tahun 2024.

Sampel tersebut dianalisis oleh para peneliti dari Institut Penelitian Geologi Uranium Beijing (BRUIG), Perusahaan Nuklir Nasional Tiongkok, Sekolah Ilmu Bumi dan Antariksa di Universitas Peking, University College London (UCL), serta Sekolah Sains dan Teknologi Antariksa di Universitas Shandong.

Mereka mengatakan bahwa Bulan yang senantiasa dekat Bumi memiliki sisi jauh, dan disebut sebagai "sisi gelap" karena posisinya menghadap ke ruang angkasa.

Suhu dari sisi Bulan tersebut lebih rendah sekitar 1.100 derajat Celcius (2.012 derajat Fahrenheit), yang mana sampelnya diperoleh dari sisi dekat sehingga terasa lebih dingin, dilansir dari Universe Today, Sabtu (11/10/2025).

Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa distribusi unsur tidak merata memiliki kemungkinan disebabkan oleh tumbukan masif di sisi jauh, mendorong material yang lebih pada ke sisi dekat.

Sementara itu, teori lain menduga Bulan pernah mengalami dua tumbukan besar di masa lalu oleh bulan-bulan kecil dengan komposisi kimia yang bervariasi.

Benda penumbuk tersebut diperkirakan mengandung lebih banyak unsur radioaktif dibandingkan yang lain.

 

Analisis Sampel dari Kawah Apollo

Ilustrasi Unsur Kimia. Kredit: Web Elements

Sampel yang dibawa oleh astronaut dikumpulkan dari Kawah Apollo di dalam Cekungan Kutub Selatan-Aitken di Bulan.

Setelah selesai dianalisis, hasil mereka dilaporkan dalam sebuah makalah yang diterbitkan di Nature Geoscience.

Dalam studi mereka, sampelnya memiliki unsur seperti uranium, torium, dan kalium, yang melepaskan panas selama proses peluruhan radioaktif.

Di Bulan, unsur-unsur ini cenderung muncul bersamaan dengan unsur tanah jarang dan fosfor yang disebut oleh para ilmuwan "Kaya KREEP" (K sebagai Kalium, Ree untuk unsur tanah jarang, dan P sebagai Fosfor).

Dari total 1.935,3 gram (sekitar 4,6 pon) tanah dan batuan Bulan, para peneliti menggunakan probe elektron untuk menentukan komposisi kimianya.

Mereka kemudian meneliti isotop timbal hasil peluruhan uranium dengan Spektrometer Massa Ion Sekunder (SIMS), guna memperkirakan usia batuan.

Sehingga mereka memperoleh perkiraan usianya sekitar 2,8 miliar tahun, sekaligus menentukan suhu pembentukannya di mantel Bumi.

Demi mengungkap suhu tersebut, mereka berkolaborasi dengan tim dari Universitas Shandong, yang memperkirakan suhu batuan induk menggunakan data satelit dari lokasi pendaratan Chang'e-6.

Dengan data satelit dari sisi dekat, terdapat perbedaan yang menunjukkan suhu tambahan sebesar 70 derajat Celcius (158 derajat Fahrenheit).

Mengungkap Asal-Usul Bulan

Animasi menunjukkan seperti apa bentuk orbit satelit yang punya Bulan sendiri. (Kredit: Dr. Steven Ostro et al./NASA)

Xuelin Zhu, mahasiswa doktoral di Universitas Peking, yang terlibat dalam penelitian tersebut menyampaikan temuan ini membuatnya berpikir dengan pandangan yang berbeda terhadap unsur-unsur Bulan.

"Temuan ini membawa kita selangkah lebih dekat untuk memahami dua sisi Bulan, di mana kita mengetahui unsur-unsur lapisan di dalam," ucapnya.

Teori lain juga menjelaskan bahwa tarikan gravitasi Bumi menyebabkan peningkatan pemanasan di mantel sisi dekat.

Menurut Yang Li, seorang Profesor di Departemen Ilmu Bumi dan Antariksa UCL, Universitas Peking menjelaskan misteri terbesar tentang Bulan.

"Salah satu misteri terbesar Bulan adalah sisi dekat dan sisi jauh Bulan yang sangat berbeda, yang sering disebut para ilmuwan sebagai Bulan berwajah dua," ujarnya.

Alasannya karena perbedaan sisi dekat dan sisi jauh mantel dengan suhunya.

Hal tersebut sejalan dengan teori yang paling banyak diterima mengenai pembentukan Bulan.

Sebuah benda seukuran Mars bernama Theia bertabrakan dengan Bumi purba sekitar 4,5 miliar tahun lalu, dan melelehkan material dari kedua benda menjadi magma panas.

Peristiwa tersebut juga dikenal sebagai Hipotesisi Dampak Raksasa. Dari material ini kemudian mendingin dan memadat, terbentuklah Bulan-Bulan seperti yang dikenal sekarang.

 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya