Liputan6.com, Naypyidaw - Militer Myanmar dilaporkan mengebom sebuah desa di wilayah Sagaing, Myanmar tengah, menggunakan paraglider bermesin — layang gantung kecil yang digerakkan baling-baling. Serangan udara pada Senin (6/10/2025) malam itu menewaskan sedikitnya 24 orang, termasuk anak-anak, dan melukai lebih dari 50 lainnya.
Myanmar saat ini berada dalam perang saudara yang dimulai setelah militer merebut kekuasaan pada Februari 2021 dari pemerintahan terpilih Aung San Suu Kyi. Sebagian besar wilayah negara itu, termasuk Desa Bon To tempat serangan terjadi, berada di bawah kendali pasukan perlawanan. Daerah tersebut terletak sekitar 90 kilometer sebelah barat Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar.
Advertisement
"Laporan mengerikan yang muncul dari lapangan di Myanmar tengah setelah serangan malam pada Senin seharusnya menjadi peringatan kejam bahwa warga sipil di Myanmar membutuhkan perlindungan segera," kata organisasi hak asasi manusia Amnesty International seperti dilansir AP.
Menurut seorang anggota kelompok perlawanan lokal yang hadir dalam acara tersebut, lebih dari 100 warga dari Desa Bon To dan sekitarnya berkumpul di halaman sekolah dasar pada Senin malam. Mereka menyalakan lampu minyak dalam upacara keagamaan untuk menandai berakhirnya masa berpantang umat Buddha — yang di Myanmar juga dikenal sebagai Festival Cahaya Thadingyut — sekaligus menyerukan pembebasan para tahanan politik, termasuk Aung San Suu Kyi.
Kepada AP, anggota kelompok perlawanan tersebut membeberkan lebih rinci, yakni sebuah paraglider bermesin menjatuhkan dua bom sekitar pukul 19.15 waktu setempat. Korban tewas mencakup anak-anak, warga desa, anggota kelompok aktivis politik lokal, dan anggota kelompok bersenjata antijunta. Lebih dari 50 orang lainnya terluka, termasuk dirinya sendiri.
Dia menambahkan, peringatan tentang paraglider itu telah disebarkan sebelumnya melalui jaringan ponsel dan walkie-talkie, setelah wahana tersebut terlacak berasal dari markas komando militer barat laut di Monywa, sekitar 25 kilometer di utara Bon To.
Pola Baru Militer Myanmar
Seorang warga setempat yang juga menghadiri upacara pada Senin malam mengatakan bahwa kerumunan orang mulai bubar setelah mendengar laporan tentang paraglider yang mendekat, namun pesawat itu datang lebih cepat dari yang diperkirakan dan menjatuhkan bom saat orang-orang masih berada di area sekolah.
Warga terkait, yang membantu dalam upaya penyelamatan setelah serangan, mengatakan bahwa sedikitnya 24 orang diketahui telah tewas, meskipun jumlah korban bisa jadi lebih banyak karena anggota keluarga korban dan relawan penyelamat bekerja secara mandiri untuk mengumpulkan jenazah.
Kedua saksi mengatakan bahwa paraglider tersebut kembali ke lokasi sekitar pukul 23.00 waktu setempat dan menjatuhkan dua bom lagi, meski tidak menimbulkan korban tambahan.
Militer belum mengakui telah melakukan serangan di wilayah tersebut. Menurut data yang dikumpulkan oleh organisasi non-pemerintah, lebih dari 7.300 orang diperkirakan telah tewas akibat tindakan pasukan keamanan sejak militer merebut kekuasaan pada 2021.
Militer Myanmar selama ini mengandalkan pesawat tempur dan helikopter buatan China dan Rusia. Namun, sejak akhir tahun lalu, mereka semakin sering memakai paraglider bermesin berteknologi rendah, yang diyakini digunakan sebagian untuk menekan biaya operasi.
Pasukan perlawanan tidak memiliki pertahanan yang efektif terhadap serangan udara dalam bentuk apa pun.