Kaum Muda Asia Pasifik Sulit Dapat Pekerjaan Layak, Ini Tantangan Utama Menurut Bank Dunia

Studi terbaru Bank Dunia menyoroti krisis pengangguran muda di negara besar seperti Indonesia dan China. Pelajari mengapa produktivitas tenaga kerja harus segera ditingkatkan untuk upah yang lebih baik.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 07 Oktober 2025, 16:45 WIB
Pekerja berjalan kaki saat jam pulang di kawasan Sudirman, Jakarta, Jumat (7/2/2020). (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Meskipun tingkat orang yang bekerja di kawasan Asia Timur dan Pasifik (EAP) tergolong tinggi, generasi muda dihadapkan pada tantangan besar untuk mendapatkan pekerjaan yang layak dan berkualitas. Bank Dunia menyoroti isu ini dalam laporan terbaru mereka, East Asia and Pacific Economic Update, yang dirilis pada Selasa (7/10/2025).

Laporan tersebut mencatat bahwa sebagian besar negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik memiliki persentase penduduk usia kerja yang bekerja (tingkat ketenagakerjaan) di atas rata-rata global. Namun, tingginya angka ini tidak serta merta mencerminkan kualitas hidup dan peluang yang ada.

Kepala Ekonom Bank Dunia untuk Asia Timur dan Pasifik, Aaditya Mattoo, mengungkapkan bahwa masalah utama terletak pada kesulitan kaum muda mencari pekerjaan.

“Masalahnya adalah kaum muda kesulitan mencari pekerjaan, terutama di negara-negara seperti China dan Indonesia, satu dari tujuh orang tidak memiliki pekerjaan,” ujar Mattoo dikutip dari Antara.

Selain masalah pengangguran di kalangan muda, tantangan kedua yang dihadapi kawasan ini adalah rendahnya produktivitas tenaga kerja. Bank Dunia menjelaskan bahwa banyak negara besar di EAP berada dalam kuadran dengan tingkat ketenagakerjaan yang tinggi, tetapi produktivitasnya masih jauh tertinggal dari standar global.

Kondisi ini memiliki dampak langsung pada upah yang rendah dan kualitas hidup para pekerja. Mattoo menekankan bahwa peningkatan produktivitas adalah kebutuhan mendesak bagi semua negara di Asia Pasifik, karena produktivitas yang lebih tinggi berarti upah yang lebih baik dan pekerjaan yang lebih berkualitas.

 

Tiga Pilar Reformasi untuk Menciptakan Pekerjaan Berkualitas

Aktivitas pekerja saat jam pulang kantor di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat, Kamis (29/9/2022). Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengungkapkan bakal mendukung pemerintah pusat jika hendak mencabut satus pandemi Covid-19 menjadi endemi dan akan menyesuaikan program-program penunjang kebijakan tersebut. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Bank Dunia menegaskan bahwa reformasi untuk menciptakan pekerjaan yang lebih produktif di Asia Timur dan Pasifik harus didasarkan pada tiga pilar utama yang saling mendukung:

  • Peningkatan Kapasitas Manusia: Fokus pada perbaikan layanan kesehatan, pendidikan, dan pelatihan, serta penguasaan keterampilan yang relevan dengan teknologi baru.
  • Perluasan Peluang Ekonomi: Mendorong investasi di sektor infrastruktur (transportasi, energi, digital), dan menciptakan iklim usaha yang kondusif untuk masuknya perusahaan baru dan akses mudah ke modal swasta.
  • Koordinasi Kebijakan yang Efektif: Memastikan bahwa peningkatan kapasitas manusia dan perluasan peluang ekonomi dapat berjalan seiring dan saling mendukung.

 

Memberikan Martabat

Laporan Bank Dunia menggarisbawahi pentingnya pekerjaan bagi pembangunan kawasan.

“Penciptaan lapangan kerja yang lebih banyak dan lebih baik merupakan inti dari tantangan pembangunan di kawasan ini. Pekerjaan bukan sekadar sumber penghasilan, tetapi juga memberikan martabat, tujuan hidup dan jalan menuju masa depan yang lebih baik bagi individu dan keluarga mereka,” tulis laporan tersebut.

Lembaga ini juga mengidentifikasi lima sektor potensial yang dapat menjadi motor penciptaan lapangan kerja sekaligus memiliki ketahanan tinggi terhadap guncangan ekonomi global: agribisnis, kesehatan, infrastruktur dan energi, manufaktur, dan pariwisata.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya