MQK Internasional Perdana Digelar di Sulsel, 10 Negara Bertanding Kaji Kitab Kuning

Peserta MQK Internasional dari 10 negara yakni Myanmar, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Timor Leste, Kamboja, dan Indonesia.

oleh FauzanDiterbitkan 02 Oktober 2025, 15:37 WIB
MQK Internasional Perdana Digelar di Sulsel. (Liputan6.com/Fauzan)

Liputan6.com, Jakarta Musabaqah Qiraatil Kutun Nasional ke 8 dan Musabaqah Qiraatil Kutub (MQK) Internasional perdana resmi dibuka di Pesantren As’adiyah, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, Kamis (2/10/2025).

Ajang internasional pertama yang memperlombakan pembacaan dan pengkajian kitab kuning ini diikuti peserta dari 10 negara. Yakni Myanmar, Filipina, Malaysia, Singapura, Vietnam, Thailand, Brunei Darussalam, Timor Leste, Kamboja, dan Indonesia. 

Pembukaan berlangsung di Kampus III Pesantren As’adiyah Macanang. Hadir Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar, Sekjen Kemenag RI Prof Kamaruddin Amin, Gubernur Sulsel Andi Sudirman Sulaiman, para Dirjen Kemenag RI, Kepala Kanwil, hingga Kakanwil Kemenag se-Indonesia.

Wakil Ketua Umum Pengurus Pusat Pesantren As’adiyah, Prof Kamaluddin Abunawas, menyampaikan rasa bangga karena As’adiyah dipercaya sebagai tuan rumah MQK Nasional VIII sekaligus MQK Internasional I.

"Pesantren As’adiyah membina pendidikan dari dasar hingga menengah dan memiliki 454 cabang di seluruh Indonesia, bahkan sampai Malaysia. Karena itu kami layak menjadi tuan rumah acara berskala internasional," ujar Prof Kamaluddin.

MQK Internasional Perdana Digelar di Sulsel. (Liputan6.com/Fauzan)

Dari Pesantren untuk Dunia

Sementara itu, Dirjen Pendidikan Islam Kemenag, Prof Amin Suyitno menjelaskan, tema MQK Internasional 'Dari Pesantren untuk Dunia: Merawat Lingkungan dan Menebar Perdamaian dengan Kitab Turats'. 

Menurutnya, pesantren memiliki tradisi panjang dalam menjaga lingkungan, bahkan jauh sebelum isu global warming muncul. Ia mencontohkan ulama asal Sulsel, KH Ali Yafi, yang dikenal sebagai peletak dasar fikih lingkungan Nusantara.

"Jauh sebelum ada isu global warming, KH Ali Yafi telah meletakkan dasar fikih lingkungan Nusantara," ucapnya.

Prof Amin juga menekankan bahwa nilai kedamaian dalam Islam sejalan dengan falsafah hidup masyarakat Bugis-Makassar yakni Sipakatau, Sipakalebbi, dan Sipakainge’, yang juga banyak tercermin dalam kajian kitab kuning.

Menteri Agama Nasaruddin Umar membuka MQK Internasional Perdana di Sulsel. (Liputan6.com/Fauzan)

Pesan Menteri Agama

Di tempat yang sama, Menteri Agama Prof Nasaruddin Umar menegaskan penyelenggaraan MQK bukan sekadar ajang perlombaan, melainkan bagian dari upaya melestarikan dan mengembangkan ilmu turats.

"Hari ini kita melaunching MQK nasional dan internasional, gerakan ekoteologi satu santri satu pohon, serta camping pramuka santri. Pesantren tidak hanya kuat dalam bacaan kitab kuning, tetapi juga aktif dalam pertanian, lingkungan, kepramukaan, dan kepemimpinan," jelas Menag. 

Dia berharap pesantren ke depan dapat menjadi motor lahirnya pusat peradaban Islam modern di Indonesia.

“Persyaratan kultural, politik, sosiologis, dan ekonomi sudah sangat memenuhi syarat. Tinggal bagaimana kita bersatu menciptakan kondisi yang damai agar Indonesia menjadi pusat peradaban Islam modern,” ucapnya.

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya