Melihat Menu Anak Sekolah di Singapura dari Proyek Kantin Terpusat

Singapura mulai menerapkan model dapur pusat (central kitchen) pada 13 sekolah mulai awal tahun 2026.

oleh Tim NewsDiterbitkan 01 Oktober 2025, 19:14 WIB
Menu model dapur pusat (central kitchen) pada 13 sekolah di Singapura mulai awal tahun 2026 (Instagram: channelnewsasia)

Liputan6.com, Jakarta- Singapura mulai menerapkan model dapur pusat (central kitchen) pada 13 sekolah mulai awal tahun 2026. Program ini merupakan pengembangan dari percontohan tahun 2022 di Yusof Ishak Secondary School, yang dikelola oleh katering SATS.

Direktur Utama Gourmetz, salah satu penyedia katering yang akan mengelola kantin sekolah di Singapura, Desmond Chin mengatakan, pihaknya menyiapkan makanan yang menarik bagi siswa.

“Kami memikirkan jenis sayuran apa yang akan digunakan. Sebenarnya, kebanyakan anak tidak memiliki selera yang rumit, justru, rasa yang familiar memberi kenyamanan,” ujar Desmond Chin.

“Jadi kami cenderung memilih brokoli, kembang kol, sayuran berdaun hijau seperti bayam. Itu saja. Kami tidak akan memberi mereka sayuran yang ‘mewah’ seperti asparagus.”

Gourmetz akan menangani lima sekolah, di antaranya Blangah Rise Primary dan CHIJ Kellock. Sementara Chang Cheng Mee Wah dan Wilmar Distribution akan mengelola sisanya.

Langkah ini diambil karena banyak sekolah kesulitan menarik pemilik kios kantin, meskipun biaya sewa rendah.

“Sekolah juga harus bersaing dengan food court, pusat jajanan, dan tempat makan umum lainnya, yang memiliki jumlah pelanggan jauh lebih banyak,” jelas Kementerian Pendidikan Singapura (MOE), dilansir Channelnewsasia.

Uji coba model dapur pusat di Sekolah Menengah Yusof Ishak mendapat sambutan positif. Kementerian Pendidikan Singapura (MOE) menyebut hasilnya “menggembirakan”, mendorong 13 sekolah lain untuk ikut menerapkan sistem serupa mulai tahun depan.

Keputusan ini juga dipicu oleh pensiunnya sejumlah pemilik kios kantin, sehingga banyak kios dibiarkan kosong karena tak kunjung terisi.

Sebagai solusi, MOE menawarkan alternatif bagi pemilik kios lama, mereka bisa dialihkan ke sekolah lain atau direkomendasikan bergabung dengan operator dapur pusat sebagai tenaga kerja.

Meskipun model dapur pusat dinilai lebih efisien dan mampu menyediakan makanan sehat dengan harga terjangkau secara konsisten, kantin tradisional dengan kios-kios mandiri masih menjadi model dominan di sebagian besar sekolah.

Menu Makanan Bervariatif

Kantin sekolah yang dikelola oleh penyedia katering Gourmetz akan menyuguhkan menu yang menarik. Menu disusun dalam blok waktu lima minggu, setiap hari siswa bisa memilih dari lima hingga tujuh hidangan berbeda.

Mulai dari menu vegetarian, lokal, internasional, western, hingga nasi ayam. Sebagai makanan andalan, nasi ayam akan hadir setiap hari.

Meski sistem dapur pusat akan diterapkan, beberapa sekolah tetap mempertahankan kios mandiri untuk menjual mi, camilan, dan minuman.

“Ada beberapa anak yang, karena lingkungan atau preferensi, hanya mau makan nasi ayam,” kata Mr Chin, mengutip hasil survei terhadap anak-anak dari sekolah umum maupun internasional.

Di kantin sekolah yang dikelola oleh Gourmetz, nasi ayam jadi salah satu menu andalan. Ayam disajikan tanpa tulang dan kulit, sesuai dengan pedoman Dewan Promosi Kesehatan (HPB).

Tak hanya nasi ayam, jenis pasta yang digunakan seperti makaroni dan spaghetti pun berasal dari gandum utuh. Seluruh makanan disajikan dalam nampan ramah lingkungan yang dapat digunakan kembali, dengan sekat-sekat terpisah untuk karbohidrat, protein, dan 50 gram sayuran.

Harga tiap porsi dibanderol antara S2,20 hingga S3, tergantung ukuran. Menariknya, Gourmetz juga berencana menambah konter khusus yang menyediakan buah segar gratis sebagai pelengkap makan siang.

Saat ini, Gourmetz sudah melayani pra-sekolah, sekolah internasional, hingga pusat lansia. Namun, menyajikan makanan sehat untuk anak-anak tetap jadi tantangan tersendiri.

“Mungkin akan ada keluhan dari orang tua atau anak-anak di awal karena makanannya terasa ‘terlalu sehat’,” kata Chin. “Tapi kami bisa menyesuaikan menu agar tetap disukai anak-anak.”

Dia pun mengakui, ada kemungkinan muncul keluhan pada awalnya. Sebagai contoh, mie dari gandum utuh bisa memiliki rasa asam setelah dikunyah, dan nasi campur biji-bijian bisa terasa lebih keras dibanding nasi putih, sehingga perlu waktu untuk beradaptasi.

Chin juga mengajak peran aktif orang tua dan guru dalam mendampingi transisi ini.

“Keluhan pasti ada. Kalau mereka bilang sayurnya kebanyakan, dan sebagainya, ya tugas kita bersama untuk mendorong anak-anak agar tetap mau makan,” ujarnya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya