Dana Menganggur Bisa Lebih Optimal: Ini Tips Investasi dari Pakar

Inflasi dan biaya yang terus naik membuat strategi kelola idle cash perlu diubah. Reksadana dan emas dinilai jadi solusi efisien.

oleh Arthur GideonDiterbitkan 29 September 2025, 06:00 WIB
Talks show “Business Forum 2025: Build Big, Scale Smart, Outlast the Chaos” yang diselenggarakan Super App Investasi Bareksa di Damai Indah - PIK Golf Course, Jakarta. (Dok Bareksa) 

Liputan6.com, Jakarta - Banyak pelaku usaha masih menempatkan dana idle (dana menganggur) di giro atau deposito bank. Padahal, imbal hasilnya relatif rendah, rata-rata hanya 3–4% per tahun di bank besar, dan setelah dipotong pajak 20% tinggal sekitar 2,5–3,2%.

Chief Retail Officer Syailendra Capital Victor Teja, menilai langkah investasi tersebut justru menciptakan opportunity cost tinggi karena dana tidak berkembang optimal.

“Di tengah inflasi dan kenaikan biaya, strategi idle cash seperti itu jadi tidak efisien,” ujarnya dalam diskusi Business Forum 2025 yang digelar Bareksa di Jakarta, dikutip Senin (29/9/2025).

Menurutnya, salah satu strategi cerdas adalah menempatkan dana idle ke reksa dana. Instrumen ini tidak dikenakan pajak atas imbal hasil, berbeda dengan deposito atau tabungan.

“Misalkan dana Rp 100 juta hanya disimpan tunai, nilainya tetap Rp 100 juta dalam 10 tahun. Kalau ditabung bisa jadi Rp 110 juta, sedangkan jika diinvestasikan bisa tumbuh jadi Rp 136 juta,” kata Victor.

Ia juga merekomendasikan reksa dana pendapatan tetap berbasis obligasi korporasi. Produk ini bisa menawarkan imbal hasil hingga 9% per tahun, bebas pajak, sekaligus likuid karena dapat dicairkan kapan saja.

 

Cerita soal Emas

Petugas menunjukan emas batangan di kantor BNI Syariah, Jakarta, Senin (30/11). Harga jual-beli kembali (buyback) emas Antam turun Rp 1.000 usai akhir pekan kemarin naik di tengah turunnya harga emas global. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Sementara itu, CEO HUMANIS Fajar Wibisono, menilai emas fisik masih menjadi instrumen lindung nilai yang efektif dalam menghadapi inflasi, pelemahan rupiah, dan gejolak global.

“Data historis menunjukkan emas memberi rata-rata imbal hasil 10,28% per tahun selama 40 tahun terakhir, bahkan kenaikannya mencapai 12,4% per tahun,” ungkapnya.

Emas juga memberi proteksi sekaligus likuiditas, bisa dijadikan jaminan hingga persiapan biaya besar seperti ongkos naik haji (ONH).

Fajar mencontohkan, meski nilai ONH naik dari Rp 22 juta pada 2001 menjadi Rp 58,5 juta pada 2024, jika dikonversi ke emas justru turun dari 285 gram menjadi hanya 53 gram. Bahkan pada 2025, nilainya diperkirakan di bawah 50 gram.

Dengan strategi yang tepat, baik reksadana maupun emas dapat membantu pebisnis menjaga nilai aset, meningkatkan efisiensi, serta mengoptimalkan pertumbuhan kekayaan jangka panjang.

Inflasi Jadi Musuh Utama Investasi

Pekerja menunjukkan emas di galeri 24 Pegadaian, Tangerang, Selasa (7/7/2020). Harga emas Pegadaian khusus batangan 1 gram cetakan Antam hari ini naik Rp 4.000 atau 0,42% ke level Rp 950.000/gram dari harga hari sebelumnya. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

CEO dan Co-founder Treasury Andreas Setiawan Santoso mengungkapkan, zaman dulu emas memang selalu dianggap sebagai instrumen safe haven atau lindung nilai (hedging). Namun akhir-akhir ini, dari sisi return emas seperti instrumen agresif dengan kenaikan 14-15% sebulan.

“Sehingga saat ini muncul dua tipe investor emas. Yakni tipe coba saja beli rutin tiap bulan, atau tunggu harga turun baru beli. Ternyata harganya nggak turun-turun, akhirnya nggak jadi beli,” dia mengungkapkan.

Andreas mengibaratkan sesuatu yang paling berbahaya bagi rumah ialah rayap, sama halnya dengan investasi musuh utamanya adalah inflasi.

Besarnya inflasi harus mampu dikalahkan oleh hasil investasi, karena meskipun ada pemasukan rutin seperti transfer bulanan, nilainya tetap tergerus jika kalah oleh inflasi.

“Oleh karena itu, rata-rata imbal hasil investasi (average return) wajib melampaui laju inflasi agar kekayaan tetap terjaga nilainya,” dia menjelaskan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya