Kasus Raheem Sterling dan Sisi Gelap Sepak Bola: Ketika Klub Memaksa Pemain Berlatih Terpisah

Fenomena pemain dipaksa berlatih terpisah kembali mencuat. Dari Sterling, Disasi, hingga kisah lama di Man City, praktik ini disebut sebagai taktik yang kejam.

oleh Richard Andreas LuturmasDiterbitkan 25 September 2025, 16:36 WIB
Eskpresi kecewa Raheem Sterling setelah eksekusi penaltinya ke gawang Leicester City gagal berbuah gol, Minggu (17/3/2024) malam WIB. (AP Photo/Dave Shopland)

Liputan6.com, Jakarta Fenomena pemain dipaksa berlatih di luar skuad utama kembali menjadi sorotan. Bukan hanya soal fisik, praktik ini disebut merenggut sisi manusiawi dari sepak bola.

Pemain yang dijauhkan dari rekan-rekannya sering kali merasa diperlakukan bukan sebagai profesional, melainkan sebagai beban yang harus segera disingkirkan.

Kisah terbaru datang dari Chelsea. Raheem Sterling dan Axel Disasi dikabarkan harus menjalani latihan pada jam tak lazim, jauh dari skuad utama. Situasi ini memicu perhatian Asosiasi Pesepakbola Profesional yang menilai perlakuan tersebut tidak pantas.

Fenomena ini bukan hal baru. Manchester United musim panas lalu sempat melakukan hal serupa pada beberapa bintangnya. Sejarah panjang praktik ini menegaskan bahwa klub kerap menggunakan pengasingan latihan sebagai alat tekan, bukan solusi.


Chelsea dan Kasus Sterling-Disasi

Gelandang Chelsea, Raheem Sterling menghadiri sesi latihan tim di fasilitas pelatihan Chelsea Cobham di Stoke D'Abernon, London (6/3/2023). Duel Chelsea vs Dortmund di leg kedua Liga Champions ini diprediksi akan berjalan sengit. Joao Felix dan kawan-kawan diuntungkan akan bermain di markas sendiri.(AFP/Glyn Kirk)

Chelsea menjadi sorotan setelah Sterling mengunggah foto dirinya berlatih pukul 20.21. Publik bertanya-tanya, mengapa seorang pemain kelas dunia dipaksa berlatih pada jam yang begitu janggal. Tak lama, laporan muncul bahwa Sterling dan Disasi memang dipisahkan dari skuad utama.

Enzo Maresca, pelatih Chelsea, justru menunjukkan ketidakpeduliannya. Ia menyebut ayahnya yang bekerja sebagai nelayan selama puluhan tahun sebagai pembanding, seakan menyiratkan bahwa pemain seharusnya menerima kondisi apa pun.

Perlakuan ini memunculkan intervensi dari PFA, yang menilai pemain tetap berhak mendapatkan lingkungan latihan yang profesional dan layak. Kasus Chelsea ini seakan menegaskan bahwa pengasingan latihan bukanlah metode pembinaan, melainkan bentuk tekanan.


Pengalaman di Manchester City: Cerita Lama yang Terulang

Pemain Chelsea, Raheem Sterling, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Burnley pada laga pekan ke-8 Premier League 2023/2024 di Stadion Turf Moor, Sabtu, (7/10/2023). The Blues menang dengan skor 4-1. (AFP/Oli Scarff)

Fenomena serupa pernah terjadi di Manchester City di era Roberto Mancini. Beberapa pemain, termasuk Craig Bellamy, Emmanuel Adebayor, dan Wayne Bridge, dipisahkan dari skuad utama dan bahkan dilarang masuk kompleks latihan sebelum rekan-rekan mereka selesai.

Pemisahan ini tidak hanya merugikan pemain senior, tetapi juga memukul kepercayaan diri pemain muda yang harus berhadapan dengan lawan yang levelnya terlalu tinggi. Dalam satu kasus, seorang bek muda disebut kehilangan rasa percaya diri setelah berminggu-minggu mencoba mengawal Adebayor.

Bahkan, pengasingan itu berubah menjadi tekanan psikologis. Pemain diberi jadwal khusus, seperti berlatih sendiri pada sore hari atau bahkan di akhir pekan ketika tim lain mendapat libur. Bagi banyak pemain, hal itu terasa lebih sebagai penghinaan ketimbang latihan.

Lanjut Baca:

Kisah Sterling dan Disasi memperlihatkan bahwa pola ini tetap berulang. Pemain dipaksa berlatih terpisah sebagai strategi klub untuk memaksa mereka pergi. Waktu latihan sengaja dipilih agar tidak nyaman, bahkan dirancang agar mereka kehilangan kontak dengan rekan satu tim. Bagi pemain, kondisi ini merusak motivasi sekaligus menciptakan jarak dengan klub yang mereka bela. Banyak dari mereka akhirnya memilih hengkang, bukan karena keinginan pribadi, tetapi karena merasa dipaksa keluar. Klub beralasan manajemen skuad tak bisa menampung terlalu banyak pemain. Namun, cara mengasingkan dengan jam latihan aneh atau pelarangan akses fasilitas justru menegaskan sisi bisnis yang kejam dalam sepak bola modern.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya