Hasil Lab Kasus Keracunan MBG Sukabumi Keluar, Ironisnya Banyak Ditemukan Hal Ini

Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi merilis hasil pemeriksaan laboratorium terkait tiga kasus dugaan keracunan makanan berulang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan pelajar di tiga kecamatan.

oleh Fira SyahrinDiterbitkan 25 September 2025, 01:20 WIB
Ilustrasi Makan Bergizi Gratis yang dikelola langsung oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditunjuk Badan Gizi Nasional (BGN). (merdeka.com/Arie Basuki)

Liputan6.com, Sukabumi Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi merilis hasil pemeriksaan laboratorium terkait tiga kasus dugaan keracunan makanan berulang dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa ratusan pelajar di tiga kecamatan. 

Hasil uji lab menunjukkan adanya kontaminasi jamur dan beragam jenis bakteri pada sampel makanan, sementara faktor dominan penyebabnya adalah proses penyimpanan, pengolahan, dan distribusi yang dinilai belum higienis.

Tiga kasus keracunan ini terjadi beruntun dalam rentang waktu Agustus hingga September 2025, mencakup total 125 pelajar yang terdampak. Diantaranya 32 pelajar di Cidolog (7/8/2025), 24 pelajar di Parakansalak (22/8/2025), dan 69 pelajar di Cibadak pada September 2025.

Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Agus Sanusi menjelaskan, hasil uji laboratorium dari Balai Laboratorium Kesehatan Jawa Barat menunjukkan pola penyebab keracunan yang berbeda-beda di setiap lokasi, mengindikasikan sumber kontaminasi yang beragam. 

Ia memaparkan, secara rinci Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Cidolog, ditemukan kontaminasi Jamur Coccidioides Immitis pada semangka, bakteri Enterobacter cloacae pada tempe orek, dan bakteri Macrococcus caseolyticus pada telur dadar. 

“SPPG Parakansalak, ditemukan bakteri Bacillus Cereus pada sampel telur. Kemudian SPPG Cibadak, hasil pemeriksaan laboratorium masih menunggu,” kata Agus dalam keterangannya, Rabu (24/9/2025). 

 

Dugaan Penyimpanan dan Pengolahan yang Kurang Tepat

Agus mengatakan, pihaknya menduga temuan bakteri dan jamur tersebut dipicu oleh praktik penyimpanan dan pengolahan yang kurang tepat. 

"Bakteri dan jamur bisa mengkontaminasi bahan makanan dari proses penyimpanan bahan makanan pada suhu ruang yang terlalu lama," jelasnya.

Dia menyoroti, faktor dominan dari proses penyiapan hingga distribusi MBG masih ditemukan belum sesuai standar higienis.

Selain itu, manajemen waktu mulai dari proses pemasakan, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah dinilai belum memenuhi standar. 

"Pengolahan dan distribusi makanan yang belum sesuai/belum higienis terutama jarak waktu dari pengolahan, pengemasan dan distribusi terlalu lama," terangnya. 

 

Distribusi Pihak Sekolah

Agus juga menambahkan, bahkan ada beberapa sekolah yang tidak langsung memberikan makanan tersebut ke siswa.

Terkait kondisi korban, Kepala Dinkes memastikan semua pasien dari tiga kejadian sudah membaik dan ditangani tuntas di Puskesmas. 

"Kondisi dari kasus sudah membaik dari 3 kejadian tidak ada pasien yang sampai dirujuk ke Rumah Sakit, semua ditangani oleh Puskesmas," tegasnya.

 

Bakal Diawasi Ketat

Menanggapi kasus berulang, Agus menuturkan, telah berkoordinasi dengan Dinkes Provinsi, BPOM, dan Kementerian Kesehatan RI, serta mengambil langkah pengawasan yang diperketat melalui pembentukan Tim Pembinaan dan Pengawasan Eksternal SPPG MBG.

Pihaknya juga memberikan rekomendasi tegas kepada seluruh pihak terkait penyedia katering yang wajib memiliki Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), memastikan suhu dan tingkat kematangan yang sesuai, serta menjaga ketepatan waktu distribusi. 

“Mereka juga harus menyediakan sampel makanan untuk uji organoleptik (tes rasa, bau, tekstur) oleh guru di sekolah,” jelas Agus.

Lebih lanjut, sekolah juga ajib memastikan makanan aman dengan cara tes organoleptik terlebih dahulu oleh guru dan membentuk Tim Pengawas Internal Kegiatan MBG.

“Pemerintah Daerah telah dibentuk Satuan Tugas Percepatan Penyelenggaraan Program MBG melalui Surat Keputusan Bupati,” kata dia. 

Agus menambahkan, jika kualitas bahan baku yang disediakan oleh katering tidak sesuai spesifikasi, maka katering wajib menggantinya.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya