Harga Minyak Hari Ini Meroket, Sekarang Tembus Level Segini

Harga minyak naik lebih dari USD 1 per barel pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah kesepakatan untuk melanjutkan ekspor dari Kurdistan Irak terhenti.

oleh Septian DenyDiterbitkan 24 September 2025, 08:00 WIB
Harga minyak cenderung variatif didorong sentimen ketegangan Rusia-Ukraina dan serangan Amerika Serikat ke Irak.

Liputan6.com, Jakarta Harga minyak naik lebih dari USD 1 per barel pada hari Selasa (Rabu waktu Jakarta) setelah kesepakatan untuk melanjutkan ekspor dari Kurdistan Irak terhenti. Hal ini meredakan kekhawatiran beberapa investor bahwa dimulainya kembali ekspor akan menambah ketakutan akan kelebihan pasokan global.

Dikutip dari CNBC, Rabu (24/9/2025), harga minyak mentah Brent naik USD 1,06 atau 1,59% dan ditutup pada USD 67,63 per barel. Sementara harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 1,13 atau 1,81% dan ditutup pada USD 63,41 per barel. Kedua patokan harga minyak dunia tersebut menutupi kerugian sebelumnya yang moderat.

Baik harga minyak Brent maupun WTI telah jatuh selama empat sesi perdagangan sebelumnya. Keduanya turun sekitar 3%.

Ekspor minyak melalui pipa dari wilayah Kurdistan Irak ke Turki belum dimulai kembali pada hari Selasa meskipun ada harapan akan tercapainya kesepakatan untuk mengakhiri kebuntuan, karena dua produsen utama meminta jaminan pembayaran utang.

Kesepakatan antara pemerintah federal Irak dan pemerintah daerah Kurdi serta perusahaan minyak bertujuan untuk melanjutkan ekspor sekitar 230.000 barel minyak per hari dari Kurdistan ke pasar global melalui Turki, yang dihentikan sejak Maret 2023.

Harga minyak dunia baik Brent maupun WTI telah turun selama empat sesi perdagangan sebelumnya, masing-masing sekitar 3%. Kedua harga acuan tersebut naik lebih dari USD 1 per barel selama sesi Selasa.

“Ini adalah contoh sempurna untuk tidak menghitung barel minyak sampai dipompa. Pasar mengalami aksi jual karena laporan kesepakatan Kurdistan, dan ketiadaan kesepakatan kini telah menarik barel-barel minyak tersebut dari pasar,” kata Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn.

 

Pasar Minyak Global

Ilustrasi Harga Minyak Dunia. Foto: AFP

Secara keseluruhan, pasar minyak global bersiap menghadapi peningkatan pasokan dan perlambatan permintaan, terhambat oleh penggunaan kendaraan listrik dan tekanan ekonomi yang dipicu oleh tarif AS.

Dalam laporan bulanan terbarunya, Badan Energi Internasional mengatakan pasokan minyak dunia akan meningkat lebih cepat tahun ini dan surplus dapat meningkat pada tahun 2026 karena anggota OPEC+ meningkatkan produksi dan pasokan dari luar kelompok produsen tumbuh.

Meski demikian, risiko menghantui pasar karena para pedagang memantau pertimbangan Uni Eropa untuk memberikan sanksi lebih ketat pada ekspor minyak Rusia, serta setiap peningkatan ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

“Faktor-faktor pendukungnya adalah persediaan minyak OECD yang masih rendah. Di sisi lain, peningkatan ekspor minyak mentah dari OPEC+ menjadi penghambat harga, serta kurangnya sanksi baru yang menargetkan ekspor minyak Rusia," ungkap Analis UBS Giovanni Staunovo. 

 

Persediaan Minyak Mentah AS

Ilustrasi harga minyak dunia (dok: Foto AI)

Persediaan minyak mentah AS diperkirakan meningkat minggu lalu, sementara persediaan bensin dan sulingan kemungkinan turun, menurut jajak pendapat awal Reuters pada hari Senin.

“Pasar akan terus memantau persediaan sulingan, yang merupakan sisi lemah pasar,” kata Flynn.

Peningkatan stok sulingan akan membantu meredakan kekhawatiran seputar pasokan Rusia di tengah serangan terhadap infrastruktur minyak negara itu, Flynn menambahkan.

Militer Ukraina menyerang dua fasilitas distribusi minyak Rusia di wilayah Bryansk dan Samara semalam, kata staf umum Kyiv. 

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya