Liputan6.com, Makassar - Isu keberadaan kartel narkoba di balik tawuran antarwarga yang terjadi di Kecamatan Tallo, Kota Makassar, Sulawesi Selatan mencuat, dan menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat.
"Kalau bukan itu bandar (narkoba), siapa lagi yang mau bikin begini," kata salah seorang warga di lokasi bentrok yang enggan disebutkan namanya.
Advertisement
Ia menyebut bahwa kartel narkoba tersebut sengaja menciptakan kondisi rusuh agar aparat luput dari pengawasan pengiriman narkoba dalam jumlah besar yang hendak dikirim ke sekitar wilayah bentrokan.
"Biar aman dan lancar mereka kirim barang. Kan aparat dan warga lagi fokus urusi perang kelompok," jelasnya.
Sementara itu, Kapolrestabes Makassar Kombes Pol Arya Perdana tidak menampik keberadaan kartel narkoba tersebut. Dia memastikan akan menyelidiki informasi itu.
"Kita selidiki," ucap Arya.
Arya memastikan bahwa pihaknya telah menerjunkan tim khusus untuk melakukan penyelidikan. Hal itu untuk memastikan dan mengungkap keberadaan kartel narkoba di balik perang kelompok berkepanjangan antarwarga ini.
"Ini kan sekarang kita sudah terjunkan tim. Masih bekerja ini," ucapnya.
Sebelumnya, perang kelompok antarwarga yang terjadi di kawasan utara Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), kembali pecah dalam lima hari terakhir. Bentrokan yang melibatkan kelompok pemuda dari Jalan Tinumbu Lorong 148, Jalan Kandea, Jalan Lembo, dan Jalan Layang, Kecamatan Tallo, disebut dipicu konflik lama yang sudah berlangsung sejak 1989.
Kapolrestabes Makassar, Kombes Pol Arya Perdana, mengungkapkan konflik tersebut tak kunjung selesai dan terus diwariskan lintas generasi. Bahkan, sebagian besar pelaku yang terlibat masih berusia sangat muda.
"Itu ada dendam lama sejak tahun 1989. Yang terlibat sekarang ini rata-rata di bawah umur, ada yang 14, 13, bahkan 12 tahun. Mereka tidak main-main karena menggunakan panah busur, bom molotov, petasan, bahkan ada yang memakai senapan angin," kata Arya, Selasa (23/9/2025).
Dalam insiden terbaru, sedikitnya empat orang menjadi korban terkena panah busur. Selain itu, sejumlah kendaraan dan fasilitas warga ikut rusak. Polisi mencatat, para pelaku kerap memanfaatkan momen ketika situasi sepi dari pengawasan aparat untuk memulai bentrokan.
"Mereka melihat kondisi sepi dari polisi, lalu langsung tawuran. Kami sudah menempatkan anggota, tapi Senin malam saat kegiatan Ngopi Kamtibmas, tawuran kembali terjadi dari lorong sebelah," jelas Arya.
Polisi Curiga Ada Pihak yang Menggerakan
Lebih jauh, Arya menegaskan bentrokan yang terus berulang ini diduga bukan sekadar konflik spontan antarwarga. Polisi mencurigai adanya pihak yang sengaja mengorganisir bahkan membiayai aksi tersebut.
"Kami sudah petakan siapa saja aktor intelektual, karena ini tidak mungkin tidak ada yang membiayai. Petasan itu harganya Rp1 juta per buah dan dalam sehari bisa ditembakkan sampai 20 kali, berarti Rp20 juta. Senapan angin ini juga dari mana asalnya, kami masih mendalami," bebernya.
Menurut Arya, ada pihak tertentu yang ingin menciptakan kekacauan di Makassar. Karena itu, selain melakukan penyelidikan terhadap provokator, polisi juga menggandeng tokoh masyarakat, agama, dan adat untuk mencari solusi bersama.
"Ada orang-orang yang ingin membuat Makassar tidak aman. Kami berupaya meredam situasi dengan melibatkan semua pihak," tegasnya.
Arya pun mengingatkan peran orang tua agar lebih ketat mengawasi anak-anaknya. Ia menilai banyak pelaku tawuran yang masih di bawah umur rawan diperalat oleh pihak tak bertanggung jawab.
"Jangan sampai anak-anak diperalat. Saya juga mengimbau masyarakat agar tidak mendekat atau menonton lokasi tawuran, karena berisiko jadi korban," ujarnya.
Polrestabes Makassar kini menyiagakan puluhan personel di sejumlah titik rawan bentrokan. Meski begitu, Arya memastikan pihaknya akan mengambil langkah tegas terhadap para pelaku.
"Insyaallah kami akan melakukan tindakan tegas. Anggota sudah dua hari berjaga bergantian karena daerahnya luas. Sekarang kondisi berangsur kondusif," tutup Arya.