Liputan6.com, Manila - Polisi Filipina dilaporkan menangkap 49 orang yang diduga melempari petugas dengan batu, botol, dan bom molotov serta memblokir jalan dan jembatan yang dijaga ketat menuju istana presiden pada hari Minggu (21/9/2025), sementara aksi damai anti-korupsi berlangsung di ibu kota.
Melansir AP, kericuhan di luar pusat kekuasaan negara itu terjadi bersamaan dengan lebih dari 33.000 demonstran lain yang berkumpul di sebuah taman bersejarah dan monumen demokrasi di Manila. Mereka meluapkan kemarahan atas skandal korupsi yang melibatkan anggota parlemen, pejabat, dan pemilik perusahaan konstruksi yang diduga mengantongi keuntungan besar dari proyek pengendalian banjir di negara Asia Tenggara yang kerap dilanda badai dan topan ini.
Advertisement
Selama berjam-jam, sekitar 100 orang disebut mengamuk. Kepolisian Manila menuturkan, sebagian besar dari mereka membawa tongkat, sementara beberapa lainnya mengibarkan bendera One Piece dan mengangkat poster karton dengan slogan anti-korupsi. Kerusuhan itu menyebabkan sekitar 70 aparat terluka.
Polisi mengatakan mereka menembakkan gas air mata untuk membubarkan para penyerang, yang mencorat-coret dinding dengan grafiti, merobohkan tiang baja, memecahkan panel kaca, dan menjarah lobi sebuah penginapan murah di sepanjang jalan populer yang dipenuhi kampus universitas, bank, dan restoran sebelum bubar pada malam hari.
Beberapa jam setelah serangan itu, polisi masih belum dapat mengidentifikasi para pelaku, sebagian dari mereka membawa bendera hitam bergambar karikatur tengkorak dan tulang bersilang. Belum jelas apakah mereka sebelumnya ikut serta dalam aksi damai sebelum menuju kantor presiden. Tidak segera diketahui apakah Presiden Ferdinand Marcos Jr. berada di istana kepresidenan Malacanang saat kekacauan terjadi.
Polisi dalam pernyataannya setelah penangkapan menyebutkan bahwa situasi sudah terkendali. Mereka memperingatkan bahwa kekerasan dan vandalisme tidak akan ditoleransi.
Protes Melawan Korupsi
"Saya sedih karena kita hidup dalam kemiskinan, kehilangan rumah, nyawa, dan masa depan. Sementara itu, mereka justru meraup kekayaan besar dari pajak kita untuk membeli mobil-mobil mewah, berlibur ke luar negeri, dan melakukan transaksi korporasi besar," ujar aktivis mahasiswa Althea Trinidad kepada AP di Manila.
Trinidad tinggal di Bulacan, sebuah provinsi rawan banjir, tempat pejabat mengatakan sebagian besar proyek pengendalian banjir sedang diselidiki karena diduga bermutu rendah atau bahkan tidak ada.
"Tujuan kami bukan untuk melemahkan, melainkan memperkuat demokrasi," kata Kardinal Pablo Virgilio David, ketua Konferensi Waligereja Katolik Filipina, dalam pernyataannya.
Dia menyerukan kepada publik untuk berdemonstrasi dengan damai dan menuntut akuntabilitas.
Marcos pertama kali menyoroti skandal korupsi proyek pengendalian banjir itu pada Juli lalu dalam pidato tahunannya tentang keadaan negara.
Dia kemudian membentuk sebuah komisi independen untuk menyelidiki apa yang disebutnya sebagai penyimpangan dalam banyak proyek pengendalian banjir—sebanyak 9.855 proyek senilai lebih dari 545 miliar peso—yang seharusnya dilaksanakan sejak dia menjabat pada pertengahan 2022. Dia menggambarkan skala korupsi itu mengerikan dan menerima pengunduran diri menteri pekerjaan umumnya.
Kemarahan publik meledak ketika sepasang suami-istri kaya, yang menjalankan beberapa perusahaan konstruksi pemenang kontrak proyek pengendalian banjir bernilai besar, memamerkan lusinan mobil mewah Eropa dan Amerika Serikat yang mereka miliki dalam wawancara media. Koleksi itu termasuk sebuah mobil mewah asal Inggris seharga 42 juta peso yang mereka katakan dibeli karena disertai hadiah sebuah payung gratis.