Liputan6.com, Washington, D.C. - Sudah 50 tahun sejak laga tenis paling banyak ditonton dalam sejarah, duel antara antara ikon olahraga perempuan Billie Jean King dan mantan petenis nomor 1 dunia, Bobby Riggs, dikenal sebagai pria yang merasa superior terhadap perempuan.
Diperkirakan 90 juta penonton televisi di seluruh dunia menyaksikan pertandingan yang disebut "Battle of the Sexes" atau duel gender yang berlangsung di Houston Astrodome, Texas, Amerika Serikat, pada 20 September 1973, dilansir dari CNN, Sabtu (20/9/2025).
Advertisement
Riggs, mantan juara Wimbledon sekaligus sosok yang gemar mencari sensasi, kerap bertaruh di pertandingan tenisnya sendiri.
Ia lalu melihat peluang uang lebih besar dengan menantang dua petenis perempuan kelas atas, Billie Jean King (29 tahun) dan Margaret Court (31 tahun), meski usianya sudah 55 tahun.
Pemenang dijanjikan hadiah USD 100 ribu (Rp1,6 Miliar).
King awalnya mengabaikan tantangan itu, sementara Court menerimanya. Pertandingan pun digelar di California pada 13 Mei 1973. King mengatakan ia sempat berusaha meyakinkan Court tentang pentingnya laga tersebut.
"Saya bilang, 'Margaret, ini bukan soal tenis, ini tentang perubahan sosial, keadilan sosial, semua yang sedang kita perjuangkan,'" ujar King.
Namun Court tak sependapat.
"Dia tidak punya orientasi politik," tambah King.
Hasilnya, Court kalah telak 6-1, 6-2. Pertandingan itu kemudian dikenal sebagai "Mother's Day Massacre", julukan yang merujuk pada kekalahan memalukan di hari ibu.
King pun merasa khawatir.
"Saya cuma bisa berpikir, 'Aduh, jangan sampai begini,'" ujarnya.
Laga Penentuan
Setelah kekalahan Court, King berubah pikiran dan menerima tantangan Riggs. Pertandingan digelar 20 September 1973 di Houston Astrodome.
"Saya pikir, kalau saya kalah, itu akan membuat perjuangan kami mundur 50 tahun. Bisa menghancurkan tur tenis perempuan dan harga diri perempuan secara keseluruhan," kata King.
Promotor menjuluki laga itu sebagai "Battle of the Sexes", tayang di jam tayang utama televisi Amerika Serikat dan disiarkan ke seluruh dunia.
Masuknya para atlet ke arena juga penuh teatrikal. King datang dengan tandu emas ala Cleopatra, sementara Riggs menaiki becak yang ditarik model perempuan berbaju minim.
Begitu pertandingan dimulai, King tampil dominan dan mengalahkan Riggs dalam tiga set langsung: 6-4, 6-3, 6-3.
Menurut King, pemenang sejati sebenarnya bukan dirinya pribadi.
"Mengalahkan pria 55 tahun bukanlah hal yang istimewa bagi saya," ujarnya kemudian.
"Yang menyenangkan adalah bisa mengenalkan tenis ke begitu banyak orang baru."
Usai pertandingan, King dan Riggs berpelukan. Keduanya lalu menjalin persahabatan hingga Riggs meninggal pada 1995 karena kanker prostat. Surat kabar The Times Inggris menyebut kemenangan King sebagai "drop shot dan voli yang terdengar di seluruh dunia."
Perjuangan King
Jauh sebelum "Battle of the Sexes", King sudah dikenal sebagai pejuang hak perempuan.
Ia berperan besar dalam pembentukan Women’s Tennis Association (WTA) pada 1973, yang menjadi langkah penting bagi kesetaraan kesempatan dalam olahraga tenis.
"Itu memberi kami satu suara dan kekuatan untuk bernegosiasi," kata King kepada CNN.
Organisasi itu memastikan semua petenis perempuan bisa mencari nafkah dari tenis, bukan hanya atlet top.
King juga pernah mengancam boikot US Open 1973 jika hadiah juara tunggal putri tidak disamakan dengan juara tunggal putra.
"Tahun 1972 saya juara US Open dan dapat 10 ribu dolar AS, sementara Ilie Nastase sebagai juara putra dapat 25 ribu dolar AS. Saya tidak senang," ungkapnya.
"Kami tidak akan kembali tahun depan kecuali hadiahnya sama," ujar King pada konferensi pers saat itu.
Dalam hati ia mengaku sempat ragu.
"Apa yang sudah saya lakukan?" pikirnya.
Namun keberaniannya membuahkan hasil. Tahun 1973, US Open menjadi turnamen besar pertama yang memberikan hadiah setara bagi putra dan putri.
Perjuangan untuk menyamakan hadiah di semua Grand Slam akhirnya tuntas 34 tahun kemudian, saat Wimbledon menyusul pada 2007.
King menilai laga melawan Riggs menjadi titik penting dalam perjuangan kesetaraan olahraga perempuan. Namun, ia menegaskan perjuangan itu belum selesai.
"Masih banyak yang harus dilakukan dan saya belum selesai, tapi saya tahu waktu terus berjalan dan saya tidak suka itu," ujarnya. "Saya ingin melakukan lebih banyak."