Liputan6.com, Jakarta - Klarna, perusahaan fintech asal Swedia dan salah satu yang paling berharga di Eropa, tengah bersiap untuk melantai di bursa saham. Menariknya, perusahaan ini justru mengarahkan pandangan ke New York, bukan ke bursa Eropa.
Langkah tersebut mencerminkan tren global: Amerika Serikat dan Asia berhasil mendorong gelombang IPO, sementara Eropa justru tertinggal.
Advertisement
Dikutip daari CNBC, Senin (15/9/2025), hingga tahun ini, IPO di Amerika Utara berhasil mengumpulkan USD 17,7 miliar dari 153 transaksi. Sebaliknya, Eropa hanya mencatat USD 5,5 miliar dari 57 IPO, menurut data FactSet.
“Asia sangat aktif tahun ini dan menjadi motor penggerak,” kata Tommy Rueger, Global Co-Head Equity Capital Markets di UBS. Ia menambahkan, meski ada potensi di Eropa, sejauh ini Amerika Utara dan Asia Pasifik tetap mendominasi.
Kevin Foley, Kepala Pasar Modal Global JP Morgan, bahkan menyebut pasar Eropa saat ini “tidak bersemangat” dibanding AS yang diperkirakan masih akan mencatat lebih dari 30 IPO baru hingga akhir tahun.
Mengapa Pasar IPO Eropa Lesu?
Kelesuan IPO di Eropa membuat bursa saham, bank investasi, hingga calon emiten merasa khawatir. Proses IPO yang panjang—antara tiga hingga 12 bulan—sering kali terhambat oleh volatilitas pasar. Selama periode tersebut, perubahan tajam harga saham sejenis bisa langsung mengguncang valuasi dan minat investor.
Di sisi lain, kinerja indeks saham Eropa juga tertinggal. MSCI Prancis misalnya, hanya naik 4,5% sepanjang tahun ini. Bandingkan dengan AS, Tiongkok, dan Jepang yang mencapai rekor tertinggi baru berkat dorongan tren AI dan sentimen positif investor.
Bagi perusahaan private equity (PE) yang menjadi tulang punggung IPO Eropa, risiko penundaan atau kegagalan IPO membuat merger dan akuisisi terasa lebih aman. Hal ini semakin membatasi arus perusahaan menuju pasar publik.
Kualitas Jadi Penyaring Utama
Meski demikian, beberapa bankir menilai masalah utamanya bukan hanya kondisi pasar, melainkan juga ketersediaan perusahaan yang benar-benar siap.
“Pasar sekarang lebih selektif. Standarnya masih tinggi,” kata co-head ECM untuk EMEA Jefferies Luca Erpici. Menurutnya, hanya perusahaan dengan kualitas yang teruji yang bisa menarik minat investor publik.
Contohnya, EQT—salah satu PE terbesar di Eropa—berhasil mencatatkan Galderma, perusahaan perawatan kulit, pada 2024. Sahamnya kini melonjak lebih dari 125% sejak IPO, membuat EQT bisa melepas saham senilai CHF 5,3 miliar (USD 6,6 miliar).
Ke depan, prospek IPO global masih positif. Menurut platform transaksi Datasite, jumlah IPO yang direncanakan secara global naik 2% pada paruh pertama tahun ini dibanding periode yang sama tahun lalu, dengan potensi pengumuman transaksi baru dalam 6–9 bulan mendatang.
AS Lebih Menarik Karena Likuiditas dan Regulasi
Selain faktor kualitas emiten, aliran perusahaan dan modal kini makin deras mengalir ke AS. Andrejka Bernatova, sponsor SPAC yang baru saja membawa perusahaan aset digital The Ether Machine melantai lewat kesepakatan senilai USD 2,5 miliar, menegaskan bahwa dominasi AS bertumpu pada “kedalaman dan likuiditas.”
“Likuiditas adalah kunci. Jika tidak ada likuiditas perdagangan, status perusahaan publik tidak terlalu bernilai,” ujarnya.
Eropa sebaliknya menghadapi hambatan regulasi. Jika di AS semua bursa seperti NYSE dan Nasdaq berada di bawah satu payung pengawasan SEC, di Eropa regulasinya terfragmentasi karena masih diatur masing-masing negara. Kompleksitas inilah yang menambah friksi bagi investor maupun perusahaan.
Tidak Punya Pilihan
Bernatova menambahkan, industri masa depan yang padat modal—seperti kecerdasan buatan (AI) dan transisi energi—tidak punya pilihan selain masuk pasar AS demi menggalang puluhan hingga ratusan miliar dolar untuk ekspansi.
Namun, Erpici dari Jefferies menekankan bahwa bukan berarti Eropa tidak bisa. Menurutnya, perusahaan sekelas Klarna sebenarnya bisa sukses IPO di mana pun, termasuk di negara asalnya.
“Pencatatan di New York lebih soal optimalisasi hasil jangka panjang, bukan karena Eropa tidak memungkinkan,” ujarnya.