Liputan6.com, Jakarta Indonesia memiliki potensi energi terbarukan setara 3.700 GW dengan porsi terbesar berasal dari energi surya, hidro serta panas bumi. Di sisi lain, indonesia memiliki potensi pemanfaatan limbah dengan sistem waste to energy.
Sementara dalam ekosistem hutan, Indonesia tercatat sebagai pemilik hutan tropis terbesar ke-3 di dunia, serta ekosistem mangrove sebesar 3,3 juta hektar yang dapat berperan sebagai penyerap karbon.
Advertisement
Hal tersebut diungkapkan Direktur Utama IDSurvey Arisudono Soerono dalam Green Summit 2025. Menurut dia, potensi ini menjadi modal penting bagi Indonesia dalam transformasi hijau.
"Berbicara terkait cicular economy, potensi daur ulang, efisiensi sumber daya, serta green packaging dapat menjadi fokus dalam mekanisme pengelolaan sampah. Semua hal ini memposisikan indonesia dapat menjadikan tantangan menjadi peluang dalam ranah transformasi hijau,"kata dia, Kamis (11/9/2025).
IDSurvey menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi praktik bisnis hijau melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah stakeholders strategis, yakni Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan PT Wasteforchange Alam Indonesia (W4C)
Masih dalam rangkaian Green Summit 2025, IDSurvey menegaskan komitmennya dalam mendorong transformasi praktik bisnis hijau melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) dengan sejumlah stakeholders strategis, seperti Kementerian Lingkungan Hidup / Badan Pengendalian Lingkungan Hidup dan PT Wasteforchange Alam Indonesia (W4C).
"Kami memahami jalan menuju keberlanjutan dan transisi hijau tidaklah mudah. Implementasi yang belum merata, standar dan transparansi yang masih terbatas, serta meningkatkan kepercayaan berbagai pihak adalah tantangan lain yang tumbuh sejalan dengan implementasi keberlanjutan. Maka dari itu, kami tidak hanya membimbing, namun memverifikasi dan memastikan bahwa transisi hijau tidak hanya mungkin dilakukan, tapi terukur dan terpercaya," jelas dia.
Hal ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah untuk memperkuat ekosistem hijau nasional serta mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) dan NZE.
Bauran EBT Indonesia Tembus 16%, Tapi Target 23% Masih PR Besar
Sebelumnya, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Eniya Listiani Dewi menyampaikan, bauran energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia telah mencapai 16 persen.
Angka tersebut naik dari capaian di 2024 sekitar 14,6 persen. Namun untuk mencapai target bauran EBT 23 persen, Eniya menyebut masih banyak pekerjaan rumah yang perlu diberesi.
"Alhamdulillah terbaru saya bisa menjawab 16 persen. Jadi ini baru pertama mencapai 16 persen, dan 23 persen masih PR," kata dia di Jakarta, Kamis (11/9/2025).
Bauran 16 persen ini didapat berkat adanya penambahan kapasitas terpasang EBT sebesar 876,5 MW. Adapun total kapasitas terpasang EBT kini mencapai 15,2 GW, atau sekitar 14,5 persen dari total pembangkit nasional sebesar 105 GW.
"Jadi ada catatan COD (commercial operation date) yang tambahan dari panas bumi, lalu COD beberapa PLTS kecil, itu ada. Sehingga tambahannya bisa mencapai bau ran energy mix 16 persen," imbuh Eniya.
Ia pun bersyukur angka tersebut bisa dicapai, lantaran secara proyeksi awal campuran energi bersih 16 persen baru bisa digapai pada 2026. "Saya tuh prediksi minimumnya tuh tahun depan akhir. Ternyata Alhamdulillah bisa tercapai," ungkapnya.
Industri Masih Bergantung pada Energi Fosil
Hanya saja, eksekusi bauran EBT ini masih terbentur oleh sektor industri yang bergantung pada pemakaian energi fosil semisal dari batu bara dan juga minyak. "Gas kita lagi drilling kan, ini PR dari kementerian ESDM, SKK Migas itu juga menaikkan lifting migas," ucapnya.
Oleh karenanya, Eniya berharap akan adanya pembangkit listrik bersih lain yang COD di sisa akhir 2025 ini, baik dalam bentuk Mikrohidro (PLTMH) atau pembangkit listrik tenaga surya (PLTS).
"Mudah-mudahan (di akhir 2025) bisa 16,5 persen atau ke 17 persen. Mudah-mudahan COD-nya terealisasi," pungkas Eniya.