Momen Bupati Sudewo Muncul Ikut Rayakan Tradisi Meron di Tengah Ribuan Warga Pati

Kehadiran Bupati Sudewo dalam tradisi Meron sangat menarik perhatian banyak pihak. Sebab Sudewo tengah dihujat masyarakatnya sendiri, usai menantang tak gentar didemo ratusan warga.

oleh Arief PramonoDiperbarui 07 September 2025, 16:49 WIB
Bupati Pati Sudewo mendapat kawalan ketat dari polisi saat hadir di Tradisi Meron. (Liputan6.com/ Arief Pramono)

Liputan6.com, Pati - Tradisi Meron yang merupakan salah satu kearifan lokal di kaki Pegunungan Kendeng sejak Abad 17 silam, hingga kini masih dipertahankan oleh masyarakat Desa Sukolilo, Kecamatan Sukolilo, Kabupaten Pati Jawa Tengah.

Meski di tengah terik matahari yang menyengat pada Sabtu (6/9/2025), namun tak menyurutkan antusias masyarakat untuk melihat dan memeriahkan tradisi lokal yang telah ratusan tahun diselenggarakan.

Tradisi tahunan ini kembali dilaksanakan masyarakat di sepanjang jalan depan Balai Desa Sukolilo, untuk memperingati maulid Nabi Muhammad SAW.

Bahkan Tradisi Meron ini sudah ditetapkan sebagai Kekayaan Intelektual Komunal dari Kementerian Hukum dan HAM. Tak hanya itu, tradisi lokal warga Pati ini juga telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda sejak Tahun 2016 oleh Kemendikbud.

Rangkaian perayaan Tradisi Meron diawali dari prosesi Kepala Desa dan Perangkat Desa Sukolilo membawa meron atau gunungan yang di sepanjang jalan Sukilolo Pati. Sebanyak 12 gunungan meron dikirab dalam tradisi ini.

Sebutan Meron yang dikirab ini adalah berupa mahkota, gunungan dan ancak yang disusun menjulang hingga setinggi 3 meter.  

Di tengah mahkota juga dihiasi miniatur ayam jago dengan rangkaian bunga melingkar. Khusus gunungan meron untuk Modin (pemuka agama Islam, miniatur ayam diganti masjid.

Tokoh agama dan tokoh masyarakat desa setempat membuka rangkaian acara dengan melantunkan selawat dan ayat-ayat Al-Qur’an.

Setelah belasan meron ditaruh di sepanjang jalan di depan Masjid Nurul Yaqin sebagai lokasi panggung utama, prosesi dilanjutkan pembacaan sejarah tradisi meron dan ditutup dengan pembacaan doa.

Dari pantauan Liputan6.com di lokasi, agenda budaya dan pariwisata tahunan ini juga dihadiri Bupati Pati Sudewo yang datang bersama istrinya Atik Sudewo.

Kehadiran Bupati Sudewo ini sangat menarik perhatian banyak pihak. Sebab Sudewo tengah dihujat masyarakatnya sendiri, usai menantang tak gentar didemo ratusan warga.

Sikap arogan dan sombong Bupati Sudewo ini sempat memicu unjuk rasa yang berakhir anarkis pada 13 Agustus lalu. Bahkan masyarakat mendesak DPRD Pati membentuk Pansus Hak Angket Pemakzulan Bupati Pati yang tengah berjalan.

“Syukur Alhamdulillah kita bersama-sama menghadiri acara Meron Sukolilo ini dalam keadaan sehat. Acara Meron merupakan kekayaan budaya Kabupaten Pati, tidak hanya milik Kecamatan Sukolilo, tetapi juga milik Kabupaten Pati,” ucap Bupati Sudewo singkat.

Sementara itu, Kepala Desa Sukolilo Ahmad Amirudin mengaku berterima kasih kepada panitia dan masyarakat yang telah bersama-sama kompak menyukseskan acara Meron 2025.

“Untuk kendala ya kami butuh support dana dari Pemerintah Kabupaten. Karena ini kan aset kita bersama, tidak hanya Desa Sukolilo tetapi juga Kabupaten Pati,” tukas Amirudin.

Masyarakat yang hadir menyaksikan pagelaran Tradisi Meron kali ini diperkirakan mencapai belasan ribu.  ini bisa dimaklumi karena jumlah warga Sukolilo sendiri mencapai 12..683 jiwa.

 

Asal-usul Tradisi Meron

Masyarakat Sukolilo Pati antusias melihat tradisi Meron. (Liputan6.com/ Arief Pramono)

Dari penelusuran sejarah yang dilakukan berbagai pihak, tradisi Meron ini sudah ada sejak tahun 1627 Masehi. Saat itu, para prajurit Mataram Yogyakarta melintasi wilayah Sukolilo hendak bergegas kembali ke Yogyakarta.

Pasukan Kerajaan Mataram Yogyakarta ini berada di Sukolilo, usai berperang melawan Kadipaten Pati, yang kala itu dipimpin oleh Adipati Pragola.

Pasukan Mataram berkeinginan tiba kembali di Keraton Yogyakarta sebelum tanggal 12 Maulid untuk merayakan Tradisi Sekaten. Namun hingga tanggal 12 Maulid, ternyata mereka masih berada di wilayah Sukolilo.

Karena itu, mereka berinisiatif menggelar tradisi serupa dengan Sekaten di Sukolilo yang dinamakan Meron. Nama tersebut mempunyai makna “Mempere Keraton” (layaknya keraton) atau sama dengan tradisi keraton.

”Kalau di Mataram itu Sekaten. Kemudian mereka menggelar tradisi di sini dengan nama Meron,” ujar Sekretaris Panitia Meron Sukolilo Pati, Triyono.

Sejak itulah maka Tradisi Meron terus dilestarikan oleh masyarakat Desa Sukolilo. Mereka merayakan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW dengan membuat sejumlah gunungan. Gunungan Meron ini menjadi rebutan warga

 

Polisi Kawal Tradisi Meron

Kehadiran Bupati Pati Sudewo dalam agenda perayaan Tradisi Meron tentu membuat aparat Polresta Pati khawatir. Sebab orang nomor satu di Kabupaten Pati ini tengah mendapat dimosi tak percaya dari masyarakat yang dipimpinnya.

Tak ingin terjadi keributan dan peristiwa yang tak diinginkan di tengah ribuan warga Sukolilo, Polresta Pati menurunkan 105 personel gabungan dari berbagai satuan Polresta Pati.

Personel pengamanan ditempatkan di sejumlah titik rawan kemacetan dan kerumunan masyarakat.

“Kami sudah menyiapkan pola pengamanan sejak jauh-jauh hari agar puncak acara Tradisi Meron berjalan kondusif,” ujar Kapolsek Sukolilo AKP Sahlan mewakili Kapolresta Pati.

Kehadiran personel gabungan ini menunjukkan komitmen Polri  menjaga tradisi masyarakat. Sekaligus mengawal jalannya perayaan budaya yang telah diakui secara nasional.

Selain menjaga keamanan, personel kepolisian juga mengatur lalu lintas di sepanjang jalan penghubung antara Kabupaten Pati dengan Kabupaten Grobogan.

“Kami prioritaskan kenyamanan warga yang ingin menyaksikan rangkaian acara, jangan sampai ada gesekan atau insiden yang mengganggu,” terang Kapolsek.

Selama acara berlangsung, kepolisian juga menempatkan personel di dekat panggung utama dan lokasi gunungan. Hal itu dilakukan untuk menjaga keamanan tamu undangan dan tokoh masyarakat yang hadir. “

Kami memastikan semua rangkaian berjalan aman, baik bagi masyarakat umum maupun para pejabat daerah yang hadir,” imbuh AKP Sahlan.

Rekomendasi

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya