Liputan6.com, Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) melemah tipis dan cenderung stagnan pada penutupan perdagangan Kamis sore ini, meski sentimen global seharusnya mendukung penguatan. Para ahli ekonomi menyebutkan beberapa faktor, baik dari dalam maupun luar negeri, yang memengaruhi pergerakan mata uang Garuda ini.
Pada Kamis (4/9/2025), nilai tukar rupiah tercatat melemah 9 poin atau 0,05% menjadi Rp 16.425 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 16.416. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) dari Bank Indonesia juga melemah ke level Rp 16.438 per dolar AS.
Advertisement
Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan, pergerakan rupiah yang terbatas sejalan dengan sikap para investor yang menahan diri menjelang rilis data-data ekonomi penting dari AS.
"Rupiah melanjutkan tren pergerakan yang terbatas pada perdagangan hari Kamis, sejalan dengan investor yang mengantisipasi data ketenagakerjaan AS di hari Jumat (5/9/2025) dan juga antisipasi dari libur Maulid Nabi di hari Jumat (5/9/2025)," ujar Josua dikutip dari Antara.
Ia menambahkan, pasar tengah menunggu rilis data Purchasing Managers' Index (PMI) Jasa AS dan data ketenagakerjaan atau Non-Farm Payrolls (NFP) AS yang akan dirilis pada Jumat. Sementara itu, di dalam negeri, sentimen positif sempat muncul setelah demonstrasi mereda, membuat rupiah sempat menguat 0,43% week to week.
Josua memprediksi, jika data-data ekonomi AS menunjukkan adanya deflasi dan peningkatan angka pengangguran, rupiah berpotensi menguat pada pekan depan. Ia memperkirakan, nilai tukar rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.325 hingga Rp16.450 per dolar AS.
Tekanan dari Kebijakan Dalam Negeri
Di sisi lain, Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memiliki pandangan berbeda. Ia menilai pelemahan rupiah utamanya disebabkan oleh tekanan di pasar obligasi pemerintah.
Menurutnya, hal ini merupakan dampak dari rencana Bank Indonesia (BI) untuk melakukan sharing burden (pembagian beban bunga) dalam penyerapan obligasi negara.
Obligasi ini digunakan pemerintah untuk membiayai program-program strategis, seperti makan bergizi, rumah subsidi, kesehatan, dan pendidikan.
"Sementara itu, faktor global seharusnya mendukung penguatan rupiah seiring meningkatnya ekspektasi penurunan suku bunga The Fed bulan ini," kata Rully.