Liputan6.com, Jakarta - CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, yang datang langsung dari Singapura untuk memeluk keluarga ojol yang tewas akibat dikeroyok massa di Makassar, menuai perhatian para pembaca di kanal Tekno Liputan6.com, Senin (1/9/2025).
Berita lain yang juga populer datang dari chatbot 'mesum' berwajah Taylor Swift hingga Scarlett Johansson yang muncul di platform Meta tanpa izin.
Advertisement
Lebih lengkapnya, simak tiga berita terpopuler di kanal Tekno Liputan6.com berikut ini.
1. Datang dari Singapura, CEO Grab Anthony Tan Peluk Keluarga Ojol Tewas Dikeroyok Massa di Makassar
Tangis duka masih menyelimuti rumah keluarga Rusdamdiansyah alias Dandi (25), mitra pengemudi ojek online (ojol) yang meregang nyawa usai dikeroyok massa saat kericuhan di Kota Makassar.
Di tengah suasana haru itu, CEO dan Co-Founder Grab, Anthony Tan, datang langsung dari Singapura untuk memeluk keluarga dan menyampaikan belasungkawa pada Senin (1/9/2025).
“Tidak banyak yang bisa saya katakan, selain perlindungan terdalam terhadap keluarga. Tidak ada yang pantas mengalaminya,” ucap CEO Grab dengan suara bergetar.
“Dandi bersama kami selama 7 tahun. Ia bukan hanya mitra baik, tetapi juga pribadi hangat dan penuh semangat. Kami sangat berduka kehilangan orang sebaik dia,” tambahnya.
Anthony menegaskan, kehadirannya di rumah duka bukan sekadar formalitas, melainkan wujud nyata komitmen Grab untuk berdiri bersama mitra. Ia memastikan keluarga yang ditinggalkan tidak akan berjalan sendirian.
2. Chatbot 'Mesum' Berwajah Taylor Swift hingga Scarlett Johansson Muncul di Platform Meta Tanpa Izin!
Meta dinilai telah menjadi sarang bagi chatbot Artificial IntelIigence (AI) ilegal yang secara spesifik meniru identitas para selebriti ternama tanpa izin.
Mengutip Variety, Senin (1/9/2025), nama-nama besar seperti Anne Hathaway, Taylor Swift, dan Scarlett Johansson termasuk di antara figur publik yang citranya dieksploitasi untuk interaksi tak senonoh.
Exploitasi yang dimaksud adalah melakukan pendekatan genit, hingga rayuan bernada seksual (mesum) secara rutin, ditujukan kepada para penggunanya.
Puncaknya, teknologi ini mampu menghasilkan gambar photorealistic (foto palsu buatan AI) yang menunjukkan gambar tak senonoh dari para korban.
Praktik mengkhawatirkan ini pertama kali diungkap ke publik melalui sebuah laporan investigasi mendalam yang dirilis oleh kantor berita Reuters.
Menanggapi temuan tersebut, pihak Meta mengonfirmasi telah mengambil tindakan dengan menghapus belasan chatbot AI yang terbukti melanggar aturannya.
Namun, terjadinya insiden ini menyoroti kelemahan sistem pengawasan internal Meta terhadap pengembangan dan penyebaran teknologi kecerdasan buatan mereka.
3. Studi: Ribuan Satelit Merusak Keindahan Langit Malam
Lonjakan jumlah satelit aktif yang mengelilingi Bumi kini menjadi masalah yang serius bagi para astronom dan pengamat langit.
Jumlah satelit yang terus meningkat sekarang lebih dari 12.000 satelit. Angka ini hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan kurang dari tiga tahun lalu.
Jika terus dibiarkan, hal ini dapat mengganggu pemandangan langit malam dan merusak foto-foto yang diambil teleskop.
Mengutip Gizmodo, Senin (1/9/2025), sebuah studi ilmiah terbaru yang diterbitkan di server arXiv menemukan bahwa sebagian besar konstelasi satelit, termasuk yang dioperasikan oleh perusahaan besar seperti SpaceX, melebihi batas kecerahan yang ditetapkan oleh International Astronomical Union (IAU).
Temuan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan industri luar angkasa sering dilakukan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap pengamatan kosmik.
Perkembangan kondisi ini bisa menimbulkan kekhawatiran yang lebih besar di kalangan ilmuwan yang ingin menjaga keaslian dan keindahan langit malam bagi generasi mendatang.