Liputan6.com, Jakarta Serangkaian gempa Bekasi, Jawa Barat dari Rabu malam (20/8/2025) sampai Kamis pagi (21/8/2025) ternyata akibat Sesar Baribis melepaskan energi. PVMBG mengungkapkan, Sesar Baribis ini sudah lama 'tertidur' dan tidak melepaskan energinya.
Sesar Baribis ini membentang dari Kabupaten Purwakarta sampai perbukitan Baribis di Kabupaten Majalengka dengan panjang sekitar 100 kilometer.
Advertisement
Sesar ini tercatat melepaskan energinya dalam bentuk gempa bumi berkekuatan M 7,0 di Bogor tahun 1834 dan gempa bumi M 5.8 di Karawang tahun 1862.
"Gempa susulan cukup banyak karena sesar tersebut sudah lama tidak rilis energi. Sehingga sekarang sedang dilepas. Tidak apa-apa, gempa susulan pasti lebih kecil dari gempa utama," ujar Koordinator Mitigasi Gempa Bumi PVMBG Badan Geologi Kementerian ESDM Supartoyo saat dihubungi Liputan6, Kamis (21/8/2025).
Sesar Terpanjang di Pulau Jawa
Sesar Baribis atau Patahan Baribis adalah sesar aktif yang membentang dari timur hingga barat pulau Jawa. Sesar Baribis merupakan sesar terpanjang di Pulau Jawa.
Sesar ini melintasi selatan Indramayu, sisi barat Subang dan Purwakarta, Cirebon, Karawang, Cibatu (Bekasi), Depok, Jakarta hingga Tangerang dan Rangkasbitung.
Keberadaan Sesar ini masih menjadi dugaan bahkan disebut-sebut sebagai ancaman besar bagi Jakarta. Sesar ini membentang sepanjang 25 Km di Jakarta Selatan.
Nama Baribis diambil dari nama Perbukitan Baribis di daerah Kadipaten, Majalengka, Jawa Barat. Sesuai namanya, Sesar Baribis membentang dari Kabupaten Purwakarta sampai perbukitan Baribis di Kabupaten Majalengka dengan panjang sekitar 100 kilometer.
Gempa Bekasi Akibat Sesar Baribis
Diketahui, gempa berkekuatan magnitudo 4,9 di sekitaran Bekasi, Karawang, Purwakarta Jawa Barat hingga terasa di Jakarta Rabu malam, diakibatkan oleh aktivitas Sesar Baribis ini.
Kepala Badan Geologi Kementerian ESDM Muhammad Wafid menjelaskan, lokasi pusat gempa bumi yang terletak pada koordinat 6,52° LS – 107,25° BT di Tenggara Kabupaten Bekasi tersebut, berada di darat dengan morfologi wilayah terdekat didominasi oleh dataran, berombak, bergelombang, hingga pegunungan.
Litologi penyusun wilayah ini terdiri atas batuan sedimen berumur Tersier, batuan gunung api berumur kuarter, serta endapan aluvium berumur Resen. Batuan yang telah mengalami pelapukan dan/atau sedimen permukaan berpotensi memperkuat guncangan gempa bumi.
"Secara umum, kekerasan batuan permukaan dipengaruhi oleh umur dan jenis batuan. Batuan yang berumur lebih muda atau yang telah mengalami pelapukan mempunyai kekerasan lebih rendah begitu juga sebaliknya," ujarnya.
Berdasarkan data tapak lokal (Vs30), wilayah terdekat dengan pusat gempa bumi diklasifikasikan ke dalam kelas tanah C (Tanah Sangat Padat dan Batuan Lunak), kelas tanah D (Tanah Sedang), dan kelas tanah E (Tanah Lunak).
"Keberadaan kelas tanah yang lebih lunak ini berarti bahwa potensi guncangan gempa bumi di area tersebut bisa terasa lebih intens," ucapnya.
Dampak Getaran Gempa
Berdasarkan informasi yang diterima, gempa bumi ini dirasakan dengan intensitas III-IV MMI (Modified Mercalli Intensity) di Bekasi, dan III MMI di Purwakarta, Jakarta, Depok, Cikarang, dan Bandung. Daerah ini terletak pada Kawasan Rawan Bencana Gempa Bumi Menengah.
"Kejadian gempa bumi ini tidak menyebabkan tsunami karena lokasi gempa bumi berpusat di darat," katanya.
Masyarakat, ujar dia, diimbau untuk tetap tenang, mengikuti arahan serta informasi dari petugas BPBD setempat, tetap waspada dengan kejadian gempa bumi susulan, serta jangan terpancing oleh isu yang tidak bertanggung jawab mengenai gempa bumi dan tsunami.
Kemudian diharapkan melakukan pemeriksaan mandiri terkait kondisi bangunan setelah terjadi gempa bumi dan mengamati dan mematuhi rambu evakuasi.
"Masyarakat diimbau menjauhi daerah tebing yang berpotensi terjadi gerakan tanah, terutama saat terjadi hujan," ujarnya.
Wafid mengatakan pula, kejadian gempa bumi ini diperkirakan tidak diikuti oleh bahaya ikutan, seperti retakan tanah, penurunan lahan, likuefaksi dan longsoran. Oleh karena itu masyarakat tidak perlu khawatir.
Kemudian bangunan di daerah rawan gempa bumi diharapkan dapat mengikuti kaidah bangunan tahan gempa, guna menghindari risiko kerusakan, serta dilengkapi dengan jalur evakuasi.