Liputan6.com, Jakarta - Puluhan pengemudi taksi daring atau taksi online diduga mejadi korban orderan fiktif. Peristiwa itu terjadi di Jalan Haji Asmar, Cipulir Jakarta Selatan (Jaksel).
Kejadian order fiktif ini viral di media sosial usai rekaman diunggah salah satu akun media sosial Instagram. Terlihat, deretan mobil antre untuk putar balik.
Advertisement
Nampak seorang pria bertelanjang dada membantu sopir-sopir yang hendak putar balik. Disebutkan, ada sekitar 85 unit taksi online yang sejak dini hari hingga siang bolak-balik mencari penumpang atas nama Hendro.
Kapolsek Pesanggrahan AKP Seala Syah Alam menangggapi unggahan tersebut. Menurut dia, pihaknya sedang mendalami kebenaran video dugaan orderan fiktif itu.
"Terkait berita viral tersebut kami akan dalami," ujar Seala dalam keterangannya, Selasa (19/8/2025)
Seala menyarankan, kepada sopir taksi daring atau taksi online yang menjadi korban untuk menyambangi kantor polisi agar kejadian serupa tak terulang kembali dikemudian hari.
"Jika ada korban yang bisa ke Polsek untuk membuat laporan agar kami bisa segera tindak lanjuti, agar tidak bertambah korban lainnya," tandas Seala.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan, berbagai modus penipuan digital membuat masyarakat merugi hingga Rp 4,6 triliun sejak berdirinya Indonesia Anti-Scam Center (IASC) pada November 2024.
Angka kerugian itu tercatat hanya dalam kurun waktu kurang dari setahun, jauh lebih besar dari perkiraan awal.
Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan fenomena ini menjadi alarm keras.
"Scam kini tidak hanya menjerat masyarakat dengan pendidikan rendah, tetapi juga menyasar kalangan profesional, bahkan pejabat," ujarnya dalam Kampanye Nasional Berantas Scam dan Aktivitas Keuangan Ilegal di Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Dalam kampanye ini, OJK menggandeng pihak lain seperti Otoritas, Kementerian, dan Lembaga yang bergabung dalam Satgas PASTI dan didukung oleh asosiasi industri terkait.
Ribuan Modus, Ratusan Ribu Rekening Terlibat
Sejak beroperasi, IASC telah menerima 225 ribu laporan penipuan digital. Dari jumlah itu, 72 ribu rekening berhasil langsung diblokir, dan total 359 ribu rekening teridentifikasi terlibat aktivitas scam.
Setiap hari, pusat aduan ini menerima 700–800 laporan kasus, jauh di atas Singapura yang rata-rata hanya mencatat 140–150 laporan harian.
Berbagai modus digunakan pelaku untuk menjerat korban. Mulai dari love scam dengan pendekatan emosional, lowongan kerja palsu yang menjanjikan gaji tinggi, phishing melalui aplikasi perbankan, hingga penipuan di marketplace dan aset kripto.
Celah digital ini terus dimanfaatkan scammer dengan mengadaptasi tren terbaru.
Menurut Friderica, masyarakat Indonesia memang sudah aktif menggunakan layanan digital, tetapi literasi keuangan digital masih rendah. Hal ini membuat banyak orang rentan menjadi korban.
OJK menekankan bahwa bukan hanya masyarakat yang harus waspada, tetapi juga perbankan, fintech, perusahaan efek, hingga marketplace perlu ikut bertanggung jawab dalam melindungi konsumen.
"Kebanyakan korban melapor karena tidak sengaja transfer, terkena rayuan love scam, atau terjebak tawaran kerja palsu. Semua kasus ini ditangani IASC yang merupakan bagian dari satgas bersama," jelas Friderica.
OJK: Aduan 225 Ribu Penipuan Masuk, 72 Ribu Rekening Berhasil di Blokir
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat sejak diluncurkan pada November tahun lalu, Indonesia Anti-Scam Center (IASC) telah menerima 225 ribu laporan dari masyarakat. Dari jumlah itu, tercatat 72 ribu rekening bank berhasil diblokir secara langsung untuk menghentikan aliran dana hasil kejahatan.
"Jumlah laporan yang diterima 225 ribu laporan, jumlah rekening yang langsung kita blokir 72 ribu, kemudian yang dilaporkan rekeningnya 359 ribu rekening. Ini sangat miris," kata Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Perlindungan Konsumen OJK, Friderica Widyasari Dewi, dalam acara Kampanye Nasional Berantas Scam dan Aktivitas Keuangan Ilegal, di Hotel Raffles Jakarta, Selasa (19/8/2025).
Perempuan yang akrab disapa Kiki menyampaikan peran IASC sangat penting untuk melindungi masyarakat. Jumlah rekening yang dilaporkan lebih besar lagi, mencapai 359 ribu rekening.
Namun, pemblokiran baru bisa dilakukan setelah proses verifikasi bersama pihak perbankan. Hal ini menunjukkan betapa luasnya jaringan penipuan yang beroperasi di Indonesia.
Menurut Friderica, lonjakan aduan juga mengindikasikan kesadaran masyarakat untuk melapor semakin meningkat.
Meski demikian, ia menekankan pentingnya kecepatan pelaporan agar dana yang raib bisa segera dibekukan.
"Terus yang menarik juga ya, menarik dalam arti sedih juga ya, sehari itu IASC menerima itu adalah 700-800 laporan, ini angkanya jauh lebih tinggi, mungkin di Singapura sekitar 140-150, mungkin dia akan berbagi dengan kita. Tapi di Indonesia itu 700-800 aduan setiap hari, padahal ini baru belum semua masyarakat tahu bagaimana mengadu," ujarnya.